Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Teguran Keras di Ruang Rapat Eksekutif

Pukul 09.00 pagi tepat, ruang rapat eksekutif di lantai atas gedung perkantoran pusat memancarkan atmosfer yang begitu dingin, kaku, dan penuh tekanan psikologis. Di bawah sorot lampu putih lampu downlight, Alma berdiri tegak di hadapan meja marmer panjang tempat para dewan direksi duduk bersidekap dengan ekspresi wajah tanpa ampun. Mata Alma tampak memerah legam, menampakkan guratan urat halus akibat tidak tidur semalaman penuh demi merampungkan proposal pemulihan proyek logistik yang hancur karena pemboboran server tempo hari. Napasnya masih memburu, menyisakan sisa-sisa kepanikan malam sebelumnya di pelabuhan dan rumah sakit, namun ia memaksakan diri berdiri tegap mengenakan blazer abu-abunya yang sedikit kusut. Di hadapannya, setumpuk dokumen setebal seratus halaman tersusun rapi, berisi kalkulasi presisi, rumus efisiensi, dan timeline ketat yang ia susun detik demi detik tanpa jeda. Ia merasa telah memberikan segalanya—tenaga, pikiran, bahkan kewarasannya—demi menyelamatkan perusahaan dari jurang kebangkrutan operasional yang direncanakan oleh para pengkhianat di dalam sistem.

"Silakan jelaskan angka-angka di halaman empat puluh ini, Nona Alma," ucap Pak Baskoro selaku komisaris utama dengan nada suara datar namun menusuk tulang.

"Halaman empat puluh memuat proyeksi percepatan waktu pengiriman jalur utara yang dipotong tiga hari lebih cepat menggunakan sistem pemantauan terenkripsi baru," jelas Alma dengan suara sedikit parau namun tetap tegas.

Namun, alih-alih mendapatkan apresiasi atau pengakuan atas dedikasi luar biasa yang ia pertaruhkan semalaman, sang atasan justru menatapnya tajam bagai mata pisau yang siap mengoyak pertahanan terakhirnya. Pak Baskoro mendengus pelan, menutup dokumen proposal tersebut dengan bunyi brak yang menggema di seluruh ruang rapat yang sunyi. Teguran keras langsung meluncur dari bibir pria tua itu tanpa saringan belas kasihan sedikit pun, menghantam wajah Alma telak di hadapan seluruh jajaran direksi. Proposal pemulihan yang ia susun dengan cucuran keringat dan air mata itu dinilai terlalu kaku, naif, mengabaikan realitas politik birokrasi antarnegara, serta menunjukkan tanda-tanda kelelahan mental yang akut dan membahayakan keputusan strategis korporat. Waktu seolah menampar wajah Alma secara nyata; usahanya yang habis-habisan hingga mengorbankan kesehatan dan keselamatan jiwanya justru membawanya mundur selangkah ke belakang dalam karier yang selama ini ia banggakan setengah mati.

"Proposal ini sampah birokratis, Alma! Kau mengabaikan regulasi bea cukai pelabuhan internasional demi mengejar kepuasan pribadimu pada angka-angka mati!" bentak Pak Baskoro lantang.

"Tapi proposal ini adalah satu-satunya cara matematis untuk menutup celah kerugian perusahaan, Pak!" sanggah Alma dengan mata berkaca-kaca menahan amarah.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma di balik pemaparan proposal tersebut sebenarnya sangat mulia sekaligus mendesak: membuktikan integritas profesionalismenya yang difitnah lewat dokumen fiktif, menyelamatkan posisi jabatannya dari ancaman pemecatan sepihak, sekaligus merebut kembali kendali penuh atas divisi operasional yang coba direbut oleh para penyusup. Tujuannya adalah meyakinkan dewan direksi bahwa dirinya tidak bersalah atas kebocoran data, melainkan korban dari sabotase internal yang dilakukan oleh orang-orang terdekat di dalam gedung tersebut. Alma mengepalkan kedua tangannya di balik meja rapat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan untuk meredam gemetar di tubuhnya yang sudah kehabisan cadangan tenaga. "Saya mohon tinjau kembali lampiran bukti digital di bagian belakang, Bapak dan Ibu sekalian," ucap Alma dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, mencoba mengembalikan fokus para direktur pada substansi pembelaan dirinya. Target utamanya pagi ini adalah membatalkan surat peringatan keras yang sempat dilayangkan manajemen, memulihkan nama baiknya, dan mendapatkan kembali akses penuh ke peladen utama sebelum siang hari menjelang. Ia tidak boleh terlihat runtuh di hadapan orang-orang yang ingin melihatnya hancur; setiap detik di dalam ruang rapat itu adalah medan perang hidup dan mati bagi kelanjutan karier korporat yang telah ia bangun di atas reruntuhan masa lalunya.

"Bukti digital yang kau berikan bisa saja dimanipulasi oleh siapa pun yang memiliki akses ke ruang kerjamu, Alma," sela seorang direktur keuangan lain dengan senyum sinis yang disembunyikan di balik cangkir kopi.

"Saya memiliki metadata asli yang tidak bisa dipalsukan, dan saya siap mempertanggungjawabkannya secara hukum!" balas Alma cepat, tatapan matanya menyalang tajam kepada sang direktur keuangan tersebut.

Tujuannya pagi ini bukan sekadar mencari pembenaran, melainkan membuka kedok pengkhianat yang duduk di ruangan yang sama dengannya. Ia tahu betul bahwa wakil direktur keuangan yang hadir di meja rapat itu adalah orang yang sama yang mengirimkan pesan ancaman malam tadi dan menyusupkan dokumen fiktif. Namun, teguran keras Pak Baskoro sebelumnya membuat posisi tawar Alma berada di titik terendah; dewan direksi tampaknya lebih memilih menyelamatkan nama baik perusahaan ketimbang mendengarkan pembelaan emosional dari seorang manajer yang dianggap sudah kehilangan keseimbangan psikologis akibat kelelahan bekerja.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana di ruang rapat eksekutif itu berubah drastis dari ketegangan debat terbuka menjadi keheningan yang menghina ketika Pak Baskoro memutuskan untuk menskors sidang pleno tersebut selama satu jam ke depan. Para anggota dewan direksi beranjak dari kursi mereka satu per satu, meninggalkan Alma sendirian berdiri di hadapan meja marmer yang dingin tanpa ada seorang pun yang sudi menepuk pundaknya atau sekadar memberikan segelas air putih. Pergeseran waktu menuju pukul 10.00 pagi membawa transisi batin yang sangat menyakitkan bagi Alma; benteng pertahanan mental yang ia bangun bertahun-tahun kini runtuh berkeping-keping tanpa sisa. Ia melangkah perlahan keluar dari ruang rapat menuju koridor samping yang menghadap langsung ke arah jendela kaca besar, menatap pemandangan kota metropolitan di bawah sana yang tampak kabur oleh genangan air mata di pelupuk matanya. Transisi dari seorang manajer ambisius yang dipuja-puja menjadi seorang pesakitan yang dicurigai oleh perusahaannya sendiri menciptakan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya. Ia menyandarkan punggungnya yang lemas pada dinding kaca dingin, membiarkan napasnya yang sesak menemukan ritmenya kembali di tengah kesunyian lantai atas.

"Kau terlalu memaksakan diri, Alma," suara Reno tiba-tiba terdengar lembut dari arah pintu penghubung koridor. Sahabat setianya itu berjalan mendekat sambil membawa segelas air mineral dingin.

Lihat selengkapnya