
Pukul 15.15 sore, terik matahari kota metropolitan mulai melunak, menyisakan bias jingga yang memantul di kaca-kaca jendela kedai kopi tempat Alma biasanya menghabiskan waktu singkat di sela-sela jadwal kerjanya yang padat. Alih-alih membiarkan wanita itu kembali tenggelam dalam rutinitas korporat yang mematikan dan nyaris merenggut kewarasannya, Aldo mengambil keputusan paling nekat dalam lembaran hidupnya. Tanpa meminta izin, tanpa menyusun rencana taktis layaknya para direktur perusahaan, dan tanpa memedulikan status spreadsheet atau jadwal rapat penting yang menanti Alma di kantor, Aldo melangkah mantap masuk ke dalam kedai. Sebelum Alma sempat membuka mulut atau melayangkan protes, pria berjaket denim itu langsung membopong tubuh Alma keluar dari kedai dengan sigap di hadapan para pengunjung yang terperangah. Sebelum wanita itu sempat berontak, Aldo telah mendudukkannya dengan cepat di kursi penumpang mobil pickup tua miliknya, lalu membanting pintu dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, melaju kencang meninggalkan hiruk-pikuk kota yang menyesakkan. Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan menandakan dimulainya sebuah pelarian liar yang sama sekali tidak memiliki agenda pasti.
"Aldo! Kau sudah gila, ya?! Turunkan aku sekarang juga! Jadwal rapat direksi pengganti akan dimulai sepuluh menit lagi!" seru Alma setengah berteriak, napasnya memburu akibat kaget bercampur marah.
"Biarkan para direktur itu menunggu untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupmu, Alma," balas Aldo tenang, kedua tangannya memegang kemudi mobil pickup dengan mantap sambil melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya.
"Kau tidak mengerti! Dokumen keuangan kuartal ini ada di laptopku, dan posisiku di perusahaan sedang di ujung tanduk!" protes Alma lagi, mencoba meraih pintu mobil yang sengaja dikunci dari sentral kemudi oleh Aldo.
"Yang sedang di ujung tanduk itu bukan kariermu, Alma, tapi kewarasanmu," jawab Aldo tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depan.
Di dalam kabin mobil pickup yang berdebu dan beraroma khas kopi serta bensin lama itu, dunia korporat yang kejam perlahan-lahan tertinggal di belakang, digantikan oleh deru angin sore yang masuk melalui jendela mobil yang terbuka setengah.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Aldo melakukan tindakan nekat tersebut sangatlah sederhana namun mendalam: menyelamatkan Alma dari lingkaran setan eksploitasi korporat yang perlahan-lahan merusak jiwa dan raga wanita yang paling ia pedulikan itu. Tujuannya adalah merenggut Alma dari cengkeraman gedung-gedung beton bertingkat yang menuntut kesempurnaan tanpa kenal lelah, serta memberinya waktu dan ruang untuk bernapas tanpa bayang-bayang angka, grafik, dan ancaman sindikat. Aldo ingin membuktikan bahwa hidup tidak akan berhenti berputar hanya karena seorang manajer eksekutif melewatkan satu sesi rapat daring. "Kau butuh istirahat total, Alma. Bukan tambahan laporan laba rugi yang membuatmu terlihat seperti mayat hidup," batin Aldo penuh keyakinan. Target utamanya sore ini adalah membawa Alma jauh dari pusat kota, menuju tempat paling sunyi di ujung pesisir utara di mana deburan ombak bisa menenangkan gemuruh di dada wanita tersebut. Ia tidak peduli jika tindakan kriminal kecil ini membuatnya harus berurusan dengan polisi kantor Alma; yang ia pedulikan hanyalah melihat kilatan hidup kembali terpancar di mata mantera wanita di sampingnya.
"Kenapa kau harus berbuat nekat seperti ini, Aldo? Hidupku sudah cukup rumit tanpa harus ditambah dengan penculikan konyol ini," ucap Alma dengan nada suara yang sedikit melunak, meski raut wajahnya masih menyembunyikan kekesalan yang mendalam.
"Karena kalau aku tidak melakukannya hari ini, besok lusa kau mungkin sudah pingsan di meja kantormu dan tidak pernah bangun lagi," jawab Aldo tanpa keraguan sedikit pun dalam suaranya.
Tujuan besar Aldo bukanlah menantang otoritas perusahaan, melainkan menyadarkan Alma bahwa harga diri seorang manusia tidak diukur dari seberapa banyak spreadsheet yang berhasil ia selesaikan dalam semalam. Sembari membelokkan kendaraan ke jalur alternatif yang jarang dilalui truk besar, Aldo bertekad untuk menjadi dinding pelindung yang akan menahan segala badai yang mencoba merobohkan ketenangan jiwa Alma. Target itu kini menjadi satu-satunya kompas yang menuntun arah perjalanan mereka menjauhi gedung-gedung pencakar langit.
❖ ❖ ❖
Transisi suasana di dalam kabin mobil pickup tua itu bergeser perlahan seiring dengan bertambahnya jarak antara mereka dengan pusat kota metropolitan yang padat merayap. Gedung-gedung tinggi berbalut kaca dan baja perlahan-lahan memudar, digantikan oleh pemandangan deretan pohon kelapa di pinggir jalan dan hamparan ladang hijau yang luas. Pergeseran waktu menuju pukul 15.30 sore membawa transisi batin yang sangat drastis bagi Alma; kemarahan yang tadinya membara di dalam dadanya perlahan-lahan meleleh digantikan oleh kelelahan fisik yang teramat sangat. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran jok mobil yang keras, membiarkan matanya terpejam sejenak untuk meredakan denyut nyeri di pelipisnya. Transisi dari atmosfer ruang rapat eksekutif yang dingin dan penuh tekanan menuju keheningan jalanan pedesaan menciptakan ruang kosong di dalam kepala Alma—sebuah ruang hampa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan karena selalu diisi oleh jadwal kerja yang ketat. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara sore yang jauh lebih segar ketimbang sirkulasi udara AC kantor yang steril.
"Kau lelah sekali, ya?" tanya Aldo dengan suara yang jauh lebih lembut, menyadari perubahan postur tubuh Alma di sampingnya.