Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Pagi Tanpa Alarm dan Hamparan Pasir Putih

Pukul enam pagi keesokan harinya, sinar matahari keemasan menyembul malu-malu di balik garis horizon timur, memantulkan kilau terang di atas permukaan air laut yang membentang luas tanpa batas. Di sebuah beranda pondok kayu sederhana milik nelayan lokal yang berdiri kokoh di atas tiang-tiang pancang kayu di tepi pantai terpencil—sebuah tempat peristirahatan jauh dari kebisingan kota yang disewa khusus oleh Aldo—suasana terasa begitu damai dan hening. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun penuh keteraturan, Alma terbangun tanpa jeritan melengking dari alarm ponsel yang biasanya setia membangunkannya tepat pukul 04.30 pagi. Tidak ada dering digital yang mengejutkan, tidak ada jadwal harian yang berbaris rapi di kepala, dan tidak ada ketakutan terlambat yang langsung memacu detak jantungnya begitu ia membuka mata.

Alma mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan diri dengan bias cahaya pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah dinding bilik bambu pondok. Ia merentangkan tangannya ke atas kepala, merasakan otot-otot tubuhnya yang biasanya tegang kini terasa begitu longgar dan rileks. Saat ia secara otomatis hendak melirik pergelangan tangan kirinya untuk mengecek waktu—sebuah kebiasaan refleks birokratis yang sudah mendarah daging—gerakannya terhenti seketika. Pergelangan tangannya terasa begitu ringan, hampa, dan aneh.

"Mencarinya?" sebuah suara lembut terdengar dari ambang pintu dapur pondok.

Alma menoleh dan mendapati jam tangan bermerek mahal miliknya tergeletak bisu di atas meja kayu usang di sudut ruangan, jarum detiknya sudah berhenti berputar karena kehabisan daya. Di hadapannya, Aldo berdiri mengenakan kaos katun putih longgar dan celana pendek pantai, membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat beruap tipis dan sepiring biskuit kelapa tradisional. Pria itu melangkah mendekat dengan senyuman hangat yang tidak pernah dilihat Alma sebelumnya, memancarkan ketenangan mutlak yang membuat udara pagi itu terasa semakin istimewa.

"Jam tanganku... mati," bisik Alma pelan, menatap benda penunjuk waktu yang selama ini menjadi penguasa mutlak atas hidupnya.

"Bukan mati, Alma, tapi sedang beristirahat—sama seperti pemiliknya," ucap Aldo tenang, meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil dekat kursi rotan tempat Alma duduk. Ia menarik sebuah kursi pendek, lalu duduk bersila menghadap Alma. "Selamat pagi. Bagaimana rasanya bangun tidur tanpa harus dikejar-kejar detik?"

Alma terdiam sejenak, meresapi sensasi asing yang menyelimuti sekujur tubuhnya. "Rasanya... aneh. Seolah ada bagian dari diriku yang hilang, tapi di saat yang sama, dadaku terasa jauh lebih longgar."

"Itu namanya bernapas, Alma," balas Aldo tersenyum lebar. "Dan hari ini, kita tidak akan terburu-buru oleh apa pun."

❖ ❖ ❖

Di balik ketenangan pagi dan pemandangan laut lepas yang memukau itu, tersimpan sebuah tujuan dasar yang sangat fundamental bagi Aldo: ia ingin memberikan sebuah pengalaman eksistensial baru kepada Alma—sebuah hari pemulihan total di mana waktu tidak diukur dengan angka, melainkan dengan deru ombak dan kehangatan matahari. Tujuan Aldo membawa Alma ke tempat terpencil ini bukan sekadar untuk berlibur singkat, melainkan untuk membuktikan kepada perempuan itu bahwa dunia tidak akan kiamat jika ia melepaskan kendali mutlaknya atas setiap detik kehidupan. Aldo ingin melihat Alma tersenyum lepas tanpa beban di atas hamparan pasir putih, merasakan kebebasan murni yang selama ini dirampas oleh obsesinya sendiri pada kesempurnaan.

"Minumlah teh hangatmu, Alma," kata Aldo ramah, menyodorkan salah satu cangkir keramik kasar ke tangan perempuan itu. "Setelah ini, aku punya kejutan kecil untukmu di luar sana. Jangan khawatir, tidak ada spreadsheet, tidak ada rapat darurat, dan tidak ada panggilan dari ibumu."

Alma menerima cangkir teh hangat tersebut, merasakan sengatan panas yang nyaman menjalar ke telapak tangannya. Nama sang ibu yang disebut Aldo sempat membuat hatinya berdesir cemas, mengingatkan pada panggilan telepon yang diputus sepihak malam sebelumnya. Namun, suasana pantai yang begitu magis, deburan ombak yang berirama konstan, dan tatapan menenangkan dari Aldo berhasil meredam kecemasan itu secepat angin laut menerbangkan buih. Tujuan batin Alma pagi ini perlahan bergeser: ia tidak ingin merusak momen berharga ini dengan bayang-bayang masa lalu atau ketakutan masa depan. Ia ingin belajar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bagaimana cara hadir sepenuhnya di masa kini.

"Kamu benar-benar merencanakan semua ini sendirian, Aldo?" tanya Alma penasaran, menyesap tehnya yang terasa manis alami beraroma jahe lembut. "Menyewa pondok nelayan ini, mematikan jam tanganku... dari mana kamu tahu kalau aku butuh ini?"

"Aku tidak tahu pasti, Alma. Aku hanya melihat perempuan paling kaku di kota ini hampir pingsan di bangku taman karena menolak secangkir teh hangat," jawab Aldo terkekeh ringan, meletakkan cangkirnya kembali ke nampan. Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Alma. "Sekarang, letakkan cangkirmu. Tujuan kita selanjutnya ada di luar sana, di atas hamparan pasir putih yang sudah menunggu kita sejak subuh."

Alma menatap uluran tangan Aldo selama beberapa detik. Ada keraguan kecil yang melintas di benaknya—kebiasaan lama yang menuntutnya untuk merapikan segala sesuatu sebelum melangkah. Namun melihat kilau antusiasme di mata Aldo dan deburan ombak yang memanggil dari balik pintu, Alma akhirnya meraih tangan pria itu, membiarkan dirinya dituntun keluar dari pondok kayu menuju surga kecil yang terisolasi dari dunia luar.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana dalam pondok kayu yang teduh menuju teriknya hamparan pantai berpasir putih terjadi begitu magis seiring langkah kaki mereka menuruni tangga kayu pendek. Begitu telanjang kaki Alma menyentuh permukaan pasir putih yang basah oleh buih ombak pagi, sensasi dingin yang menyegarkan langsung merambati kulit telapak kakinya. Angin laut berhembus kencang, menerbangkan helaian rambut hitam Alma yang tergerai bebas tanpa ikatan kuncir kuda kaku yang biasa ia kenakan saat bekerja di kantor. Suara riuh burung camar yang terbang rendah menyambar permukaan air laut berpadu harmonis dengan deru ombak yang pecah secara teratur di bibir pantai.

Lihat selengkapnya