Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Ketukan Kenyataan di Beranda Pesisir

[partImg:[0]]

Sinar matahari pagi yang hangat merayap perlahan melintasi bilah-bilah jendela kayu pondok pesisir, memantulkan pijar keemasan di atas permukaan lantai papan yang bersih. Pukul 07.30 pagi, suasana di desa nelayan itu terasa begitu syahdu; deru ombak berirama tenang menampar pasir pantai, berpadu dengan aroma garam laut dan bau ikan panggang tipis yang terbawa oleh embusan angin darat. Di atas tempat tidur sederhana beralaskan kasur kapuk tebal, Alma berbaring dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar yang dihiasi jalinan bambu alami. Namun, ketenangan alam yang menyejukkan jiwa itu mendadak terusik oleh getaran beruntun yang memekakkan telinga dari ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur—sebuah gawai yang selama tiga hari terakhir sengaja ia matikan total demi memutus mata rantai dunia luar.

"Kenapa ponsel ini harus dihidupkan kembali?" gumam Alma pelan, suaranya serak bergesek di tenggorokan yang terasa kering.

Ia merentangkan tangannya yang terasa lemas, meraih benda bercahaya tersebut dengan jari-jarinya yang masih menyisakan sisa-sisa kelelahan dari insiden kolaps di kedai kopi beberapa waktu lalu. Begitu layar sentuh itu menyala, puluhan notifikasi pesan singkat, surel kantor yang menumpuk, dan panggilan darurat tak terjawab langsung membanjirinya tanpa ampun. Di antara deretan nama yang tertera di layar, nama Pak Hartawan dan kontak 'Ibu' mendominasi dengan status panggilan berulang kali. Getaran demi getaran itu seolah menjadi palu godam yang menghancurkan benteng kedamaian semu yang baru saja ia bangun di desa pesisir ini. Pelarian singkat yang ia harapkan bisa menjadi tempat persembunyian abadi kini terbukti hanyalah sebuah jeda singkat, mengingatkan dirinya bahwa lari dari masalah tidak akan pernah menyelesaikan apa pun di dunia nyata.

"Ibu tahu kamu ada di sana, Alma. Angkat teleponnya sekarang juga, keadaan ayahmu semakin kritis di rumah sakit," bunyi pesan teks terbaru dari ibunya yang terpampang mencolok di layar utama, membuat napas Alma seketika tercekat di tenggorokan.

Pondok kayu di pinggir pantai yang tadinya terasa bagai surga pelarian mendadak berubah menjadi ruang pengasingan yang penuh sesak oleh rasa bersalah. Dunia nyata dengan segala tuntutan hukum, korporat, dan keluarga kembali mengetuk pintu kehidupannya dengan cara yang paling brutal, menuntut pertanggungjawaban atas segala hal yang selama ini ia coba hindari dengan sengaja.

❖ ❖ ❖

Di tengah gempuran notifikasi dan teror panggilan darurat tersebut, tujuan hidup Alma pada detik-detik pagi itu berubah secara drastis dari sekadar menikmati ketenangan menjadi sebuah misi penyelamatan yang mendesak: mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan terpahit dan segera memesan tiket perjalanan kembali ke kota. Jika sebelumnya tujuan utamanya adalah mencari kedamaian dan menyembuhkan luka batin di tepi laut, kini ia harus kembali mengenakan baju zirah profesionalismenya, menghadapi sidang investigasi kejaksaan agung, dan mendampingi ayahnya di rumah sakit daerah tanpa ragu. Ia tidak boleh lagi bersembunyi di balik ombak pantai atau bersandar pada kenyamanan semu di pondok nelayan ini.

"Aku harus pulang hari ini juga. Tidak ada lagi waktu untuk melarikan diri," ucap Alma mantap pada dirinya sendiri, meskipun dadanya bergemuruh hebat menahan rasa takut yang luar biasa.

Target utamanya pagi ini adalah merapikan barang-barang bawaannya ke dalam ransel, berpamitan kepada pemilik pondok kayu dan Aldo—yang setia menemaninya selama masa pemulihan di desa tersebut—serta mengatur jadwal penerbangan pertama kembali ke ibu kota. Ia ingin membuktikan kepada keluarganya dan kepada dirinya sendiri bahwa ia adalah wanita yang bertanggung jawab, bukan pengecut yang lari dari masalah ketika badai kehidupan menerjang telak. Tujuan mulia itu menuntut pengorbanan besar; ia harus merelakan ketenangan laut yang sangat dicintainya dan kembali menyelam ke dalam pusaran masalah yang siap melumatnya kapan saja.

"Alma, apa kamu yakin harus kembali secepat ini? Masalah hukum dan keluargamu di kota belum sepenuhnya reda," tanya Aldo lembut dari ambang pintu kamar, membawa dua cangkir kopi hitam hangat di tangannya.

"Aku yakin, Aldo. Lari dari kenyataan tidak akan membuat masalahku menguap begitu saja. Ayahku menunggu, dan investigasi itu harus aku hadapi," jawab Alma tegas, menatap mata pria di hadapannya dengan sorot penuh tekad.

Tujuan hidupnya hari ini telah dikunci rapat oleh rasa tanggung jawab moral yang tinggi, memaksanya untuk meninggalkan keindahan pesisir demi menghadapi kenyataan hidup yang kejam dan penuh liku.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana pagi yang damai di pondok pesisir menuju hiruk-pikuk persiapan kepulangan terjadi dalam ritme yang sangat cepat dan menegangkan. Pukul 08.15 pagi, Alma berdiri di depan cermin kecil kamar mandi pondok, merapikan rambutnya yang tersapu angin pantai menjadi ikatan ekor kuda yang rapi. Transisi sensorik dari aroma garam laut dan suara deburan ombak yang menenangkan kini digantikan oleh deru mesin mobil jemputan sewaan yang dipesan Aldo di halaman depan, bersiap mengantar mereka menuju stasiun kereta antarkota terdekat. Di atas meja kayu ruang tamu pondok, ransel kulit hitamnya sudah terisi penuh dengan pakaian dan beberapa sketsa kenang-kenangan pemberian sang pelukis.

"Mobilnya sudah di depan, Alma. Semua tiket kereta untuk keberangkatan siang ini sudah aku urus lewat ponsel," kata Aldo yang masuk kembali ke ruangan sambil membawa jaket denim usangnya.

Transisi dari fase pemulihan yang lambat di desa nelayan menuju kembalinya rutinitas penuh tekanan menyadarkan Alma bahwa garis waktu kehidupannya tidak bisa dihentikan begitu saja. Setiap detik yang berdetak di jam tangannya kini terasa begitu berharga, membawa dirinya semakin dekat dengan momen konfrontasi besar di hadapan para penyidik hukum dan pihak keluarga di rumah sakit. Suasana di dalam pondok kayu itu berubah menjadi sendu; sisa-sisa kehangatan obrolan malam mereka di teras pantai kini melebur menjadi antisipasi tegang menyambut kepulangan yang penuh ketidakpastian.

Lihat selengkapnya