Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Bayang-Bayang Masa Lalu dan Ketakutan

[partImg:[0]]

Malam harinya, setelah derit pintu kayu studio dibanting tertutup dengan keras oleh Alma dan menyisakan kesunyian yang mencekam, Aldo terpaku seorang diri di tengah ruangan gelap gulita. Hanya seberkas cahaya lampu jalan kota yang remang-remang menembus jendela kaca nako berdebu, memproyeksikan bayangan-bayangan panjang dari tumpukan kanvas tak berbingkai di lantai. Bau tajam cat minyak, terpentin, dan debu tua yang biasanya menjadi aroma penenang kini terasa begitu menyesakkan dada, seolah mengurungnya di dalam rongga dada yang hampa. Aldo berdiri mematung di dekat meja kerjanya, tangannya masih menggantung di udara bekas menahan kepergian Alma, sementara deru napasnya terdengar memburu di tengah keheningan malam yang pekat. Suasana di dalam studio itu mendadak berubah menjadi ruang isolasi psikologis yang sangat menakutkan, tempat di mana dinding-dindingnya seolah merangsek maju untuk menghimpit jiwanya yang tengah koyak oleh kemarahan dan kebingungan.

"Alma..." panggil Aldo lirih ke udara kosong, suaranya tersangkut di tenggorokan tanpa ada jawaban selain pantulan gema dari dinding loteng yang kosong.

Ia melangkah pelan dengan langkah lunglai, menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi besi tua di depan meja kerja yang berantakan. Di atas meja itu, lembaran sketsa arang yang belum selesai berserakan di samping kuas-kuas kotor yang mengering. Aldo menatap kosong ke arah gulungan kanvas di sudut ruangan, sementara pikirannya mulai melayang jauh menembus batas waktu, kembali menariknya ke dalam lorong-lorong kelam masa lalunya yang paling menyakitkan. Luka-luka lama yang selama ini ia kubur rapat-rapat di balik topeng kebebasan dan senyum sinisnya tiba-tiba bangkit kembali, merangkak keluar dari dasar kesadaran dan mencengkeram lehernya erat-erat tanpa ampun.

Bayangan masa kecil dan masa remaja bersama sang ayah kembali berkelebat di dalam kepalanya dengan sangat jelas, seolah peristiwa-peristiwa pahit itu baru saja terjadi kemarin sore. Ia teringat bagaimana ayahnya—pensiunan birokrat yang kaku dan penuh aturan—selalu merobek-robek buku sketsa pertamanya karena dianggap sebagai sampah yang tidak punya masa depan. Ia teringat caci maki yang menyebutnya anak tidak tahu diuntung setiap kali ia menolak mengenakan pakaian formal atau menolak tawaran masuk ke akademi pegawai negeri. Di mata sang ayah, pilihan hidup Aldo sebagai seorang seniman bukan sekadar hobi yang salah, melainkan sebuah bentuk pembangkangan moral yang harus dihukum dan dipenjarakan di dalam standar kaku keluarga.

"Kamu tidak akan pernah menjadi apa-apa kalau terus hidup di dunia khayalan itu, Aldo!" suara bariton ayahnya yang penuh cemoohan seolah bergeming di telinga Aldo malam itu, berputar-putar tiada henti di dalam kepalanya.

Aldo memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Trauma masa lalu itu tidak pernah benar-benar sembuh; ia hanya menutupnya dengan lapisan tebal pemberontakan dan penolakan mutlak terhadap segala bentuk keterikatan. Selama bertahun-tahun, prinsip hidup Aldo sangat sederhana: jangan pernah terikat pada siapa pun, jangan pernah bergantung pada apa pun, dan jangan pernah menyerahkan kebebasan mutlak kepada institusi atau manusia mana pun, agar ia tidak pernah merasakan kepedihan dikendalikan dan dikekang seperti masa lalunya.

❖ ❖ ❖

Di balik keheningan malam dan reruntuhan emosi di dalam studio kumuh itu, tersimpan sebuah tujuan bawah sadar yang jauh lebih menakutkan bagi Aldo: melindungi dirinya dari ketakutan akan komitmen yang tiba-tiba mendesak masuk ke dalam ruang pribadinya. Kehadiran Alma—dengan segala keteraturan, logika birokratis, jadwal ketat, dan obsesinya pada masa depan yang terencana—selama ini menjadi magnet yang menarik sekaligus ancaman terbesar bagi kebebasan jiwa seni Aldo. Tujuan mendalam dari pergulatan batin malam ini adalah sebuah upaya defensif yang putus asa untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa mengakhiri atau menjauhkan diri dari hubungan yang semakin serius dengan Alma adalah satu-satunya cara agar ia tidak terjebak dalam sangkar kekangan yang sama seperti yang dibangun oleh ayahnya.

"Kalau aku menyerah pada hubungan ini, kalau aku memberikan komitmen penuh kepada Alma, apa bedanya aku dengan burung dalam sangkar emas?" gumam Aldo dengan suara bergetar, menatap nanar ke arah cangkir teh dingin yang ditinggalkan Alma sore tadi.

Bagi Aldo, memberikan komitmen kepada seseorang yang memiliki pola pikir seketat Alma sama artinya dengan menandatangani surat kematian bagi jiwa seninya. Ia membayangkan skenario buruk di mana setiap langkahnya diatur, setiap coretan kanvasnya dikritisi berdasarkan nilai efisiensi, dan setiap keputusannya harus disetujui lewat tabel spreadsheet kehidupan rumah tangga yang steril. Ketakutan itu bukanlah ketakutan biasa; itu adalah teror psikologis yang berakar dari luka pengasuhan masa lalu, di mana cinta dan aturan keluarga selalu berjalan seiring dengan pemaksaan kehendak dan penghancuran identitas pribadi.

"Aku tidak bisa melakukannya," bisik Aldo lagi, kepalanya semakin menunduk hampir menyentuh permukaan meja kerja. "Memberikan komitmen padanya berarti membiarkan seseorang memegang kunci penjara kebebasanku. Dan aku lebih baik mati kelaparan di studio kumuh ini daripada harus hidup di dalam sangkar keteraturan buatan orang lain—sekalipun orang itu adalah Alma."

Tujuan pertahanan diri itu membuat Aldo semakin menutup pintu hatinya rapat-rapat, mencoba membangun kembali benteng ego yang sempat runtuh oleh kehangatan dan air mata Alma di pantai beberapa hari lalu. Ia merasa bahwa kedekatan mereka selama ini adalah sebuah kesalahan besar yang harus segera dihentikan sebelum terlambat, sebelum ia kehilangan sisa-sisa kepribadiannya dan melebur sepenuhnya ke dalam dunia birokratis yang sangat ia benci.

❖ ❖ ❖

Transisi dari renungan masa lalu menuju kecemasan akut yang mencekam terjadi begitu cepat di dalam ruangan yang mulai terasa semakin pengap itu. Suara detak jam dinding tua di sudut studio mendengung nyaring di kepala Aldo, menyerupai ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis bersalah. Aldo berdiri dari kursi besinya, berjalan mondar-mandir di antara tumpukan kanvas dengan langkah tidak beraturan, sementara bayangan wajah Alma saat membanting pintu tadi terus berkelebat di benaknya. Alma marah karena Aldo dianggap tidak mengerti beban hidupnya, sementara Aldo merasa ketakutan karena Alma menuntut standar kepastian yang tidak sanggup ia berikan.

Transisi pemikiran itu membawa Aldo pada sebuah kesadaran yang sangat pahit: benturan di antara mereka bukan lagi sekadar perbedaan kebiasaan atau cara pandang, melainkan benturan dua dunia yang saling menolak. Dunia Alma adalah dunia yang menuntut struktur, kepastian, dan garis-garis merah kalender yang jelas; sementara dunianya adalah dunia tanpa batas, penuh ketidakpastian, dan kebebasan mutlak untuk melukis apa saja tanpa harus mempertanggungjawabkannya kepada siapa pun. Menyatukan kedua dunia itu, pikir Aldo, adalah sebuah kemustahilan yang hanya akan berujung pada kehancuran salah satu pihak—atau bahkan keduanya.

Lihat selengkapnya