Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Egosentrisme dan Renggangnya Garis Waktu

Angin sore berhembus dingin menembus kaca jendela kedai kopi sudut kota, membawa serta sisa-sisa basah dari hujan gerimis yang mengguyur jalanan aspal di luar sana. Meja nomor empat yang biasanya riuh oleh perdebatan kecil dan uap hangat cangkir keramik kini tampak kosong, sunyi, dan dikelilingi oleh debu tipis yang dibiarkan menumpuk tanpa ada yang menyentuh. Tidak ada tawa renyah, tidak ada alunan musik akustik yang menenangkan, dan yang paling penting, tidak ada lagi bayangan Alma maupun Aldo yang duduk berhadapan membagikan ritual "Celap Celup" biskuit marie kebanggaan mereka. Hari-hari berikutnya merayap lambat, ditandai oleh keheningan yang menyiksa batin kedua belah pihak. Waktu seolah berjalan mundur, menyeret mereka kembali ke dalam cangkang kesendirian masing-masing yang terisolasi dari dunia luar. Di balik meja kerjanya yang dikelilingi tumpukan dokumen keuangan kuartal baru, Alma menatap layar monitor dengan tatapan hampa, sementara di studio seninya yang pengap, Aldo memegang kuas besar dengan goresan warna-warna kelam yang memantulkan keputusasaan tingkat tinggi. Keheningan itu bukan sekadar jeda, melainkan sebuah dinding tebal yang dibangun dari ego masing-masing yang terlampau kokoh untuk dirobohkan oleh kata maaf.

"Kau kelihatan sangat pucat akhir-akhir ini, Alma," tegur seorang rekan kerja dari bilik sebelah, memecah lamunan wanita itu tanpa mendapatkan tanggapan berarti.

Alma hanya menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menepis rasa sesak yang tiba-tiba menghantam rongga dadanya. Di dalam kedai kopi yang kini terasa asing itu, waktu membeku tanpa ampun, memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan yang baru saja mereka rintis dengan susah payah di babak-bab sebelumnya. Jarak di antara mereka bukan lagi diukur dari hitungan kilometer, melainkan dari keengganan untuk saling menelepon, saling menyapa, atau sekadar melangkah kembali ke meja nomor empat yang menyimpan sejuta memori manis. Ego telah mengambil alih kemudi, mengubah dua manusia yang tadinya saling menyembuhkan luka menjadi dua orang asing yang saling menghindari tatapan mata di persimpangan jalan kota.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma dan Aldo menjalani hari-hari penuh keheningan itu sebenarnya berakar dari satu motif yang sama namun destruktif: membuktikan kepada diri sendiri bahwa mereka bisa bertahan tanpa kehadiran satu sama lain. Bagi Alma, tujuannya kembali tenggelam dalam pusaran target korporat adalah sebuah bentuk pelarian defensif. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya untuk kembali ke dunia kerja—meskipun sempat mengalami burnout parah—tidak salah, dan bahwa ia tidak membutuhkan sandaran emosional dari siapapun untuk berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri.

"Aku tidak boleh lemah," bisik Alma pada dirinya sendiri di dalam ruang rapat yang dingin, tangannya sibuk mencatat setiap instruksi direktur utama tanpa cela. "Aku bisa melewati semua ini sendirian, persis seperti sebelum aku mengenal Aldo."

Di sisi seberang kota, di dalam studio seninya yang remang-remang, Aldo memiliki tujuan yang tidak kalah keras kepalanya. Pria itu bertekad menyelesaikan pameran tunggal terbarunya dengan mengandalkan amarah dan rasa sakit hati akibat penyitaan galeri sebelumnya. Aldo ingin membuktikan kepada keluarga bangsawannya—dan kepada Alma—bahwa dunianya sebagai seniman tidak akan runtuh hanya karena ia ditinggal pergi oleh seseorang yang memilih kembali pada keamanan korporat. Goresan kuasnya di atas kanvas besar tampak beringas, menyapu warna-warna gelap dengan tekanan kuat yang mencerminkan ego lelakinya yang terluka.

"Aku tidak butuh kompromi," gumam Aldo geram, menatap hasil goresannya dengan napas memburu. "Seni lahir dari penderitaan dan kesendirian, bukan dari secangkir teh manis atau biskuit marie murahan."

Namun, di balik ambisi dan tujuan keras kepala yang mereka gembar-gemborkan, tersimpan sebuah jeritan batin yang disembunyikan rapat-rapat. Tujuan mereka bukan lagi mencari kebahagiaan, melainkan mencari pembenaran atas ego masing-masing yang terluka. Garis waktu hubungan mereka merenggang secara drastis, ditarik oleh dua arah yang saling bertolak belakang, menciptakan jurang pemisah yang kian hari kian melebar tanpa ada satupun di antara mereka yang berniat melempar jembatan perdamaian.

Alma menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja, berharap ada satu saja pesan singkat atau panggilan masuk dari nomor Aldo, sementara di studionya, Aldo berulang kali melirik layar ponselnya yang gelap gulita dengan rasa penasaran yang bercampur gengsi luar biasa. Ego telah meracuni ruang logika mereka, membuat keduanya sama-sama menunggu pihak lain untuk melangkah terlebih dahulu.

❖ ❖ ❖

Transisi dari hari-hari penuh kesibukan pelarian itu menuju puncak ketegangan batin terjadi secara perlahan namun pasti seiring dengan bergantinya minggu. Suasana kota mulai memasuki musim pancaroba; angin kencang berhembus membawa debu jalanan, sementara langit sore berubah kelabu pekat, seolah ikut meratapi renggangnya hubungan Alma dan Aldo yang semakin tidak bertepi. Di kedai kopi langganan, pelayan baru yang menggantikan posisi staf lama bahkan telah memindahkan papan tanda meja nomor empat menjadi "Reservasi Khusus", seolah-olah menghapus permanen sejarah kecil yang pernah terukir di sana.

Alma yang kebetulan melintas di depan kedai tersebut sepulang dari kantor mematung sejenak di trotoar luar. Matanya menatap nanar ke arah meja kosong di sudut ruangan melalui kaca jendela yang berembun. Tidak ada lagi bayangan mereka di sana; yang terlihat hanyalah kursi-kursi kayu yang tertata rapi tanpa jiwa.

"Semuanya sudah berakhir," gumam Alma lirih, merasakan hantaman rasa kehilangan yang teramat berat merayap naik ke tenggorokannya.

Di tempat terpisah, Aldo sedang membereskan sisa cat di paletnya ketika ia mendapati bahwa seluruh inspirasi melukisnya mendadak mengering. Kanvas gelap yang ia kerjakan selama berhari-hari tampak hampa, kehilangan nyawa dan emosi yang biasanya terpancar dari setiap goresan kuasnya. Aldo menyadari bahwa amarah dan egonya tidak lagi mampu menghidupkan karya seninya; sebaliknya, keputusan untuk menutup diri dari Alma justru mematikan sisi paling jujur di dalam jiwanya.

Transisi emosional ini membawa mereka pada titik jenuh yang melelahkan. Ego yang tadinya diagung-agungkan sebagai benteng pertahanan diri kini berubah menjadi monster tak kasat mata yang mencekik napas mereka perlahan-lahan. Garis waktu yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan mereka terputus di tengah jalan, menyisakan kehampaan absolut yang tidak bisa ditutup oleh lembar kerja kantor maupun tumpukan kanvas pameran.

Alma mempercepat langkah kakinya meninggalkan trotoar kedai kopi, berusaha menepis bayangan Aldo dari kepalanya, sementara Aldo membanting kuasnya ke lantai studio dengan rasa frustrasi yang memuncak, menyadari bahwa ia telah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya