Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Di Ambang Runtuhnya Jembatan Rasa

Minggu keempat bulan itu dibuka dengan kesunyian yang kaku, pekat, dan menusuk tulang di dalam kedai kopi langganan yang biasanya hangat. Jam dinding bundar berbingkai kayu jati di atas konter baru saja menunjuk pukul 16.15 sore, namun atmosfer di ruangan berukuran sedang itu terasa begitu dingin, seolah seluruh pasokan oksigen telah disedap habis oleh keheningan yang panjang. Di sudut ruangan, meja nomor empat tidak lagi menyisakan secercah pun sisa kehangatan teh melati yang mengepul atau remahan biskuit cokelat yang biasa menemani sore mereka. Permukaan meja kayu tua itu tampak bersih, steril, dan kosong melompong, sama persis kosongnya dengan ruang di dalam dada Alma yang kini terasa hampa tanpa suara gelak tawa atau goresan arang di atas kertas buram. Udara sore itu di luar jendela dipenuhi oleh rintik hujan gerimis yang jatuh membasahi kaca, menciptakan pantulan buram dari lampu-lampu jalan kota yang mulai menyala kuning temaram. Alma duduk seorang diri di kursi kayu jati tersebut, menatap kosong ke arah cangkir keramiknya yang berisi air dingin tanpa es, merasakan bagaimana waktu seolah berhenti berputar di tempat ia terjebak dalam pusaran penyesalan yang mendalam.

"Mbak Alma, tumben hari ini sendirian saja? Biasanya ada Mas Aldo yang setia menemani di meja nomor empat setiap jam-jam begini," sapa Beni ramah namun bernada hati-hati dari balik meja bar, mencoba memecah keheningan yang menyiksa.

"Dia tidak akan datang lagi, Beni. Semuanya sudah berbeda sekarang," jawab Alma datar, suaranya terdengar serak dan kehilangan tenaga, mencerminkan keputusasaan batin yang sudah mencapai puncaknya.

Hubungan di antara mereka kini resmi berada di ambang kehancuran total, sebuah jurang pemisah yang tercipta dari akumulasi salah paham, ego yang terlalu tinggi, dan pertengkaran hebat yang terjadi beberapa hari lalu sebelum Alma terseret kasus hukum di kejaksaan. Tidak ada lagi pesan singkat iseng yang mendarat di layar ponselnya pada tengah malam, tidak ada lagi perdebatan kecil yang konyol tentang bagaimana cara menikmati waktu luang yang tepat, dan tidak ada lagi sapaan hangat yang mampu meluluhkan benteng es di hati sang akuntan. Ego yang dipupuk dengan rapi setelah pertengkaran terakhir itu menjelma menjadi tembok es raksasa yang sangat tebal, membuat kedua belah pihak terjebak dalam kebisuan total yang tidak bisa ditembus oleh sapaan atau permohonan maaf apa pun. Alma merapatkan mantel wolnya, memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak menggigil hebat di tengah ruangan ber-AC yang dingin, menyadari bahwa kehilangan Aldo jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan posisi kepala divisi audit di perusahaan korporat tempat ia mengabdi dulu.

❖ ❖ ❖

Di tengah reruntuhan hubungan yang membeku itu, tujuan hidup Alma pada sore yang kelabu tersebut terpaku pada satu titik yang sangat menyakitkan namun harus ia jalani: melepaskan ego pribadinya sepenuhnya dan mencari Aldo untuk mengakhiri perang dingin yang menghancurkan jiwa mereka berdua. Setelah berminggu-minggu bersembunyi di balik benteng harga diri dan kesibukan mengurus pemulihan ayahnya di rumah sakit, Alma akhirnya menyadari bahwa kemenangan dalam sebuah perdebatan tidak ada artinya jika ia harus membayar harga dengan kehilangan satu-satunya manusia yang mampu melihat sisi rapuh di balik topeng profesionalismenya. Target utamanya hari ini bukanlah lagi menyelesaikan laporan keuangan atau memenangi argumen hukum di hadapan penyidik, melainkan menemukan Aldo, meminta maaf atas segala kalimat tajam yang pernah ia ucapkan, dan meruntuhkan jembatan rasa yang hampir runtuh total.

"Aku harus menghentikan kebodohan ini. Aku tidak boleh membiarkan egomu merusak satu-satunya hal tulus yang kumiliki," batin Alma berulang-ulang, jemarinya meremas erat gagang cangkirnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Tujuan mulia itu menuntut keberanian yang luar biasa dari seorang wanita yang terbiasa hidup terstruktur di dalam zona nyaman logika. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa cinta dan ketulusan jauh lebih berharga daripada harga diri yang palsu. Jika Aldo tidak datang ke kedai kopi ini, maka Alma bertekad untuk melangkah keluar, mendatangi sanggar lukis kecil di ujung distrik kota, dan mengetuk pintu pria itu meskipun ia harus menelan mentah-mentah rasa malu dan gengsinya sebagai seorang profesional senior.

"Apa kamu yakin tidak ingin memesan teh hangat seperti biasanya, Mbak? Wajahmu tampak sangat pucat," tanya Beni lagi dengan tatapan penuh rasa iba melihat kegelisahan yang terpancar jelas di mata pelanggannya.

"Tidak perlu, Beni. Aku hanya sedang menunggu... atau mungkin aku harus segera pergi mencarinya," jawab Alma sambil berdiri perlahan dari kursi nomor empat, merapikan tas kerja kulitnya dengan gerakan tergesa-gesa.

Tujuan hidupnya hari ini telah dikunci rapat oleh rasa rindu yang teramat sangat dan penyesalan yang membakar dada, mendorongnya untuk melangkah keluar dari zona pertahanan ego yang selama ini memenjarakan hatinya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana kedai kopi yang sunyi menuju keputusan nekat untuk mendatangi sanggar seni Aldo terjadi dalam ritme emosional yang sangat cepat dan menegangkan. Pukul 16.45 sore, Alma mendorong pintu kaca kedai, melangkah keluar ke bawah rintिसाr hujan gerimis yang mulai membasahi trotoar jalanan kota. Transisi sensorik dari aroma biji kopi panggang dan kehangatan ruangan kedai menuju terpaan angin malam yang dingin dan bau basah aspal jalan raya seketika menyadarkan seluruh indranya. Ia merapatkan kerah mantelnya, membuka payung lipat berwarna hitam, dan berjalan cepat menuju halte bus terdekat dengan jantung berdegup kencang tak beraturan. Di dalam tas kerjanya, terselip sebuah sketsa kecil bergambar wajahnya sendiri—kenang-kenangan terakhir yang pernah Aldo berikan padanya di masa-masa awal pertemuan mereka di meja nomor empat.

"Tolong, semoga dia masih ada di studionya dan belum pergi," doa Alma dalam hati, langkah kakinya semakin dipercepat menembus genangan air di pinggir jalan.

Transisi dari status sebagai wanita dingin yang terkurung dalam spreadsheet angka menuju seorang pencari cinta yang putus asa mencerminkan titik balik revolusioner dalam perjalanan hidup Alma. Ia tidak lagi peduli pada penilaian orang lain terhadap penampilannya yang basah kuyup atau langkah kakinya yang terburu-buru di tengah kerumunan pejalan kaki. Suasana kota sore itu tampak buram oleh air hujan, namun tujuan di dalam kepalanya bersinar sangat terang. Setiap putaran roda kendaraan yang melintas di sampingnya seolah mempercepat detik-detik waktu yang tersisa sebelum jembatan rasa di antara mereka benar-benar runtuh dan menjadi abu yang tak bisa diselamatkan lagi.

Lihat selengkapnya