[partImg:[0]]
Tiga hari berikutnya berlalu begitu cepat bagaikan badai yang melanda apartemen minimalis Alma, menyisakan kekacauan fisik dan emosional yang luar biasa melelahkan. Di dalam ruangan seluas enam puluh meter persegi itu, tumpukan kardus cokelat berpita perekat berserakan di setiap sudut, bercampur dengan map dokumen kantor, gantungan pakaian yang belum dilipat, dan lembaran-lembaran cetak tiket penerbangan internasional ke Singapura yang berserakan di atas meja makan. Pukul dua dini hari, di bawah temaram lampu meja yang menyilaukan mata, Alma berdiri mematung di tengah ruangan yang berantakan, merasakan sekujur tubuhnya remuk redam akibat kurang tidur dan jam kerja yang dipacu tanpa henti. Tidak ada lagi waktu untuk merenung, tidak ada lagi ruang untuk menangis; hari-hari menjelang keberangkatannya menjelma menjadi perlombaan maraton yang menegangkan melawan detik-detik jam dinding yang terus berputar tanpa belas kasihan.
"Sedikit lagi... aku hanya perlu menyelesaikan bagian dokumen administrasi ini sebelum matahari terbit," gumam Alma lirih pada dirinya sendiri, suaranya parau dan hampir tenggelam di antara desau angin malam dari ventilasi apartemen.
Ia membanting tulang membereskan setiap inci apartemennya, mulai dari memindai berkas-berkas keuangan, menyerahkan laporan serah terima jabatan secara daring kepada kantor pusat, hingga mematikan seluruh langganan utilitas bulanan. Di tengah kesibukan yang begitu membabi buta itu, ia mati-matian menghindari segala bentuk kontak dengan dunia lamanya—ia tidak membuka pesan WhatsApp, memblokir nomor-nomor yang tidak dikenal, dan menolak panggilan berulang kali dari sang ibu serta rekan-rekan kerjanya di cabang lokal. Bagi Alma, kesibukan ekstrem ini adalah perisai pelindung yang ia ciptakan sendiri untuk menulikan telinganya dari bisikan-bisikan keraguan yang terus menggerayangi benaknya.
"Kamu sengaja menyiksa dirimu sendiri agar tidak punya waktu untuk berpikir, Alma," sebuah suara hati kecil sempat mengejeknya dari lubuk batin yang paling dalam.
Namun Alma segera menepis pikiran itu dengan mengayunkan tangan secara tegas, meraih setumpuk baju kerja formal, lalu memasukkannya secara paksa ke dalam koper besar berwarna perak yang terbuka lebar di atas lantai kamar. Di bawah tekanan tenggat waktu yang begitu mendesak dan mendesak, waktu seolah berlari sepuluh kali lebih cepat dari biasanya, memacu detak jantungnya dalam ketakutan terselubung yang tidak berani ia akui secara terang-terangan.
❖ ❖ ❖
Di balik kesibukan mekanis mengepak barang dan menyusun ulang hidup di negeri orang, tersimpan sebuah tujuan dasar yang sangat mendesak bagi Alma: ia ingin segera melarikan diri sejauh-jauhnya dari bayang-bayang masa lalu, menghapus setiap jejak kenangan tentang kota ini, dan membuktikan bahwa keputusannya adalah langkah paling logis untuk menyelamatkan kewarasannya. Tujuan utama Alma menyusun koper dengan tergesa-gesa bukan sekadar mempersiapkan kepindahan fisik ke Singapura, melainkan melakukan pembersihan total terhadap memori kelam yang melekat di setiap sudut kota tersebut—terutama kenangan tentang meja nomor empat di sudut kafe tempat ia dan Aldo pertama kali merajut perdebatan sengit yang berujung pada kejatuhan hatinya.
"Meja nomor empat..." ucap Alma tanpa sadar saat ia melipat kemeja putih favoritnya, jemarinya tiba-tiba berhenti bergerak di atas kain katun tersebut. "Tempat di mana segalanya bermula, dan tempat di mana segalanya hancur."
Tujuan rasional itu mendadak terasa hampa ketika bayangan wajah Aldo yang sinis namun hangat kembali melintas di kepalanya. Alma menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan itu kembali ke lubang hitam keputusasaan. Ia meyakinkan dirinya sendiri dengan suara berbisik bahwa meninggalkan tanah air adalah satu-satunya keputusan paling rasional di dunia ini—sebuah tiket penyelamatan mutlak untuk mengubur dalam-dalam kenangan tentang meja nomor empat, tentang secangkir teh jahe hangat, dan tentang pelukan di atas hamparan pasir putih yang kini terasa seperti mimpi buruk yang menyiksa.
"Aku harus pergi. Tinggal di sini sama saja dengan membiarkan diriku mati perlahan di dalam sangkar penyesalan," kata Alma dengan nada tegas, kembali melanjutkan aktivitas mengepak barangnya dengan gerakan yang semakin cepat dan tidak beraturan.
Tujuan batinnya kini telah bergeser menjadi obsesi pelarian yang mutlak. Ia ingin mendarat di Singapura sebagai seorang profesional sukses yang kebal terhadap cinta, seorang wanita besi yang tidak lagi sudi menyerahkan kendali emosionalnya kepada pria mana pun di muka bumi ini.
❖ ❖ ❖
Transisi dari kesibukan logistik yang melelahkan menuju kepanikan batin yang tersembunyi terjadi begitu halus namun mematikan seiring bertambah larutnya malam. Ketika koper besar berwarna perak itu hampir penuh dan seluruh dokumen penting telah tersusun rapi di dalam tas tangan kulitnya, keheningan apartemen malam itu mendadak menekan dada Alma hingga terasa sesak. Tidak ada lagi kardus yang harus dilakban, tidak ada lagi dokumen yang harus dicetak, dan tidak ada lagi alasan sibuk yang bisa ia gunakan untuk mengalihkan perhatian dari pikirannya sendiri.
Transisi kesadaran itu membawa Alma pada sebuah titik temu yang paling ia takuti: kesunyian absolut. Begitu lampu meja dimatikan dan ia duduk seorang diri di tepi tempat tidur yang tanpa seprai, bayang-bayang kenyataan datang menerjang tanpa bisa dicegah. Waktu yang tadinya berlari cepat kini mendadak terasa berhenti total, mencekik lehernya dengan kesadaran bahwa pelarian fisik sejauh ribuan mil ke luar negeri tidak akan pernah bisa menerbangkan jiwanya dari rasa penyesalan yang tertinggal di belakang.