
Deru mesin kendaraan yang lalu-lalang di luar studio seni Aldo terdengar samar, tertutup oleh keheningan mutlak yang mendadak merayap ke setiap sudut ruangan pengap tersebut. Udara sore hari beranjak senja, memantulkan bias cahaya jingga kemerahan dari kaca jendela yang berdebu, menyinari tumpukan kanvas usang dan kaleng-kaleng cat yang berserakan di lantai kayu. Di tengah ruangan yang berantakan itu, Aldo berdiri terpaku bagaikan patung batu, tangannya yang gemetar menggenggam erat selembar brosur penerbangan komersial internasional yang baru saja diserahkan oleh Faris beberapa menit lalu. Kabar kepindahan Alma menyebar begitu cepat di antara lingkaran kenalan mereka, menghantam telinga Aldo bagaikan sambaran petir di siang bolong tanpa persiapan apa pun. Faris, dengan napas tersengal-sengal dan raut wajah cemas, berdiri di dekat pintu masuk studio, memperhatikan sahabatnya yang mendadak kehilangan kemampuan bicara.
"Kau mendengarku, Aldo? Hari ini adalah jadwal penerbangannya ke luar negeri," ucap Faris dengan nada suara bergetar, mencoba menyadarkan pria yang masih tertegun di tempatnya. "Jika kau tidak bergerak sekarang, kau akan kehilangannya untuk selama-lamanya."
Aldo tidak memberikan respons verbal; tatapannya kosong menatap tulisan jadwal keberangkatan yang tercetak jelas di brosur kertas tipis itu. Waktu di sekelilingnya mendadak melambat, bergeser dari detik normal menjadi gerakan lambat yang sangat menyiksa, seolah alam semesta sengaja menahan napas menyaksikan kehancuran batin seorang pelukis yang terlalu lama dikuasai oleh ego. Tenggorokannya terasa kering, dihantam oleh gelombang rasa sakit luar biasa yang merambat naik dari dadanya. Di luar sana, hiruk-pikuk kota seolah menjauh, meninggalkan Aldo sendirian di dalam dimensi waktu yang membeku, terjepit di antara kenyataan pahit dan sisa-sisa harapan terakhir yang sekarat.
"Dia benar-benar pergi..." bisik Aldo parau, suaranya nyaris tak terdengar di antara sunyinya studio.
Faris menghela napas panjang, menepuk pelan bahu Aldo yang terasa kaku, lalu berbalik meninggalkan ruangan itu sendirian, membiarkan sang pelukis berhadapan langsung dengan hantu-hantu masa lalu dan keputusan-keputusan keliru yang telah ia buat selama berminggu-minggu belakangan.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Aldo malam itu bukanlah sekadar mengejar penerbangan atau mendebat keputusan Alma, melainkan meruntuhkan tembok harga diri yang selama ini menghalangi jiwanya untuk mengakui sebuah kebenaran paling mendasar. Di dalam kepalanya yang berdengung hebat, Aldo merumuskan satu tujuan akhir yang sangat putus asa namun jujur: ia ingin berdiri di hadapan Alma, menatap mata wanita itu tanpa ada topeng kesombongan, dan mengatakan bahwa ia tidak sanggup melanjutkan hidup di dunia yang tidak lagi menyisakan ruang bagi kehadiran wanita tersebut.
"Aku harus menghentikannya," gumam Aldo pada dinding studionya yang dipenuhi bayangan masa lalu. "Aku tidak boleh membiarkannya pergi membawa luka yang kubuat sendiri."
Namun, di balik tekad kuat itu, bayang-bayang ketakutan akan penolakan terus menghantuinya. Aldo takut jika kehadirannya di bandara nanti justru dianggap sebagai bentuk egoisme baru—sebuah usaha sia-sia untuk merusak masa depan Alma yang mungkin sudah jauh lebih baik tanpa dirinya. Tujuan hidupnya kini terbelah dua antara rasa bersalah yang mendalam dan kerinduan yang membakar ubun-ubun. Selama ini, Aldo selalu membentengi diri dengan idealismenya sebagai seorang seniman yang mandiri dan tidak membutuhkan siapa pun. Namun, detik-detik menjelang kepergian Alma membuktikan bahwa seluruh prinsip dan karya agungnya tidak bernilai apa-apa jika ia harus hidup di dalam kesunyian abadi.
"Apakah kau benar-benar ingin membiarkannya terbang menjauh, Aldo?" suara batinnya berteriak menuntut jawaban.
Aldo mengepalkan brosur penerbangan di tangannya hingga kertas itu hancur berkerut. Tujuannya kini mengerucut menjadi satu detik taruhan terakhir: merebut kembali kesempatan kedua yang hampir punah, berbekal sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan dari puing-puing rasa malunya sendiri. Ia tahu taruhannya sangat besar—kehilangan harga diri atau kehilangan wanita yang paling dicintainya untuk seumur hidup.
❖ ❖ ❖
Transisi dari keterpakuannya yang membeku menuju kesadaran gerak yang panik terjadi ketika jarum jam dinding studionya menunjukkan pukul enam sore lewat sepuluh menit. Waktu keberangkatan pesawat Alma tertera pukul delapan malam di bandara utama kota. Transisi psikologis itu bekerja bagaikan hantaman listrik bertegangan tinggi yang membangunkan sistem saraf Aldo dari mati rasa.
"Dua jam..." gumam Aldo sambil melirik jam dinding tua di sudut ruangan. "Waktuku tinggal dua jam untuk melintasi kota ini."
Pria itu melepas apron kerjanya yang bernoda cat, melemparkannya begitu saja ke atas lantai kayu, lalu menyambar jaket kulit hitam dan kunci motor yang tergantung di dekat pintu. Perubahan suasana batinnya begitu drastis; dari seorang pria yang pasrah meratapi nasib di sudut ruangan gelap, ia berubah menjadi sosok yang digerakkan oleh kepanikan mendarah daging. Langkah kakinya bergemerincing cepat menuruni tangga loteng gedung studio menuju halaman parkir bawah tanah.
Kota di luar sana tampak bermandikan lampu jalanan yang mulai menyala di antara tetesan sisa hujan sore. Jalanan protokol dipadati oleh kemacetan jam pulang kantor yang mengepung setiap lajur aspal. Aldo menaiki sepeda motornya, mengenakan helm dengan tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menstarter mesin kendaraan hingga menderu nyaring memecah keheningan senja. Transisi fisik ini menandai dimulainya pelarian nekat seorang pelukis yang menolak menyerah pada takdir yang dingin.