Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

Penerbangan Malam dan Titik Tolak Perpisahan

[partImg:[0]]

Pukul 21.30 malam, deru mesin turbofan pesawat berbadan lebar yang membawa Alma meraung keras di ketinggian ribuan kaki, menembus lapisan awan gelap gulita yang menyelimuti garis pantai kota. Di dalam kabin kelas bisnis yang diterangi cahaya lampu LED kebiruan temaram, Alma duduk di dekat jendela kaca ganda yang memperlihatkan hamparan kegelapan tanpa batas di luar sana. Dari sudut pandang tempat duduknya, kerlap-kerlip lampu kota metropolitan yang dulunya menjadi saksi bisu atas segala keringat, air mata, dan patah hatinya perlahan-lahan menyusut, berubah menjadi titik-titik cahaya kecil sebelum akhirnya tertutup sempurna oleh gumpalan awan malam. Perjalanan udara malam ini bukan sekadar sebuah mobilitas geografis biasa, melainkan sebuah garis batas yang memisahkan masa lalunya yang penuh luka dari masa depan yang belum terjamah. Ia mengenakan mantel kasmir abu-abu tua, jemarinya menggenggam erat paspor bersampul biru tua dan tiket penerbangan satu arah menuju belahan bumi lain—sebuah titik tolak permanen yang menandai akhir dari seluruh drama korporat, ancaman sindikat, dan kisah cinta rumit yang menguras hampir seluruh kewarasannya. Di daratan yang kini ribuan meter di bawahnya, kenangan tentang studio seni, galeri berlampu sorot, dan perdebatan sengit di sudut ruangan seolah lenyap tersapu oleh tekanan udara kabin.

"Nona Alma, kami akan segera mematikan lampu kabin untuk penerbangan panjang ini. Apakah Anda membutuhkan selimut tambahan atau segelas air hangat sebelum beristirahat?" tanya seorang pramugari berpostur anggun dengan senyum ramah yang tersungging di balik seragam rapinya.

Alma menoleh pelan, menatap wanita berseragam itu sejenak sebelum menggelengkan kepala secara perlahan. "Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin sendiri untuk beberapa saat ke depan," jawab Alma dengan suara tenang, nyaris tanpa emosi.

"Baiklah, selamat menikmati penerbangan Anda menuju benua Eropa, Nona," balas pramugari itu sopan sebelum melangkah pergi menyusuri lorong kabin yang mulai sunyi.

Penerbangan malam itu terus melaju membelah langit malam yang pekat, membawa separuh jiwa Alma menuju zona asing yang menuntut profesionalisme tingkat tinggi, sementara separuh hatinya yang lain tertinggal jauh di tanah air bersama sisa-sisa reruntuhan masa lalunya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma mengambil keputusan ekstrem untuk meninggalkan tanah air dan terbang jauh ke belahan bumi lain sangatlah mendalam di tengah kehancuran batinnya: melakukan restart total terhadap kehidupannya yang telah compang-camping akibat intrik korporat dan patah hati yang teramat dalam. Tujuannya adalah membangun kembali karier internasional dari titik nol di lingkungan korporat multinasional yang steril dari kenangan masa lalunya bersama Aldo maupun bayang-bayang kelam sindikat pelabuhan. Alma menutup matanya sejenak di kursi pesawat, meresapi keheningan kabin yang kontras dengan hiruk-pikuk pertikaian yang baru saja ia tinggalkan di daratan. "Aku tidak boleh menoleh ke belakang lagi; aku harus membuktikan bahwa diriku lebih kuat daripada sekadar korban dari keadaan," batin Alma penuh tekad di dalam kesendiriannya. Target utamanya di kota tujuan nanti adalah memimpin divisi strategi global perusahaan mitra di kantor pusat luar negeri, sebuah posisi prestisius yang menuntut dedikasi mutlak, fokus tanpa distraksi, dan ketahanan mental baja. Ia ingin membuktikan kepada keluarganya, kepada para pengkhianat di perusahaannya, dan terutama kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu berdiri tegak di panggung dunia tanpa perlu bergantung pada siapa pun.

"Apakah penawaran posisi direktur regional di cabang luar negeri itu benar-benar sepadan dengan rasa sakit yang harus kau tinggalkan di sini, Alma?" bisik suara kecil di dalam kepalanya, mempertanyakan kewarasan dari keputusan nekat tersebut.

Alma membuka matanya kembali, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela pesawat yang gelap. "Lebih baik terluka di tempat baru yang memberiku kendali penuh, daripada mati perlahan di dalam sangkar kepatuhan atau pelukan cinta yang penuh tuntutan," jawabnya lirih dalam hati.

Tujuan besar Alma malam ini bukan sekadar melarikan diri, melainkan merebut kembali kedaulatan atas hidupnya sendiri, memastikan bahwa tidak ada satu pun manusia—baik keluarga maupun mantan kekasihnya—yang dapat kembali mendikte masa depannya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya