Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Ruangan Kosong dan Gema Kesepian di Studio

Malam hari di studio seni nasional yang terletak di jantung kota tua menghadirkan siksaan batin yang begitu pekat dan menyesakkan bagi Aldo. Di antara tumpukan kanvas besar bersandar dinding, tabung-tabung cat minyak yang berhamburan di lantai kayu berdebu, dan aroma terpentin yang menguap tajam di udara, kebebasan mutlak yang selama ini ia agungkan dan banggakan mendadak berubah wujud menjadi sebuah ruangan kosong yang menggema suara kesepiannya sendiri. Tidak ada lagi suara bantahan kaku, tidak ada lagi ketukan sepatu hak tinggi yang teratur di lantai, dan tidak ada lagi perdebatan sengit tentang efisiensi waktu yang biasanya menghidupkan sudut-sudut ruangan kumuh tersebut. Lampu gantung kuning temaram memproyeksikan bayangan panjang Aldo yang duduk membungkuk di atas kursi besi tuanya, menatap kosong ke arah cangkir keramik kasar di atas meja kerja yang mengepulkan uap tipis.

"Sunyi sekali..." bisik Aldo parau pada keheningan malam, suaranya memantul pelan di dinding loteng yang tinggi tanpa mendapatkan balasan apa pun selain derik angin malam yang menembus celah kaca jendela nako.

Ia mengangkat cangkir teh hangat itu dengan kedua tangannya, merasakan kehangatan menjalar di telapak tangannya, namun gagal menembus dingin yang merasuk ke dalam dadanya. Setiap kali ia menyeduh teh hangat di cangkir keramik kesayangannya itu, kebiasaan baru yang tanpa sadar ia pelajari dari perempuan itu langsung mengambil alih kesadarannya. Aldo mendapati dirinya terpaku menatap kursi kosong di seberang meja kerjanya—sebuah ruang hampa yang begitu nyata, tempat di mana tawa sinis, omelan kecil, dan bantahan kaku Alma biasanya duduk dengan anggun mengisi kesunyian malam-malam panjang mereka sebelumnya.

"Kamu terlalu banyak melamun, Aldo. Tehmu keburu dingin," bayangan suara Alma tiba-tiba melintas begitu jelas di telinganya, membuat dada pria itu berdegup kencang secara menyakitkan.

Aldo menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir halusinasi auditoris yang semakin sering menyerangnya dalam seminggu terakhir sejak kepergian perempuan itu ke Singapura. Ruang studio yang dulunya ia anggap sebagai kuil kesucian seni dan tempat pelarian paling sempurna dari segala bentuk ikatan birokratis, kini berubah fungsi menjadi sel isolasi emosional. Kebebasan absolut yang selama bertahun-tahun ia perjuangkan mati-matian di hadapan sang ayah dan dunia luar, kini terasa tidak ada artinya ketika ia harus menikmati kesendirian itu di dalam ruangan yang dikuasai sepenuhnya oleh kehampaan dan bayang-bayang masa lalu.

❖ ❖ ❖

Di balik kesunyian studio yang menghimpit dan cangkir teh yang mulai mendingin itu, tersimpan sebuah tujuan batin yang sangat kuat namun terselubung dalam keputusasaan bagi Aldo: ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa bertahan hidup dan berkarya tanpa keterikatan pada siapapun, persis seperti prinsip hidupnya sebelum mengenal Alma. Tujuan utama Aldo malam ini adalah menyelesaikan sebuah lukisan seri besar di atas kanvas raksasa—sebuah proyek estetis ambisius yang ia yakini akan mengembalikan gairah seninya dan membuktikan bahwa kebebasan mutlak adalah satu-satunya harga diri yang tidak boleh ia tawar. Namun, sekeras apa pun ia mencoba memfokuskan pikirannya pada goresan kuas dan komposisi warna, tujuan dasarnya selalu melenceng secara misterius.

"Aku tidak butuh siapa-siapa untuk melukis," gumam Aldo meyakinkan dirinya sendiri, mencelupkan kuas besar ke dalam wadah cat minyak berwarna biru kelam. "Aku adalah seniman bebas. Alma hanya babak singgah yang salah tempat."

Namun, saat ujung kuasnya menyentuh permukaan kanvas putih bersih, bentuk yang tercipta bukanlah garis-garis abstrak kebebasan yang biasa ia buat, melainkan siluet samar dari garis rahang seorang wanita dengan rambut tergerai bebas—sosok yang sangat ia kenal dan sangat ia rindukan setengah mati. Aldo terkesiap melihat hasil tangannya sendiri, lalu dengan kasar menggoreskan warna hitam pekat untuk menghapus gambar wajah tersebut, menumpuknya dengan sapuan cat yang beringas. Tujuan rasionalnya untuk berkarya secara mandiri runtuh seketika di hadapan kenyataan bahwa alam bawah sadarnya menolak untuk melupakan perempuan itu.

"Sialan..." gerutu Aldo tertahan, melempar kuas di tangannya hingga membentur kaleng cat dan meninggalkan noda berantakan di lantai. "Kenapa bayanganmu tidak mau pergi dari kepala sialan ini, Alma?"

Tujuan batinnya kini bergeser menjadi sebuah keputusasaan yang sunyi: ia ingin mencari cara bagaimana cara meredam rasa sakit di dadanya, bagaimana cara memaafkan kebodohannya sendiri yang terlambat menyadari bahwa cinta tidak selalu berarti penjara.

❖ ❖ ❖

Transisi dari ambisi artistik yang berapi-api menuju kelelahan mental yang luar biasa terjadi begitu cepat di dalam studio yang semakin malam terasa semakin dingin itu. Aldo menjatuhkan tubuhnya bersandar ke sandaran kursi besi, menutup matanya rapat-rapat sementara napasnya terdengar berat dan lelah. Tumpukan tabung cat, kanvas-kanvas usang, dan aroma terpentin yang tadinya membangkitkan inspirasi kini berubah menjadi partikel-partikel sesak yang mengurungnya di dalam sangkar ciptaannya sendiri. Kesadaran pahit merayap masuk ke dalam benaknya: kebebasan mutlak yang ia agungkan selama ini ternyata hanyalah sebuah pelarian pengecut dari rasa takut untuk berkomitmen.

"Selama ini aku menyalahkan ayahku karena memenjarakanku..." ucap Aldo lirih pada kegelapan loteng studionya. "...padahal akulah yang membangun penjara paling kejam di dalam hatiku sendiri, dan aku mengunci diriku di dalamnya sendirian."

Lihat selengkapnya