Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Garis Waktu yang Berjalan Sendiri-Sendiri

Minggu pertama perpisahan resmi itu ditutup dengan keheningan malam yang pekat, membentangkan jarak geografis dan emosional selebar ribuan kilometer di antara dua belahan dunia yang berbeda. Di sebuah kamar hotel pencakar langit berlantai empat puluh yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota metropolitan benua seberang, Alma duduk mematung di hadapan layar komputer jinjing yang menyala terang. Pantulan cahaya biru dari layar membasahi wajahnya yang tampak lelah, sementara dering notifikasi surel korporat berbunyi tanpa henti di sudut kanan bawah monitor. Tidak ada lagi suara desiran angin studio seni atau aroma cat minyak yang akrab di indra penciumannya; yang ada hanyalah suara dengung halus AC sentral dan ketukan kaku sepatu hak tinggi para eksekutif yang berlalu-lalang di lorong karpet tebal luar kamar. Alma menarik napas panjang, merapikan setelan jas formal berwarna arang yang melekat di tubuhnya, lalu kembali memfokuskan pandangan pada presentasi laporan kuartal baru yang harus diselesaikan sebelum fajar menyingsing di belahan bumi utara ini. Di sisi lain, ribuan kilometer jauhnya di bawah langit malam tropis yang lembap, Aldo berdiri seorang diri di tengah studinya yang luas. Pria itu memegang kuas cat minyak dengan tangan berlumuran warna merah tua dan oker, menatap kosong ke arah kanvas besar yang baru saja ia mulai. Bau terpentin yang pekat menusuk hidungnya, berpadu dengan suara jangkrik malam yang samar dari luar jendela kaca studio yang berdebu. Mereka berdua kini resmi menjadi dua garis paralel di atas bidang koordinat tak kasat mata—berjalan lurus ke depan, menatap ke arah yang berbeda, dan membawa keyakinan bahwa jarak mutlak ini tidak akan pernah memberi ruang bagi takdir untuk mempertemukan garis mereka kembali.

"Apakah laporan analisis pasar untuk kawasan Asia sudah dikirim ke meja direksi?" suara dingin seorang rekan kerja berbisik melalui sambungan interkom meja.

"Sudah, sepuluh menit lalu," jawab Alma datar tanpa menoleh dari layar monitornya. "Pastikan revisi anggaran operasional cabang sudah diverifikasi sebelum rapat pagi dimulai."

Alma menutup sambungan interkom tersebut dengan gerakan mekanis yang terlatih, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja beroda yang empuk. Ia menatap cangkir kopi hitam di atas meja yang telah mendingin, menyadari betapa cepat ia terbiasa kembali pada ritme hidup korporat yang kejam dan penuh tekanan. Di belahan bumi yang lain, Aldo melemparkan kuasnya ke atas meja palet dengan rasa frustrasi yang tertahan, lalu mengusap wajahnya yang kotor oleh noda cat menggunakan punggung tangan yang kasar.

"Sial," umpat Aldo pelan pada kesunyian ruangannya. "Kenapa setiap tarikan garis di kanvas ini selalu berujung pada bayangan wajahmu, Alma?"

Jarak ribuan kilometer itu tidak hanya memisahkan benua dan zona waktu, tetapi juga membekukan komunikasi di antara mereka. Tidak ada lagi sapaan pagi, tidak ada lagi perdebatan kecil soal biskuit marie, dan tidak ada lagi tatapan sinis namun penuh perhatian yang biasa mereka bagikan di kedai kopi sudut kota. Minggu pertama ini berjalan lambat dan menyiksa, di mana setiap detik diukur bukan lagi dari pencapaian profesional atau kebebasan artistik, melainkan dari seberapa besar tenaga yang harus dikeluarkan untuk menahan diri agar tidak mengetik nama satu sama lain di layar pencarian ponsel.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Alma dan Aldo menjalani minggu pertama perpisahan ini sebenarnya sama persis, yakni membuktikan kepada diri mereka sendiri dan dunia luar bahwa keputusan untuk berpisah jalan adalah pilihan paling logis demi kelangsungan masa depan masing-masing. Di balik meja kaca megah lantai empat puluh, Alma menetapkan tujuan karier yang sangat ambisius: ia ingin merebut posisi direktur pelaksana regional dalam kurun waktu satu tahun ke depan, membuktikan bahwa dirinya adalah wanita tangguh yang tidak membutuhkan sandaran emosional apa pun untuk meraih puncak kejayaan korporat.

"Aku tidak boleh gagal di sini," ucap Alma tegas pada pantulan wajahnya di jendela kaca hotel yang memperlihatkan lanskap kota asing di bawah sana. "Hidupku harus kembali teratur, bersih dari segala drama sentimental yang melelahkan."

Sementara itu di studunya, Aldo menanamkan tujuan yang tidak kalah keras kepala: ia ingin merampungkan seluruh seri lukisan pameran tunggal nasionalnya tanpa bantuan kritik atau campur tangan pemikiran siapa pun. Pria itu bertekad menunjukkan bahwa karya seninya justru mencapai kematangan tertinggi ketika ia sepenuhnya terisolasi dari segala gangguan relasi asmara yang dianggapnya sebagai racun bagi kreativitas seorang pelukis murni.

"Karya ini akan berbicara sendiri," gumam Aldo sambil menatap tajam ke arah kanvas hitam putih di hadapannya. "Aku tidak butuh inspirasi dari siapa pun untuk menciptakan sebuah mahakarya."

Namun, di balik narasi ambisius dan tujuan profesional yang diikrarkan dengan suara lantang tersebut, tersimpan sebuah tujuan batin yang jauh lebih rapuh dan rahasia. Keduanya secara diam-diam berharap bahwa kesibukan yang membabi buta ini mampu membunuh rasa rindu yang terus menggerogoti dinding dada mereka. Alma ingin melupakan debar jantung setiap kali ia mengingat aroma cat di kemeja Aldo, dan Aldo ingin menghapus memori tentang senyum sinis namun hangat yang biasa diberikan Alma setiap kali ia meremehkan lukisan abstrak buatannya. Tujuan mereka bukan lagi membangun masa depan bersama, melainkan bertahan hidup di dalam kehampaan yang mereka ciptakan sendiri dengan penuh kesadaran.

❖ ❖ ❖

Transisi dari minggu pertama kesibukan yang padat menuju realitas malam yang sunyi terjadi secara drastis ketika jam dinding menunjuk pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Di kamar hotelnya, Alma menghentikan ketikan jarinya pada papan tombol laptop, merilekskan bahunya yang terasa kaku akibat duduk berjam-jam dalam posisi yang sama. Suasana kamar hotel yang tadinya terasa mewah dan menenangkan mendadak berubah menjadi ruang isolasi yang mencekam. Transisi psikologis itu bekerja tanpa aba-aba; topeng profesionalisme dan ketegasan korporat yang ia kenakan sepanjang hari tiba-tiba luruh begitu saja ketika ia menatap layar ponsel pintarnya yang tergeletak bisu di atas meja nakas.

"Apakah dia baik-baik saja di sana...?" gumam Alma pelan, jemarinya terulur menyentuh permukaan layar ponsel yang gelap gulita.

Di waktu yang sama, di belahan bumi yang berbeda, Aldo mengalami transisi batin yang serupa. Pria itu mematikan lampu sorot utama studunya, menyisakan satu lampu meja kuning temaram yang memantulkan bayangan panjang di dinding beton. Ia berjalan gontai menuju sudut ruangan, menuangkan air putih ke dalam gelas kaca, lalu duduk di kursi kayu usang di dekat jendela. Suara deru kendaraan malam di luar studio terdengar sayup-sayup, menemani transisi emosional dari amarah kreatif menuju gelombang kesepian yang menghantam ulu hatinya tanpa ampun.

"Minggu pertama sudah terlewati," bisik Aldo parau pada gelas kaca di tangannya. "Tapi rasanya seperti melewati satu abad penuh siksaan."

Pergeseran waktu dari siang yang sibuk menuju malam yang hening ini memperlihatkan sisi paling jujur dari pertahanan diri mereka yang rapuh. Kesibukan rapat lintas benua dan goresan kuas beringas di atas kanvas ternyata tidak cukup ampuh untuk menghapus memori tentang kehadiran satu sama lain. Garis paralel yang mereka pilih untuk dijalani ternyata mulai terasa begitu sempit dan menyesakkan, seolah jarak geografis ribuan kilometer itu tidak mampu meredam tarikan gravitasi perasaan yang telanjur mengakar kuat di dalam jiwa mereka berdua.

Lihat selengkapnya