Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Hampa di Antara Tepuk Tangan dan Kanvas Gelap

[partImg:[0]]

Pukul 20.45 malam, ruang galeri seni kontemporer nasional yang terletak di jantung ibu kota bergemuruh meriah di bawah sorotan ratusan lampu kristal gantung yang memancarkan kilau kemewahan. Udara di dalam ruangan luas itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal, dering gelas kristal yang saling beradu dalam toast perayaan, serta riuh rendah suara tawa para kolektor papan atas, kritikus seni terkemuka, dan pejabat tinggi yang berbondong-bondong memberikan penghormatan. Di tengah kerumunan yang berdesakan itu, Aldo berdiri mengenakan setelan jas hitam rapi hasil rancangan desainer terkenal, memegang segelas anggur merah yang belum sempat ia teguk sejak tadi. Pesta resepsi malam itu diselenggarakan khusus untuk merayakan kesuksesan luar biasa pameran tunggal pertamanya yang terjual habis dalam hitungan jam, menempatkan namanya di puncak jajaran seniman paling dicari di negeri ini. Namun, kemegahan dekorasi galeri, kemilau lampu sorot, dan deretan piala penghargaan yang berjajar di atas meja resepsionis tidak mampu menembus dinginnya keheningan yang menyelimuti batin sang pelukis. Di hadapannya, para kurator senior mengangkat tinggi-tinggi gelas mereka, meneriakkan pujian bertubi-tubi atas kejeniusan goresan kuasnya, namun setiap kata sanjungan itu terdengar hampa, memantul di dinding kesadarannya bagaikan gema kosong dari dunia yang terasa asing.

"Pameranmu ini adalah sebuah mahakarya abad ini, Aldo! Lukisan-lukisan abstrakmu benar-benar memiliki jiwa yang menghipnotis siapa saja yang melihatnya," puji Tuan Baskoro, seorang kolektor seni senior berbadan tambbun, sambil menepuk-nepuk bahu Aldo dengan antusias.

Aldo memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya, menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang sayu. "Terima kasih banyak, Tuan Baskoro. Dukungan Anda sangat berarti bagi perkembangan seni saya," jawab Aldo dengan nada suara datar yang berusaha ia sembunyikan di balik keramahan formal.

"Jangan rendah hati begitu, kawan! Pundi-pundi uang dari hasil penjualan galeri malam ini sudah cukup untuk membuatmu hidup makmur seumur hidup," timpal seorang kurator wanita muda di sampingnya dengan tawa renyah yang berderai.

Aldo hanya mengangguk kecil, menyesap sedikit cairan merah di dalam gelasnya, sementara pikirannya melayang jauh menembus kerumunan manusia yang sibuk memuji pencapaian materialnya yang gemilang.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aldo di tengah malam perayaan yang megah tersebut sebenarnya sangat kontras dengan keriuhan di sekelilingnya: mencari secercah ketenangan batin dan menemukan alasan yang sah di balik seluruh lelah serta pengorbanan yang telah ia pertaruhkan selama bertahun-tahun. Tujuannya adalah membuktikan kepada dunia—dan terutama kepada bayang-bayang masa lalunya—bahwa ia mampu berdiri sebagai seorang seniman besar yang mandiri tanpa harus tunduk pada aturan atau tuntutan korporat siapapun. Aldo menarik napas dalam-dalam, berusaha memfokuskan perhatiannya pada deretan karya mahal miliknya yang kini terpajang megah di dinding galeri berbingkai emas. "Aku sudah mendapatkan apa yang selama ini diperdebatkan, kesuksesan mutlak dan pengakuan nasional," batin Aldo meyakinkan dirinya sendiri di tengah bisingnya pesta. Target utamanya malam itu adalah menikmati buah dari kerja kerasnya, membiarkan pundi-pundi uang hasil penjualan galeri mengisi rekeningnya, dan menerima tepuk tangan meriah dari para penikmat seni sebagai bentuk pelunasan atas rasa sakit hatinya di masa lalu. Ia ingin membuktikan bahwa jalurnya sebagai seniman tidak pernah salah langkah.

"Apakah ada proyek kolaborasi internasional yang sedang kau siapkan selanjutnya setelah kesuksesan besar pameran tunggal ini, Aldo?" tanya sang kurator utama dengan mata berbinar penuh harap.

Aldo menatap lurus ke depan, jemarinya meremas tangkai gelas kaca dengan cengkeraman yang sedikit mengeras. "Untuk saat ini, saya hanya ingin menikmati karya-karya yang sudah tercipta, tanpa terikat pada target atau jadwal korporat apa pun," jawab Aldo tegas, menyuarakan prinsip kebebasannya.

Tujuan besar Aldo bukan lagi mencari validasi dari orang lain, melainkan menagih kepuasan jiwa yang ia yakini akan datang bersamaan dengan tumpukan piala dan materi gemilang di tangannya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya