Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Menolak Dunia demi Membangun Akar di Rumah

Matahari sore memancarkan cahaya keemasan yang hangat menembus jendela kaca besar studio seni lokal yang baru dirintis Aldo di sudut kota asalnya, memantulkan bayangan panjang di atas lantai kayu yang bersih dan harum aroma cat baru. Di atas meja kerja kayunya yang tertata rapi, sebuah amplop tebal berlogo kurator seni internasional terkemuka tergeletak mencolok di samping cangkir keramik isi teh hangat yang mengepulkan uap tipis. Hari itu, angin musim kemarau berhembus lembut membawa debu jalanan luar, namun di dalam ruangan berukuran sedang ini, suasana terasa begitu hening dan menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk galeri megah luar negeri yang selama ini memuja karya-karyanya. Aldo berdiri mematung di dekat dinding pameran, menatap lurus ke arah kanvas-kanvas besar hasil karya terbarunya yang kini mengusung tema akar, rumah, dan ketenangan batin yang matang.

"Surat resmi dari komite pameran keliling dunia sudah mendarat di meja kerja utama, Aldo," suara Faris terdengar dari ambang pintu studio, membawa serta ekspresi takjub bercampur rasa penasaran yang mendalam.

Aldo menoleh perlahan, menyunggingkan senyuman tipis tanpa sedikit pun secercah keterkejutan di matanya. Ia sudah menduga bahwa tawaran prestisius itu cepat atau lambat akan datang menghampirinya, mengingat popularitas karya-karyanya yang melesat tajam pasca kepulangannya dari Singapura beberapa bulan lalu.

"Biarkan saja surat itu di sana, Far," jawab Aldo tenang, kembali mengalihkan pandangannya pada lukisan pemandangan akar pohon yang menghujam bumi dengan kokoh di hadapannya.

Bagi siapa pun di dunia seni kontemporer saat ini, tawaran pameran keliling dunia selama dua tahun penuh menembus benua Eropa dan Amerika adalah impian tertinggi yang setara dengan puncak karier seorang pelukis. Namun, di bawah temaram cahaya sore yang menenangkan itu, Aldo menyadari bahwa definisi kesuksesan di dalam kepalanya telah mengalami pergeseran total, mengubah orientasi hidupnya dari ambisi nomaden tanpa arah menjadi kerinduan mendalam akan ketetapan dan kedamaian rumah.

❖ ❖ ❖

Di balik ketenangan sikapnya menanggapi amplop kurator internasional tersebut, tersimpan sebuah tujuan batin yang sangat kokoh dan tidak bisa ditawar lagi bagi Aldo: ia ingin secara sadar menolak segala bentuk pelarian megah demi memilih menetap dan membangun akar kehidupan yang nyata di kota asalnya. Tujuan utama Aldo hari ini bukan lagi mengejar pengakuan global atau memamerkan eksistensi diri di galeri-galeri elite benua seberang, melainkan mendedikasikan sisa hidup dan tenaganya untuk mendirikan sebuah pusat seni lokal yang inklusif. Ia ingin galeri kecil itu menjadi ruang aman bagi seniman muda daerah untuk bertumbuh, sekaligus menjadi fondasi tetap yang membuktikan bahwa ia kini adalah pria matang yang siap bertanggung jawab atas tempat di mana ia berpijak.

"Aku tidak mau lagi hidup mengembara mengejar angin, Faris," ucap Aldo tegas sambil melangkah mendekati meja kerjanya, meraih amplop tebal berlogo emas itu tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.

Tujuan rasional itu mendasari seluruh keputusan besar yang ia ambil sore ini. Dulu, tawaran pameran keliling dunia adalah satu-satunya hal yang paling ia agungkan dan perjuangkan dengan mengorbankan segalanya—termasuk hubungannya dengan Alma. Namun kini, setelah ia memahami filosofi biskuit dan cangkir teh, ia sadar bahwa hidup yang bermakna membutuhkan batas, komitmen, dan rumah tempat pulang yang pasti.

"Kalau aku terus-menerus terbang ke luar negeri demi memuaskan egomu sebagai seniman bebas, aku akan kehilangan hal paling berharga yang baru saja kutemukan kembali di sini," gumamnya pelan pada Faris yang berdiri mengamati dengan penuh rasa hormat.

Tujuan batinnya telah bermetamorfosis dari kebebasan destruktif menjadi komitmen konstruktif: membangun galeri lokal, merawat karya-karya bermakna, dan menciptakan ruang permanen yang sewaktu-waktu siap menyambut kepulangan seseorang yang istimewa di hatinya.

❖ ❖ ❖

Transisi dari bayang-bayang dunia internasional yang gemerlap menuju realitas sederhana di studio lokal terjadi secara mengalir dan penuh kesadaran di dalam hati Aldo. Ia membuka amplop tebal tersebut, membaca sekilas lembaran kontrak kerja sama bernilai fantastis yang menjanjikan ketenaran global, lalu dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan mantap, ia melipat kertas tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam laci meja tanpa menandatanganinya. Tidak ada rasa gemetar, tidak ada penyesalan, dan tidak ada keraguan sedikit pun; yang ada hanyalah kelegaan luar biasa seolah ia baru saja melepaskan ransel berat yang selama bertahun-tahun menindas pundaknya.

"Kamu yakin menolak kontrak dua tahun itu, Aldo? Itu tiket emas menuju museum-museum besar di Paris dan New York," tanya Faris memastikan, matanya menatap tak percaya ke arah laci meja yang tertutup rapat.

Aldo tersenyum hangat, menepuk pelan bahu sahabat setianya itu sambil memandang berkeliling ke seluruh sudut studinya yang beraroma cat minyak dan kayu mahoni. "Aku sudah cukup lama berkelana mencari pengakuan dunia, Far. Sekarang saatnya aku berhenti berlari dan mulai menanam akar di tanah sendiri."

Lihat selengkapnya