Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #73

Takdir yang Merajut Kembali Benang Waktu

Matahari sore di Jakarta memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat, merayap lembut di antara deretan pohon angsana tua yang rindang menaungi trotoar kota. Pukul 16.15 sore, suasana lingkungan sekitar terasa begitu akrab namun menyimpan ribuan kenangan yang terkubur dalam-dalam. Langkah kaki Alma menyusuri trotoar lama tersebut dengan irama yang tenang, menikmati setiap embusan angin tropis yang membawa serta debu jalanan dan aroma khas kota metropolitan yang basah usai diguyur hujan gerimis sesaat sebelumnya.

Ia mengenakan setelan kasual sederhana—kaos polos berwarna putih dibalut mantel rajut tipis dan celana bahan katun yang longgar—jauh berbeda dari penampilan formal dan kaku saat ia masih berstatus sebagai eksekutif keuangan di Singapura beberapa waktu lalu. Setelah kepulangannya yang dramatis bersama Aldo, ia kini benar-benar berdiri di atas tanah kelahirannya, menghirup udara yang sama yang dulu pernah ia tinggalkan dengan hati penuh amarah dan keraguan.

Langkah kakinya terus membawanya maju, melewati beberapa sudut jalan yang sebagian besar masih sama seperti sisa ingatan masa lalunya, hingga akhirnya ia berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua berarsitektur kolonial modern yang bagian depannya dihiasi oleh tanaman merambat hijau. Di atas pintu masuk, tergantung sebuah papan nama kayu jati tua dengan ukiran huruf klasik yang tidak banyak berubah sejak terakhir kali ia tinggalkan bertahun-tahun lalu: Kedai Kopi & Teh Senja.

Kedai kopi independen itu selalu menjadi tempat pelarian favorit mereka di masa lalu—sebuah tempat di mana aroma biji kopi panggang lokal berpadu sempurna dengan keharuman daun teh melati pilihan. Jendela-jendela kacanya yang besar memantulkan cahaya senja yang kemerahan, sementara dari dalam ruangan terdengar sayup-sayup alunan musik akustik instrumental yang menenangkan jiwa. Alma berdiri terpaku sejenak di depan pintu masuk, memandangi papan nama kayu tersebut sambil menarik napas dalam-dalam, membiarkan memori tentang lembaran-lembaran masa lalu yang belum sepenuhnya tuntas berkelebat pelan di dalam benaknya.

"Tidak ada yang berubah di sini..." bisik Alma pelan pada dirinya sendiri, sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Karena beberapa hal memang diciptakan untuk tetap abadi, Alma," sebuah suara bariton yang sangat ia kenal tiba-tiba terdengar lembut dari arah samping.

❖ ❖ ❖

Tujuan Alma melangkah menyusuri trotoar lama hingga tiba di depan kedai kopi independen sore ini sebenarnya sangat personal dan sederhana: ia ingin menengok kembali tempat-tempat bersejarah di masa lalunya, merajut kembali kepingan-kepingan memori yang sempat berserakan, dan menutup lembaran lama dengan kedamaian batin yang utuh. Setelah keputusannya yang berani menolak kontrak kerja jangka panjang di Singapura dan memilih pulang bersama Aldo, ia merasa perlu berjalan sendiri menyusuri jalanan kota ini untuk memastikan bahwa kepulangannya bukan sekadar pelarian baru, melainkan sebuah awal yang benar-benar bersih.

Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi takut pada bayang-bayang masa lalu, tidak lagi cemas pada ketidakpastian masa depan, dan tidak lagi membutuhkan aturan kalkulator yang kaku untuk menata hidupnya. Tujuannya hari ini adalah duduk sendirian di sudut kedai kopi favoritnya, memesan secangkir teh melati hangat, dan merenungkan perjalanan batin yang telah membawanya kembali ke pelukan kota tempat ia dilahirkan.

"Aku hanya ingin bernyaman-nyaman dengan masa lalu sebentar, Aldo," kata Alma tanpa menoleh, meskipun ia tahu persis siapa pemilik suara bariton yang baru saja menyapanya.

Di sisi lain, kedatangan Aldo di tempat yang sama pada detik yang persis bersamaan bukanlah sebuah kebetulan semata. Sebagai seorang pelukis yang hidupnya sering kali dituduh berjalan tanpa arah, Aldo memiliki tujuan batin yang tak kalah kuat: ia ingin menunjukkan kepada Alma—dan kepada dirinya sendiri—bahwa ia kini siap memikul komitmen jangka panjang, siap berjalan berdampingan tanpa rasa takut, dan siap mengisi setiap ruang kosong di masa depan bersama perempuan yang paling ia kasihi.

Secara kebetulan—atau memang takdir yang sengaja merajut kembali benang waktu yang sempat putus—pintu kaca kedai itu terbuka berbarengan dengan saat Aldo memarkirkan motor skuter klasik miliknya di depan bangunan tersebut.

"Aku tahu kamu akan berjalan ke arah sini," ujar Aldo sambil melangkah mendekat, melepaskan helm half-face yang ia kenakan dan merapikan rambut ikalnya yang sedikit berantakan kena angin jalanan. "Tempat ini selalu menjadi magnet bagi kita berdua, bahkan ketika kita mencoba lari sejauh ribuan kilometer darinya."

Alma menoleh, menatap mata Aldo yang berbinar hangat di bawah temaram cahaya senja. Tujuannya yang tadinya ingin menyendiri seketika melunak, digantikan oleh rasa syukur yang membuncah karena takdir ternyata memiliki rencana yang jauh lebih indah daripada apa yang bisa ia rancang dalam spreadsheet mana pun.

❖ ❖ ❖

Transisi waktu dan suasana di depan kedai kopi tua itu terasa begitu magis, seolah alam semesta sendiri sedang bersekongkol untuk mempertemukan kembali dua jiwa yang sempat terpisah oleh ego dan kesalahpahaman. Angin sore berembus pelan, menerpa dedaunan kering di trotoar dan membawa serta aroma khas teh melati yang langsung menguar dari dalam kedai tatkala pintu kaca utamanya terdorong terbuka oleh seorang pelayan yang hendak membersihkan meja teras luar.

Aroma harum bunga melati yang bercampur dengan wangi kopi tubruk itu menghantam indra penciuman Alma, seketika membawanya melompat mundur melintasi ruang dan waktu—kembali ke masa-masa ketika ia dan Aldo sering menghabiskan waktu berjam-jam di sudut kedai ini, berdebat sengit tentang makna seni, angka, dan arti kebebasan hidup.

"Ingatkah kamu, dulu kita sering bertengkar hebat di meja pojok sana hanya karena aku bilang pembukuan keuangan kedai ini berantakan?" kenang Alma sambil tertawa kecil, sorot matanya melembut menatap ke arah dalam ruangan kedai yang temaram.

Aldo ikut tersenyum lebar, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaket kulit usangnya. "Bagaimana bisa aku lupa? Kamu hampir membuat pemilik kedai ini pingsan karena menawarkan diri untuk mengaudit ulang seluruh nota belanja mereka secara gratis hanya demi membuktikan bahwa sistem kasir manual mereka tidak efisien."

Transisi emosional itu mengalir begitu natural, menjembatani jurang pemisah yang sempat tercipta selama bulan-bulan perpisahan mereka di negeri orang. Segala kecanggungan, rasa sakit hati di masa lalu, dan sisa-sisa amarah perlahan-lahan luruh tersapu oleh kehangatan kenangan yang terpampang di hadapan mereka. Tidak ada lagi jarak di antara langkah kaki mereka; yang tersisa hanyalah dua manusia yang telah belajar dari kesalahan, bertumbuh dewasa melalui luka, dan kini berdiri berdampingan dengan hati yang sepenuhnya terbuka.

"Aku sudah berubah, Aldo," ucap Alma pelan, menatap lurus ke dalam manik mata sang pelukis. "Aku tidak lagi menuntut dunia ini berjalan sesuai rumus matematika yang kaku."

"Dan aku juga sudah berubah, Alma," balas Aldo dengan suara yang penuh keyakinan, melangkah lebih dekat hingga jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal. "Aku tidak lagi takut pada ikatan, dan aku tidak lagi menggunakan kebebasan sebagai alasan untuk melarikan diri darimu."

Transisi dari masa lalu yang penuh cela menuju masa kini yang penuh harapan itu ditandai oleh anggukan kepala pelan dari keduanya. Pintu kaca kedai kopi yang terbuka lebar seolah mengundang mereka berdua untuk melangkah masuk, meninggalkan bayang-bayang lama di luar, dan memulai babak baru di tempat di mana segalanya bermula.

❖ ❖ ❖

Meskipun suasana di luar kedai tampak begitu puitis dan menenangkan, rintangan psikologis batin yang harus dihadapi oleh Alma dan Aldo di ambang pintu tersebut belumlah sepenuhnya lenyap. Bayang-bayang ketakutan masa lalu—trauma akan pertengkaran hebat, ketakutan akan ekspektasi keluarga, dan keraguan apakah mereka benar-benar mampu mempertahankan komitmen jangka panjang tanpa saling melukai—kembali berkelebat sekilas di dalam benak masing-masing.

"Bagaimana jika kita mengulang kesalahan yang sama, Aldo?" tanya Alma tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit ragu saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu kaca kedai. "Bagaimana jika sifatku yang suka mengatur kembali menghancurkan kesabaranmu, dan sifatmu yang semaunya sendiri kembali membuatku merasa diabaikan?"

Lihat selengkapnya