Celap Celup

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Meja Nomor Empat dan Cangkir yang Menanti

[partImg:[0]]

Sore itu, aroma biji kopi sangrai dan uap teh jahe bercampur menjadi satu, melayang lembut di udara kedai tua tempat segala kisah bermula. Cahaya matahari senja menyusup malas melalui kaca jendela yang sedikit berdebu, melukis garis-garis jingga di atas lantai kayu yang mengkilap karena puluhan tahun terinjak waktu. Kedai tersebut tampak lengang, menyisakan keheningan yang menenangkan di antara deretan kursi kosong dan meja-meja kayu berpelitur gelap. Alma melangkah masuk perlahan, mengenakan mantel abu-abunya yang rapi dengan tas jinjing kulit tersampir di bahu kirinya. Langkah kakinya terdengar pelan, berderap ritmis di atas lantai kayu, membawa serta sisa-sisa angin luar yang sejuk. Begitu ia melewati ambang pintu, tanpa sadar matanya langsung tertuju ke sudut ruangan—ke arah meja nomor empat yang terletak tepat di bawah naungan lampu gantung temaram. Meja itu tampak sunyi, seolah sengaja dibiarkan kosong menunggu pemilik cerita aslinya kembali.

"Selamat sore, Mbak Alma. Mau pesan teh jahe hangat seperti biasa?" sapa Pak Joko, pemilik kedai, dari balik bar dengan senyuman ramah yang menyembunyikan garis-garis kerutan di wajah tua penandanya.

Alma tersenyum tipis, mengangguk sopan ke arah pria paruh baya itu sambil melangkah semakin mendekati sudut ruangan yang menyita perhatiannya. "Sore, Pak Joko. Ya, tolong buatkan satu cangkir teh jahe hangat, ya," jawabnya dengan suara lembut yang tenang, jauh dari kesan terburu-buru yang dulu selalu menyertai setiap gerakannya.

Ia berdiri sejenak di dekat meja nomor empat, menatap permukaan kayu berurat yang menyimpan sejuta memori perdebatan sengit, tawa tertahan, dan air mata perpisahan di masa lalu. Udara di sudut kedai itu terasa begitu akrab, membangkitkan gelombang nostalgia yang menghangatkan relung hatinya, namun kali ini tanpa rasa sakit atau penyesalan yang mencengkeram dada. Ia bukan lagi wanita kaku yang ketakutan pada bayangannya sendiri; ia datang membawa jiwa yang telah ditempa oleh kedewasaan dan pengalaman hidup di negeri seberang.

❖ ❖ ❖

Di balik langkah tenangnya menyusuri sudut kedai tersebut, tersimpan sebuah tujuan batin yang sangat mendalam dan tulus bagi Alma: ia ingin menuntaskan lingkaran kenangan yang selama bertahun-tahun menggantung di hatinya, sekaligus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu menghadapi masa lalu dengan kepala tegak. Tujuan utama Alma datang ke kedai ini sore itu bukan untuk mencari drama atau menghidupkan kembali bara api yang sudah padam, melainkan untuk menutup babak lama secara terhormat di atas meja nomor empat. Ia ingin duduk di kursi kayu itu sebagai seorang wanita merdeka yang seutuhnya, menikmati secangkir teh jahe hangat tanpa beban ekspektasi, dan memaafkan segala kekacauan yang pernah terjadi di antara ia dan Aldo.

"Aku datang bukan untuk meminta kembali, tapi untuk memastikan bahwa aku sudah berdamai dengan tempat ini," bisik Alma lirih pada dirinya sendiri, menarik kursi kayu di meja nomor empat lalu duduk dengan anggun.

Tujuan batin itu menuntun setiap tarikan napasnya agar tetap stabil di tengah debar jantung yang tiba-tiba bergemuruh pelan. Ia meletakkan tas tangannya di atas pangkuan, meluruskan punggungnya dengan postur tegap seorang manajer regional yang sukses, namun dengan kelembutan seorang wanita yang siap menerima takdir apa adanya. Ketika Pak Joko datang membawa nampan kecil berisi cangkir keramik berisi teh jahe hangat, Alma menyambutnya dengan senyuman tulus.

"Silakan, Nak Alma. Semoga rasanya masih sama seperti dulu," ucap Pak Joko ramah sebelum kembali ke balik bar.

Alma menatap uap tipis yang mengepul dari permukaan cangkir keramik tersebut. Tujuan hidupnya kini sangat jelas: ia ingin melanjutkan sisa lembaran hidupnya di kota ini dengan hati yang bersih, tanpa rasa benci, tanpa rasa sesal, dan tanpa bayang-bayang ketakutan masa lalu yang mengekang langkah kakinya ke mana pun ia pergi.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana hening kedai menuju pusaran emosi yang tak terduga terjadi dalam sepersekian detik ketika lonceng kecil di atas pintu utama tiba-tiba berderincing nyaring. Suara derincing logam itu memecah keheningan sore, mengalihkan perhatian Alma sejenak dari cangkir tehnya ke arah pintu masuk. Di saat yang hampir bersamaan, Aldo mendorong pintu utama dengan kuat dan menginjakkan kaki ke dalam kedai, membawa serta aroma udara luar dan napas yang sedikit terengah-engah setelah berlari kecil dari stasiun terdekat. Pria itu mengenakan jaket kulit gelap dengan rambut sedikit berantakan, sorot matanya memancarkan kerinduan yang mendalam dan ketegasan baru yang belum pernah Alma lihat sebelumnya pada diri pria itu.

"Aldo..." gumam Alma tanpa suara, jemarinya yang memegang gagang cangkir mendadak membeku di atas meja.

Transisi pemandangan itu terasa begitu surealis, bagaikan adegan dalam film lambat di mana waktu tiba-tiba melambat demi mempertemukan dua garis takdir yang sempat terputus secara tragis. Aldo yang tadinya berdiri di ambang pintu langsung terpaku di tempatnya begitu pandangannya menembus ruangan kedai yang setengah temaram. Mata mereka langsung beradu pandang secara langsung di antara deretan meja kayu yang kosong, menciptakan keheningan yang jauh lebih pekat daripada suara bising kota di luar sana. Tidak ada sapaan awal, tidak ada teriakan terkejut; keduanya terjebak dalam gravitasi tatapan mata yang berbicara jauh lebih banyak daripada ribuan kata yang tersimpan di dalam dada.

Lihat selengkapnya