Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #1

Ketukan di Pintu Senja

  Aroma pandan dan gurihnya santan selalu menjadi aroma yang paling lekat dengan tubuh Ibu. Sore itu, di dapur kontrakan sempit berukuran tiga kali empat meter yang di sewa di sudut gang, aroma itu menguar bersama uap panas dari panci besar. Ibu sedang mempersiapkan bahan untuk bubur dagangannya esok subuh. Tangan ringkihnya yang mulai dihiasi bintik-bintik penuaan dengan telaten mengaduk bulir-bulir beras yang perlahan melunak menjadi bubur. Di sudut ruangan, Aris, adik kecilku yang baru duduk di kelas empat sekolah dasar, tengah tengkurap beralaskan tikar plastik yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Pensilnya bergerak lambat di atas buku gambar, sesekali ia menguap lebar, kelelahan setelah seharian bersekolah.

Aku duduk di ambang pintu penghubung yang sempit, memperhatikan setiap gerak-gerik Ibu dengan dada yang terasa sesak. Kebetulan sekali hari ini aku punya waktu untuk berkunjung. Sejak menikah enam bulan yang lalu, aku jarang bisa berlama-lama di sini. Ada rindu yang mendalam, tetapi ada pula sebentuk rasa bersalah yang terus menghantuiku setiap kali melangkah kaki masuk ke rumah ini. Aku, anak sulungnya, yang seharusnya menjadi penopang ketika badai menghantam keluarga kami, kini justru seolah terbang membawa hidupku sendiri, meninggalkan Ibu berjuang sendirian di tengah sisa-sisa badai itu.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan memecah keheningan sore yang berisik oleh suara bising kendaraan dari jalan raya tak jauh dari gang. Ketukan itu tidak keras, cenderung sopan dan ragu-ragu. Ketukan tiga kali yang ritmis.

“Nisa, tolong buka pintunya,” seru Ibu tanpa menoleh, suaranya terdengar serak dan berat. Napasnya agak memburu, tanda bahwa tekanan darah tingginya mungkin sedang kumat lagi belakangan ini. Aku tahu betul, Ibu sering menyembunyikan rasa pusingnya di balik senyum lelah atau kesibukan yang dipaksakan. Aku bangkit berdiri, merapikan daster rumahan yang kupakai.

Ketika daun pintu kuayunkan terbuka, sosok seorang lelaki paruh baya berdiri di sana. Pandangan pertama kami bertemu. Lelaki itu mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi meski warnanya sudah sedikit memudar, dipadukan dengan celana kain hitam yang disetrika halus. Wajahnya bersih, dengan gurat-gurat usia yang matang namun memancarkan keteduhan. Rambutnya sebagian besar sudah memutih, disisir rapi ke belakang. Dari taksiran kasat mataku, usianya mungkin sekitar tiga atau lima tahun lebih muda dari Ibu, mungkin menjelang kepala lima.

“Selamat sore. Mbak Nisa, ya?” sapanya ramah, sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya yang ramah. Ia memegang sebuah kantong kresek berisi buah-buahan. Aku terpaku sejenak, mengangguk ragu.

“Iya, Pak. Maaf, mencari siapa ya?”

“Saya Rahman, Nak. Teman... ah, kenalan Ibumu. Apa Ibumu ada di rumah?” tanyanya dengan nada suara yang sangat lembut dan penuh tata krama. Ketegasannya berselimut kesopanan yang membuatku tidak bisa menaruh curiga.

“Oh, iya, ada. Mari masuk, Pak,” jawabku akhirnya, menggeser tubuh untuk memberinya jalan. Ruang tamu kami yang merangkap ruang belajar Aris melompong tanpa kursi. Hanya ada satu karpet tipis yang biasa kami gunakan untuk duduk bersama. Pak Rahman tampak tidak keberatan sama sekali. Ia melepas sandal kulitnya dengan rapi di luar, lalu melangkah masuk dan duduk bersila di atas karpet dengan canggung namun tetap berusaha terlihat santai.

Aku segera beranjak ke dapur untuk memanggil Ibu sekaligus membuatkan minum.

“Bu, ada tamu. Namanya Pak Rahman,” bisikku di dekat telinga Ibu.

Gerakan tangan Ibu yang sedang memegang sutil kayu mendadak terhenti. Aku bisa melihat tubuhnya sedikit menegang. Semburat merah yang samar muncul di pipinya yang mulai kendur, sebelum berganti dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban tersembunyi. Ibu mematikan kompor gas satu tungku kami, mengelap tangannya pada kain serbet yang tergantung di dinding, lalu merapikan jilbab instannya.

Lihat selengkapnya