Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #2

Cemara yang Patah #2

Kalimatku yang menggantung di udara sore itu akhirnya mendarat sebagai sebuah permohonan yang berat. Dengan sisa-sisa ketegaran yang kupaksakan tampil di permukaan, aku menatap lurus ke dalam manik mata Pak Rahman. Ada ketulusan yang teramat sangat di sana, namun hatiku terlalu penuh untuk langsung mengiyakan atau menolak sebuah keputusan yang akan memutar balik kemudi hidup keluarga kami.

​  “Pak Rahman,” ucapku pelan, meremas jemariku sendiri untuk meredam getar.

“Saya sangat menghargai niat baik Bapak. Benar-benar menghargainya. Tapi... bagi saya, ini adalah hal yang teramat besar. Bolehkah saya meminta waktu? Tidak lama, Pak. Beri saya waktu dua atau tiga hari saja untuk berpikir dan menata semua ini di kepala saya.”

Pak Rahman tidak tampak kecewa. Sebaliknya, senyuman maklum kembali terbit di wajahnya yang teduh. Beliau mengangguk perlahan, sebuah anggukan yang sarat akan pemahaman mendalam tentang posisi sulit seorang anak sulung.

“Tentu saja, Mbak Nisa. Saya sangat memahami,” jawab Pak Rahman dengan nada suara yang menenangkan.

“Menikah di usia seperti kami bukan lagi tentang letup-letup emosi masa muda, melainkan tentang menyatukan sisa hidup dengan tenang. Saya tidak ingin terburu-buru. Pikirkanlah dengan matang, bicarakan dengan hati yang jernih.”

Lihat selengkapnya