Pagi buta selalu membawa ritme yang paling sunyi sekaligus paling menguras energi di rumah kecil kami. Sebelum matahari benar-benar menyapa bumi, aku sudah harus terbangun. Bukan karena alarm ponsel, melainkan karena suara seretan langkah kaki kikuk dari kamar sebelah, disusul ketukan jemari yang tak sabar pada daun pintu kayu. Ayah terbangun lagi. Dan seperti hari-hari sebelumnya, merawat Ayah di kondisinya yang sekarang tidak pernah menjadi urusan yang mudah.
Serangan stroke ringan setahun lalu yang melumpuhkan bagian tubuh kirinya sebenarnya hanyalah pucuk dari gunung es kesulitan kami. Badai yang sesungguhnya, yang menguji kewarasanku setiap hari, adalah demensia yang perlahan tapi pasti menggerogoti ingatan dan kepribadiannya. Ayah bukan lagi pria bijaksana yang dulu memelukku erat saat aku menangis. Ayah yang sekarang adalah seorang anak kecil yang terperangkap dalam tubuh rapuh lelaki paruh baya.
“Nisa... Nisa... Ayah mau pulang. Buka pintunya, Ayah mau pulang ke rumah bapak,” panggilnya dengan suara ranyam yang serak. Tangannya yang gemetar berusaha memutar kenop pintu depan yang sengaja kami kunci rapat dan pasang gerendel tambahan di bagian atas, jauh dari jangkauannya.
Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku yang masih dirundung kantuk, lalu menghampirinya.
“Ayah, ini rumah Nisa. Rumah anak Ayah. Di luar masih gelap, dingin. Kita tidur lagi ya?” bujukku selembut mungkin, menuntun lengan kanannya yang masih berfungsi.
“Bukan, ini bukan rumah Ayah. Ayah mau pulang, jemput Ibu. Ibu mana?” tanyanya lagi.