Hari mulai larut ketika aku akhirnya keluar dari kamar mandi, meninggalkan lantai ubin yang basah oleh air mata penyesalan. Kehidupan dewasa yang sesungguhnya ternyata begitu berat, begitu menguras waras hingga terkadang rasanya mencekik leher. Aku yang dulu, di masa kecil, hanyalah seorang anak perempuan yang mengira dunia ini berputar dengan sangat baik-baik saja. Aku melangkah dengan riang, memakai seragam baru di awal semester, membawa buku-buku LKS lengkap, tanpa pernah tahu ada darah dan air mata yang harus tumpah demi semua fasilitas itu. Aku mengambil handphone dan mengetik nama Ibu di sana.
"Halo? Tumben telepon malam-malam, ada apa? Kamu belum tidur?"
"Bu... aku baru saja selesai nangis di kamar mandi. Entah kenapa, tiba-tiba aku kepikiran masa lalu kita. Tentang Ayah dan utang-utang dulu."
Aku mendengar suara Ibu yang sedikit kaget di seberang sana.
"Kok tiba-tiba bahas itu? Kenapa, Nak?"
"Aku baru sadar betapa beratnya hidup Ibu dulu. Aku baru tahu kalau dulu Ibu sampai harus gali lubang tutup lubang ke rentenir cuma buat sekolahin aku. Dan yang lebih bikin aku sesak... kenapa dulu Ibu tidak cerita kalau Ayah dulu hobi judi togel? Kenapa Ibu bohong terus sama aku dan pura-pura semuanya baik-baik saja?"
"Ibu cuma nggak mau kamu kepikiran..."