Selepas merapikan kamar Ayah dan memastikan beliau tertidur tenang tanpa mengompol lagi, aku kembali ke ruang tengah. Mas Taufik baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari sif sorenya yang melelahkan. Ia duduk di tepi ranjang kami, mengeringkan rambut dengan handuk kusam, wajahnya tampak begitu kuyu dengan kantung mata yang menghitam.
Aku berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Jantungku berdegup kencang, seolah ada batu besar yang menyumbat tenggorokanku. Keheningan di antara kami malam itu terasa begitu tebal, hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka suara. Mengalir begitu saja, aku menceritakan semua kejadian di rumah Ibu dua hari lalu. Tentang ketukan pintu sore itu, tentang sosok Pak Rahman yang bugar, pekerjaannya di perkebunan sawit, hingga niat tulusnya yang ingin meminang Ibu dan menanggung masa depan Aris.
Mas Taufik mendengarkan dengan saksama tanpa sekali pun memotong kalimatku. Gerakan tangannya yang mengusap rambut terhenti. Ia menatapku lurus, matanya memancarkan kedalaman empati yang selalu berhasil menenangkanku. Setelah aku selesai bercerita dan menundukkan kepala menahan tangis yang hampir pecah, Mas Taufik menarik napas panjang. Ia mengulurkan tangannya yang kasar akibat kerja pabrik, menggenggam jemariku dengan erat.
“Nisa,” panggilnya lembut, suaranya berat dan menenangkan.
“Kalau kamu tanya pendapat Mas... Mas setuju jika Ibu menerima lamaran Pak Rahman.”
Aku mendongak, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mas nggak mikir kalau ini salah? Maksudku... bagaimana dengan Ayah?”
Mas Taufik tersenyum tipis, senyuman yang sarat akan kedewasaan.
“Mas juga anak laki-laki, Nisa. Mas paham betul rasanya terluka melihat kondisi orang tua. Tapi kita harus jujur pada keadaan kita sendiri. Mas tidak tega melihat Ibumu setiap subuh harus mendorong gerobak bubur sendirian dengan kondisi darah tingginya yang sewaktu-waktu bisa membahayakannya. Sementara di sini, kita juga masih terseok-seok, mencoba merangkak bangun dari keterpurukan ekonomi kita sendiri.”
Ia menjeda kalimatnya, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
“Gaji Mas sebagai buruh pabrik pas-pasan. Untuk makan kita bertiga dan biaya berobat jalan Ayah saja kita harus memutar otak setiap bulan. Kita tidak punya kemampuan finansial untuk menopang Ibu dan Aris. Jika ada orang baik seperti Pak Rahman yang siap menjaga Ibu dan menjamin masa depan adikmu, kenapa kita harus menghalanginya karena ego? Ibu berhak untuk tenang di sisa usianya, Nisa.”
Perkataan Mas Taufik malam itu laksana air sejuk yang membasuh seluruh keraguan dan rasa bersalah yang menggunung di dalam dadaku. Dukungan dan kerelaan suamiku membuat duniaku yang sempat runtuh perlahan menemukan kembali pijakannya. Kami berdua akhirnya sepakat bahwa membiarkan Ibu bahagia adalah pilihan terbaik dan paling realistis yang kami miliki saat ini.