Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #6

Kembalinya Senyum Ibu #6

Matahari pagi itu bersinar tidak terlalu terik, seolah tahu bahwa bumi sedang menyembunyikan sepotong kebahagiaan yang baru saja tumbuh. Di dalam angkutan umum yang membawa kami menuju pasar induk kecamatan, Ibu duduk di dekat jendela. Angin sepoi-sepoi mempermainkan ujung jilbab lusuhnya yang sudah mulai pudar warnanya. Namun, ada yang berbeda hari ini. Ada binar yang sangat lama padam, kini menyala kembali di kedua bola matanya.

​Pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi. Sebuah keputusan yang diambil setelah melalui malam-malam penuh pertimbangan, doa, dan air mata yang disembunyikan di balik sajadah. Setelah malam itu, lusa nya Pak Rahman datang ke rumah. Lelaki dengan gurat wajah tegas namun memiliki tutur kata yang teramat santun itu datang tidak dengan tangan kosong. Dengan disaksikan oleh ketua RT dan beberapa tokoh masyarakat yang dihormati, Pak Rahman menyerahkan uang sepuluh juta rupiah kepada Ibu sebagai mahar. Tak hanya itu, selembar amplop tebal berisi lima juta rupiah juga diulurkan terpisah, khusus untuk Ibu belanja biaya selamatan kecil-kecilan nanti.

​"Kita tidak perlu pesta besar, Bu," kata Pak Rahman malam itu, suaranya terdengar begitu meneduhkan di telinga kami yang terbiasa mendengar bentakan dan gunjingan.

"Yang penting sah di mata agama dan negara. Uang ini silakan gunakan untuk mengundang tetangga sekitar. Tetangga-tetangga yang sudah mengerti kondisi Ibu, yang tidak akan menghakimi masa lalu kita."

​Kalimat itu, meski sederhana, rasanya seperti air es yang diguyurkan di atas tanah gersang. Pak Rahman tahu betul bagaimana lingkungan ini menguliti kami selama bertahun-tahun. Beliau paham bahwa esensi dari selamatan ini bukanlah pamer kemewahan, melainkan wujud rasa syukur bersama orang-orang yang selama ini diam-diam mengulurkan tangan.

​Sorot mata bahagia itu... sudah tidak lama kulihat. Rasanya seperti berabad-abad yang lalu, sebelum guratan lelah dan beban hidup menenggelamkan tawa Ibu. Sepanjang jalan menelusuri los-los pasar yang becek dan riuh, langkah kaki Ibu terasa begitu ringan. Beliau nampak antusias layaknya ibu-ibu yang senang berbelanja pada umumnya. Sesuatu yang selama ini dianggapnya sebagai kemewahan yang tak boleh disentuh.

​"Coba lihat yang ini. Bagus tidak?" Ibu mengangkat sepotong gamis berwarna krem lembut dengan aksen payet brokat minimalis di bagian dada.

​Aku terpaku sejenak. Aku melihat jemari Ibu yang kasar meraba kain gamis itu dengan sangat hati-hati. Seolah-olah takut kalau sentuhannya yang kasar bisa merusak keindahan kain tersebut.

​"Bagus sekali, Bu. Sangat cocok dengan warna kulit Ibu," jawabku tulus, merasakan tenggorokanku sedikit tercekat oleh haru.

​"Ini untuk akad nanti," bisik Ibu, suaranya bergetar halus. Beliau memeluk gamis itu ke dadanya, seolah-olah sedang memeluk sebuah harapan baru.

​Aku mencoba mengingat-ingat, entah kapan terakhir kali beliau membeli baju baru untuk dirinya sendiri. Seingatku, tidak pernah dalam lima tahun terakhir. Setiap kali menjelang Lebaran, fokus Ibu selalu sama, membelikan aku dan Aris baju baru. Itu pun sering kali didapat dari pasar loak atau baju sisa ekspor yang harganya miring. Sementara untuk dirinya sendiri, Ibu selalu berkata,

 "Baju Ibu yang lama masih bagus, masih layak pakai." Padahal kami tahu, warnanya sudah lama menguning dan serat kainnya sudah menipis. Membeli gamis cantik dengan harga yang lumayan hari ini terasa seperti sebuah mukjizat kecil bagi kami.

​Ibu beberapa kali bercakap dengan mata berbinar seolah kelelahannya sirna dalam sekejap. Beliau menawar bumbu dapur, memilih beras kualitas terbaik untuk hidangan para tamu, dan menghitung jumlah mangkuk yang harus disiapkan dengan saksama. Tidak ada lagi keluhan tentang pinggangnya yang sakit atau kakinya yang varises. Kebahagiaan ternyata bisa menjadi obat penawar rasa sakit yang paling mujarab.

​Selesai dengan urusan baju Ibu dan bahan-bahan pokok untuk selamatan, kami melangkah menuju toko perlengkapan sekolah yang berada di sudut luar pasar. Di sana, adikku, Aris, sudah menunggu dengan wajah yang tak kalah semringah. Bocah laki-laki berusia sepuluh tahun itu biasanya selalu berjalan di belakangku dengan kepala tertunduk, menahan malu karena seragamnya yang mulai mengatung dan tasnya yang jahitannya sudah lepas di sana-sini. Pak Rahman secara khusus berpesan agar segaian uang belanja digunakan untuk mencukupi kebutuhan sekolah Aris.

Lihat selengkapnya