Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #7

Lantai Dingin Rumah Sakit #7

​Suara napas Ayah terdengar berat dan ritmis, sebuah irama yang sudah sangat familiar di telingaku. Di kursi belakang mobil, beliau duduk dengan tatapan kosong, matanya menatap ke luar jendela dengan pandangan yang tidak benar-benar menangkap objek apa pun. Demensia itu perlahan mengikis dunianya, menyisakan fragmen-fragmen memori yang kini sering kali tersesat di labirin ingatannya sendiri. Stroke ringan yang ia alami memperburuk keadaan, Ayah kini lebih sering diam, seolah sedang sibuk berkomunikasi dengan bayang-bayang masa lalunya yang mulai memudar.

​Aku melirik dari spion tengah, memastikan Ayah tidak mulai gelisah atau mencoba membuka kunci pintu mobil.

​"Sebentar lagi sampai, Yah. Nanti kita ketemu dokter, ya?" ucapku tenang. Nadaku datar, hampir tanpa emosi. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena ini adalah bab kesekian dari buku yang sama. Kami sudah terlalu sering melalui rute ini, terlalu sering melintasi jalan beraspal menuju gedung putih dengan aroma antiseptik yang menusuk itu.

​Sesampainya di lobi IGD, semuanya berjalan seperti sebuah koreografi yang sudah kami hafal di luar kepala. Setelah membayar ongkos taxi online, aku turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi Ayah. Dengan cekatan, aku menuntun lengan Ayah yang terasa lemah. Tubuhnya terasa lebih ringan dari yang kuingat, seolah beban hidup perlahan menguap dari tulang-tulangnya.

​"Ayah bisa jalan, Yah? Sedikit lagi," kataku, menuntunnya masuk ke ruang IGD. Tidak ada panik, tidak ada suara isak tangis yang pecah. Hanya ada ketenangan yang terasa dingin, sebuah mekanisme pertahanan yang kubangun selama bertahun-tahun demi bertahan hidup di tengah situasi yang tak menentu ini.

​"Mau ke mana, Nis?" tanya Ayah tiba-tiba, suaranya serak. Ia berhenti melangkah, menatapku dengan sorot mata yang sedikit linglung.

​"Ke dokter, Yah. Tensi Ayah naik, tadi Nisa ukur di rumah, tensinya tinggi sekali,"

​Ayah hanya mengangguk pelan, seolah tidak sepenuhnya mengerti, lalu membiarkanku menuntunnya kembali. Di pintu masuk IGD, seorang perawat dengan pakaian seragam biru muda menyambut kami dengan sigap. Ia melihat kondisi Ayah yang tampak pucat dan segera menyiapkan ranjang dorong.

​"Silakan, Pak, dibantu naik ke sini," ucap perawat itu.

​Setelah Ayah terbaring, tak lama Mas Taufik datang menyusul, napasnya sedikit terengah karena terburu-buru usai pulang dari shif paginya. Ia langsung mengambil alih urusan administrasi, berbicara dengan staf rumah sakit dengan nada yang menenangkan namun otoritatif. Aku tetap di samping ranjang Ayah, memandangi monitor yang mulai menampilkan detak jantung dan angka tekanan darah yang memang melampaui batas normal.

​"Tekanan darah Bapak naik cukup tinggi, Mbak Nisa," ujar dokter jaga yang datang beberapa menit kemudian. Setelah melakukan pemeriksaan singkat menggunakan stetoskop dan senter kecil, ia menatapku.

"Mengingat riwayat strokenya dan kondisi demensianya, kami sarankan Bapak untuk rawat inap. Kami perlu observasi lebih lanjut agar tidak terjadi komplikasi yang lebih serius."

​Aku mengangguk sekali, tanpa keraguan.

"Baik, Dok."

​"Sembari menunggu kamar rawat inap disiapkan, Bapak akan tetap di sini untuk stabilisasi," jawab dokter tersebut sebelum berlalu. Aku berbalik, melihat Mas Taufik yang sedang duduk di kursi tunggu kayu yang keras. Ia memberi isyarat padaku untuk duduk sejenak di sebelahnya. Aku menghampirinya, lalu terduduk lemas.

​"Bagaimana, Nis? Sudah bicara dengan dokter?" tanya Mas Taufik, tangannya terulur mengusap pundakku, memberikan dukungan bisu yang selalu ia berikan di momen-momen seperti ini.

​"Harus dirawat inap, Mas. Menunggu ruangan siap saja sekarang," jawabku sambil menyandarkan kepala di bahunya.

​Di tengah kebisingan ruang IGD, suara alarm monitor, langkah kaki perawat, dan percakapan orang-orang yang panik—pandanganku tiba-tiba jatuh pada seorang wanita tua yang duduk di pojok ruang tunggu. Ia sedang menggenggam tangan suaminya yang terbaring di ranjang, menyuapinya air dari gelas kecil dengan penuh kasih sayang. Pemandangan itu seperti sebuah proyektor tua yang memutar kembali memori di kepalaku.

Lihat selengkapnya