Aroma khas rumah sakit, perpaduan antara karbol, obat-obatan, dan pengapnya ruang bangsal kelas tiga—selalu berhasil membuat dadaku sesak. Namun siang ini, sesak itu terasa berkali-kali lipat lebih menghimpit. Di atas ranjang besi dengan seprai putih yang sudah mulai kusam, Ayah berbaring. Tubuhnya kurus, tatapan matanya kosong menatap langit-langit plafon yang mengelupas. Beliau ada di sana secara fisik, namun jiwanya entah mengembara ke mana. Penyakit dan beban hidup telah merenggut paksa kewarasan serta kekuatannya sebagai seorang kepala keluarga.
Pintu ruangan berderit pelan. Langkah kaki yang sangat kukenal berjalan mendekat, ragu namun pasti. Itu Ibu.
Hari ini, seminggu sebelum hari pernikahannya dengan Pak Rahman tiba, Ibu datang berkunjung menjenguk Ayah. Beliau datang mengenakan salah satu baju terbaiknya yang sederhana, namun tangannya bergetar hebat saat menarik kursi kayu di samping ranjang Ayah. Aku berdiri agak menjauh di dekat jendela, memberikan ruang bagi dua manusia yang pernah mengikat janji sehidup semati itu.
Begitu duduk, Ibu tidak langsung bersuara. Beliau hanya menatap wajah Ayah yang kini dipenuhi kerutan dan janggut putih yang tumbuh tak teratur. Perlahan, tangan Ibu yang kasar terulur, menyentuh punggung tangan Ayah yang tertancap jarum infus. Sentuhan itu seketika meruntuhkan pertahanan yang selama ini Ibu bangun dengan kokoh di depan kami.
Ibu menangis. Bahunya terguncang hebat, dan suara tangisannya yang tertahan terdengar begitu memilukan di sudut kamar yang sepi ini. Aku yang menyaksikan dari kejauhan ikut merasakan perih yang mendalam. Di balik air mata yang mengalir deras membasahi pipinya, aku dapat melihat di sorot matanya, cinta itu sebenarnya masih sangat besar untuk Ayah. Bagaimana tidak memiliki cinta yang besar? Lebih dari dua puluh tahun hidup bersama tentu bukan waktu yang sebentar. Mereka telah melewati berbagai musim kehidupan bersama-sama. Mulai dari masa-masa awal pernikahan yang penuh perjuangan, kelahiran aku dan Aris, hingga badai ekonomi yang perlahan-lahan mulai mengikis keharmonisan rumah tangga mereka.
Memang benar, akhir-akhir sebelum pernikahan mereka hancur, yang tersisa hanyalah pertengkaran, bentakan, dan air mata. Ayah yang frustrasi karena tekanan hidup mulai melampiaskan kemarahannya pada Ibu. Meski banyak luka yang ditorehkan Ayah di hati Ibu, tetapi kebahagiaan juga tak kalah banyak dalam memori mereka.
Aku adalah saksi hidup perjalanan mereka. Aku saksi betapa dahulu di masa mudanya mereka lebih banyak tertawa daripada bertengkar. Aku masih ingat betul saat aku kecil, Ayah sering pulang membawa martabak manis kesukaan Ibu meski dompetnya tipis. Aku ingat bagaimana mereka saling melempar candaan di dapur sembari memasak makan malam yang sederhana, atau bagaimana Ayah selalu memijat kaki Ibu yang kelelahan setelah seharian mengurus rumah tangga. Kenangan-kenangan manis itu seperti jangkar yang tertanam kuat di dasar hati Ibu. Luka mungkin bisa mengubah sikap seseorang, tetapi ia tidak bisa menghapus sejarah yang telah terukir selama dua dekade.
Ibu mengusap air matanya dengan ujung kerudung, lalu menggenggam kedua tangan Ayah yang terasa dingin.
"Ayah..." bisik Ibu, suaranya parau dan bergetar.