Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #9

Hari Pernikahan Ibu #9

Hari yang dinanti-nanti itu akhirnya tiba juga. Hari di mana semua rencana, hitungan bumbu dapur di atas kertas usang, dan persiapan baju baru bermuara pada satu titik sakral. Hari pernikahan Ibu dan Pak Rahman.

​Pagi-pagi sekali, rumah kontrakan Ibu sudah tampak riuh. Beberapa tetangga dekat—orang-orang baik yang tidak pernah menghakimi kami—datang membawa nampan-nampan berisi kue dan membantu menata piring. Aroma ayam goreng dan bumbu urap buatan Ibu yang khas menyeruak, memenuhi udara pagi yang sejuk. Ibu tampak begitu anggun mengenakan gamis krem pilihan kami di pasar tempo hari. Wajahnya dipoles riasan sederhana, namun pancaran kebahagiaan dari matanya membuat Ibu terlihat berkali-kali lipat lebih muda.

​Namun, di tengah keriuhan dan rona bahagia itu, aku memilih untuk berdiri di luar lingkaran.

​"Nis, kamu benar-benar tidak ikut ke Kantor Urusan Agama?" tanya Ibu sekali lagi, menatapku dengan tatapan teduh sekaligus sarat akan kecemasan saat bersiap naik ke mobil sewaan yang akan membawa rombongan kecil mereka.

​Aku tersenyum, mencoba menampilkan gurat wajah paling ikhlas yang kubisa. Aku meraih tangan Ibu, menciumnya takzim.

"Tidak apa-apa, Bu. Aku harus cepat pulang dan menjaga Ayah. Ayah kan sedang rawat jalan, jadwal minum obatnya ketat sekali jam sepuluh nanti. Kasihan kalau ditinggal sendiri tanpa ada yang mengawasi."

​Ibu diam sejenak. Beliau menatap mataku dalam-dalam, seolah bisa membaca setiap jengkal ruang di dalam kepalaku. Ibu tidak mendebat. Beliau hanya mengangguk pelan, lalu mengusap pipiku dengan lembut.

"Ya sudah, jaga Ayahmu baik-baik ya, Nduk."

​Padahal, alasan menjaga Ayah yang sedang rawat jalan itu hanyalah sebuah alasan saja. Sebuah tameng yang sengaja kubuat agar aku memiliki pembenaran yang sah untuk tidak hadir di hari besar itu.

​Di sudut hati kecilku, meski logika dan jiwaku telah merelakan Ibu dengan hidup barunya, bahkan aku yang paling gencar meyakinkan Ibu untuk mengambil kesempatan ini. Aku tetap tidak kuasa melihatnya berdiri bersama Pak Rahman. Aku tetap tak berdaya menyaksikan Ibu bersanding dengan lelaki lain yang bukan Ayah. Ego anak kecil dalam diriku sedikit terluka. Ada bagian dari masa laluku yang seolah berteriak menolak kenyataan bahwa potret keluarga ideal yang dulu pernah kumiliki, kini benar-benar telah digantikan oleh orang baru. Dan sepertinya, Ibu memahami itu dengan sangat baik. Beliau tidak memaksaku, tidak juga marah. Ibu menghargai batasan dan rasa sakit yang diam-diam masih kusimpan sendiri.

​Pulang dari kontrakan Ibu, Aku berjalan masuk ke kamar tempat Ayah berbaring. Ayah sedang duduk bersandar di ranjang kayu, menatap kosong ke arah dinding. Di tangannya ada sebuah mainan plastik lama milik Aris yang terus-menerus diputarnya tanpa henti.

Lihat selengkapnya