Pagi ini, seperti biasa, Ayah merengek seperti anak kecil. Beliau menangis sesenggukan hanya karena sendok yang digunakannya untuk makan bubur terjatuh ke lantai. Jika biasanya aku berakhir pada amarah, lelah, dan emosi yang meluap karena letihnya membagi waktu antara bekerja dan merawatnya, beberapa hari ini tidak.
Aku mulai mengerti bahwa ini bukan keinginan Ayah bersifat begini. Tubuhnya yang mengkhianatinya, dan pikirannya yang perlahan-lahan mengabur adalah musuh yang sebenarnya, bukan Ayah. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, mengambil sendok yang jatuh, lalu menggantinya dengan yang baru sembari mengusap punggung tangannya yang sudah keriput dan menonjolkan urat-urat kebiruan.
Aku mengajak Ayah mengobrol.
"Yah, buburnya enak? Itu buatan warung depan, langganan kita."
Ayah menyahut, matanya berkedip pelan.
"Enak, Nduk. Tapi... Ibu mana? Kok tidak kelihatan dari subuh?"
Aku tertegun sejenak. Dada ini sempat berdenyut perih, namun aku memaksakan sebuah senyuman. Sesekali memang demensianya parah, membuat Ayah terjebak dalam ruang waktu masa lalu di mana Ibu masih menjadi istrinya dan keluarga kami masih utuh. Namun, juga ada hari di mana Ayah masih bisa kuajak bicara dua arah, di mana matanya memancarkan kesadaran penuh seorang pria yang dulu pernah menjadi pelindung utamaku.
Aku rindu Ayah yang dulu. Aku rindu tawanya yang renyah saat kami berhasil melewati masa-masa sulit, ceritanya yang penuh semangat tentang teman-teman sesama kuli panggul dan pedagang di pasar, juga candaannya yang garing setiap kali aku mengeluh tentang tugas sekolah. Ayah yang tegap dan selalu meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, kini telah menyusut menjadi seorang pria ringkih yang dunianya hanya sebatas dinding kamar berukuran tiga kali empat meter ini.
Selesai menyuapi Ayah dan memastikan beliau meminum semua obat jalannya, terdengar ketukan pelan di pintu rumah. Aku mengerutkan kening. Ini masih terlalu pagi untuk Ibu datang berkunjung, dan tetangga biasanya sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu pintu kubuka, jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat.
Di hadapanku berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap, mengenakan kemeja batik rapi dengan motor bebek yang terparkir di halaman rumah. Wajahnya yang tegas namun memancarkan ketenangan itu sangat familier, meski aku belum pernah berinteraksi langsung dengannya.
"Assalamualaikum, Nis," sapanya ramah. Suaranya berat dan berwibawa.