Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #11

Lentera Ketulusan #11

Tak lama setelah momen yang menguras emosi antara Ayah dan Pak Rahman mereda, terdengar deru suara sepeda motor tua yang sangat kukenali berhenti di depan rumah. Itu suara motor Mas Taufik, suamiku. Dia baru saja pulang dari shift malamnya di pabrik pengolahan plastik, tempatnya bekerja sebagai buruh kasar demi membantu mencukupi kebutuhan kami, termasuk menyisihkan receh demi receh untuk pengobatan Ayah.

Pintu tripleks yang masih terbuka sedikit diketuk pelan. Mas Taufik melangkah masuk dengan wajah yang tampak begitu lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas betapa beratnya terjaga semalaman suntuk di depan mesin pabrik yang bising dan panas. Namun, rasa kantuk dan lelah di wajahnya seketika menguap begitu melihat sosok pria paruh baya bertubuh tegap dan berpakaian rapi sedang duduk di tikar plastik kami yang sederhana.

Mas Taufik sempat terpaku di ambang pintu. Dia memandangku dengan tatapan bertanya-tanya, seolah meminta penjelasan atas kehadiran tamu yang tak terduga ini.

"Mas, ini Pak Rahman... suaminya Ibu," kataku lirih, mencoba menjembatani kebingungannya.

Mendengar nama itu disebut, mata Mas Taufik sedikit membelalak. Dia tentu tahu siapa Pak Rahman dari cerita-ceritaku, tetapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa pria yang kini menjadi ayah tiri bagi istrinya itu akan menginjakkan kaki di rumah kami. Dengan sigap, Mas Taufik langsung melangkah maju, membungkukkan badannya dengan hormat dan mengulurkan tangan.

"Oh, Pak Rahman. Assalamualaikum, Pak. Saya Taufik, suaminya Nisa,"

Pak Rahman berdiri dari duduknya, menyambut uluran tangan Mas Taufik dengan genggaman yang kuat dan hangat.

"Waalaikumsalam, Taufik. Panggil Bapak saja, Nak. Kita ini sudah menjadi satu keluarga sekarang," jawab Pak Rahman dengan senyuman kebapakan yang langsung mencairkan kecanggungan di dalam ruangan.

Mas Taufik duduk bergabung bersama kami di atas tikar. Laki-laki yang biasanya kaku dan irit bicara itu tampak agak canggung, berkali-kali dia mengusap celana jinnya yang sedikit kotor terkena oli pabrik. Dia merasa tidak enak karena menyambut tamu terhormat dalam kondisi yang dekil setelah bekerja semalaman. Namun, Pak Rahman tampaknya memiliki kepekaan yang luar biasa tinggi. Beliau sama sekali tidak menjaga jarak, justru menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Mas Taufik.

"Baru pulang kerja, Fik?" tanya Pak Rahman memulai percakapan, mencoba mencairkan suasana.

"Iya, Pak. Kebetulan minggu ini saya dapat shift malam, masuk jam sepuluh malam pulang jam enam pagi tadi," jawab Mas Taufik jujur.

Pak Rahman mengangguk-angguk paham, sorot matanya memancarkan rasa hormat.

"Kerja pabrik itu berat, apalagi kalau kebagian shift malam. Harus pintar-pintar menjaga kesehatan. Kamu adalah tiang rumah tangga di sini, ada istri dan mertua yang mengandalkanmu."

"Iya, Pak. Alhamdulillah, dijalani saja yang penting halal dan berkah," sahut Mas Taufik pelan.

Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara deru kendaraan dari jalan raya yang mulai ramai di luar sana. Pak Rahman kemudian memandang ke arah kasur tempat Ayah berbaring, lalu kembali menatap Mas Taufik dan aku bergantian. Wajah tegasnya tampak diselimuti oleh kesungguhan yang mendalam.

"Taufik, Nis... Bapak sengaja datang ke sini hari ini bukan tanpa alasan," kata Pak Rahman, suaranya terdengar berat dan berwibawa namun dipenuhi kelembutan.

Lihat selengkapnya