Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #12

Hadiah Dari Tuhan #12

Seminggu kemudian, di sebuah sore yang gerimis, ketika aroma tanah basah menyeruak masuk melalui celah pintu rumah, sebuah telepon masuk ke ponselku. Layar ponsel itu menampilkan nama Ibu, namun begitu ku angkat dan menempelkannya ke telinga, suara berat dan berwibawa milik Pak Rahmanlah yang menyapaku di seberang sana.

"Assalamualaikum, Nduk. Taufiknya ada di rumah?" tanya Pak Rahman setelah kami saling bertukar kabar singkat.

"Waalaikumsalam, Pak Rahman. Ada, Pak. Kebetulan Mas Taufik hari ini sedang libur shift," jawabku sembari menoleh ke arah suamiku yang sedang duduk di lantai, dengan telaten memotong kuku-kuku jari kaki Ayah yang sudah mulai panjang dan mengeras.

Aku segera melangkah mendekati Mas Taufik, lalu menyerahkan ponsel itu kepadanya.

"Mas, ini Pak Rahman mencari kamu," bisikku pelan.

Mas Taufik mendongak, sedikit terkejut. Dia buru-buru meletakkan gunting kuku, mengusap tangannya ke celana, lalu menerima ponsel tersebut dengan sikap yang spontan menegak, seolah-olah Pak Rahman sedang berdiri langsung di hadapannya.

"Iya, Assalamualaikum, Pak" ucap Mas Taufik memulai percakapan.

Aku memilih untuk menyingkir sejenak ke arah dapur kecil kami yang menyatu dengan ruang tengah, berpura-pura sibuk merapikan rak piring yang sebenarnya sudah rapi. Namun, di dalam ruangan sekecil ini, mustahil bagiku untuk tidak mendengar percakapan mereka. Suara Mas Taufik yang berat terdengar jelas, meski dia berusaha berbicara selembut mungkin agar tidak mengganggu Ayah yang mulai memejamkan mata setelah sesi potong kuku tadi.

Samar-samar kudengar dari balik punggungku, nada bicara Mas Taufik yang tadinya formal perlahan berubah menjadi penuh rasa takjub, bercampur dengan nada ragu yang kentara. Pak Rahman rupanya sedang mengutarakan sebuah penawaran yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak kami sebelumnya. Beliau menawarkan sebuah pekerjaan kepada suamiku di perkebunan kelapa sawit tempat ia bekerja di Kalimantan.

Kebetulan, kantor divisi tempat Pak Rahman bernaung sedang sangat membutuhkan tenaga staf administrasi baru untuk mengelola data logistik dan laporan harian sirkulasi buah. Pak Rahman tahu dari Ibu bahwa Mas Taufik memang dulunya pernah bekerja di bidang itu selama hampir tiga tahun, sebelum akhirnya perusahaan lamanya gulung tikar akibat krisis dan memaksanya terdampar menjadi buruh pabrik plastik.

Percakapan di telepon itu berlangsung sekitar lima belas menit. Mas Taufik lebih banyak mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk-angguk seolah lawan bicaranya bisa melihatnya, lalu memberikan respons-respons pendek yang santun.

"Baik, Pak. Penawaran ini luar biasa sekali bagi saya... Tapi, kalau Bapak tidak keberatan, saya mohon izin untuk meminta waktu berpikir sebentar dan berdiskusi dengan istri saya," kata Mas Taufik menjelang akhir percakapan.

"Besok malam saya akan hubungi Bapak kembali untuk memberikan jawaban. Terima kasih banyak atas kebaikan dan kepercayaan Bapak."

Lihat selengkapnya