Hari keberangkatan itu akhirnya datang juga. Di terminal bus kota, aku melepas suamiku dengan air mata yang sebisa mungkin kutahan di hadapan mereka. Mas Taufik berkali-kali memelukku, membisikkan janji untuk rajin memberi kabar. Setelah lambaian tangan terakhir itu hilang di balik kaca bus yang bergerak menjauh, aku resmi tinggal berdua saja dengan Ayah.
Kepergian Mas Taufik tentu saja menyisakan lubang rindu yang besar di sudut hatiku. Kamar terasa jauh lebih sepi saat malam tiba, tidak ada lagi suara obrolan ringan atau langkah kakinya yang berat setelah pulang shift malam. Namun, di sisi lain, kepergiannya secara tidak langsung sedikit meringankan beban pekerjaan rumah tanggaku. Cucian pakaian berkurang, piring dan gelas kotor di bak cuci tidak lagi menumpuk cepat, dan urusan memasak pun menjadi jauh lebih praktis. Aku kini bisa memangkas waktu domestikku dan mengalihkan seluruh fokus serta energiku untuk menemani dan merawat Ayah.
Rutinitas baruku berjalan dengan ritme yang lambat namun teratur. Mas Taufik juga menepati janjinya, setiap malam setelah selesai menginput data sirkulasi buah di kantor divisi, dia selalu menelepon atau melakukan video call jika sinyal di tengah kebun sedang bersahabat. Mendengar suaranya yang penuh semangat menceritakan lingkungan kerja barunya yang profesional membuat segala rasa lelahku menguap begitu saja.
Satu bulan pertama berlalu dengan penuh rasa syukur. Gaji pertama Mas Taufik dari Kalimantan sudah dikirimkan ke rekeningku, dan nominalnya benar-benar sesuai dengan apa yang dijanjikan, cukup membeli obat paten untuk Ayah tanpa perlu mengirit lagi, dan menyisihkan sebagian untuk tabungan masa depan kami.
Namun, hidup tampaknya tidak pernah membiarkan kami terlena dalam ketenangan terlalu lama. Di saat satu badai baru saja mereda, mendung lain mulai berarak di langit kami.
Sebuah telepon dari Ibu di suatu malam meruntuhkan ketenanganku. Dengan suara yang gemetar dan terisak, Ibu mengabarkan bahwa Pak Rahman jatuh sakit di pedalaman Kalimantan. Awalnya, beliau hanya mengalami demam biasa yang diduga akibat kelelahan bekerja di bawah cuaca perkebunan yang tidak menentu. Beliau sempat beristirahat di mess dan dirawat oleh mantri kebun, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik.
Lama-kelamaan, demamnya justru semakin parah, naik turun disertai menggigil hebat dan penurunan kesadaran. Karena fasilitas medis di klinik kebun sangat terbatas, pihak manajemen perusahaan akhirnya memutuskan bahwa Pak Rahman harus segera dirujuk ke rumah sakit umum daerah yang berada kota kami. Mendengar kabar itu, duniaku rasanya kembali berputar. Aku mengkhawatirkan kondisi Pak Rahman, memikirkan Ibu yang pasti kebingungan dan di saat yang sama, aku juga mengkhawatirkan Mas Taufik yang kini kehilangan sosok pelindungnya di tempat kerja yang baru.
Dua minggu setelah Pak Rahman dirawat di rumah sakit, kondisinya belum juga stabil. Hasil pemeriksaan sementara, beliau terkena infeksi komplikasi yang membutuhkan perawatan intensif jangka panjang. Ibu yang fisiknya tidak lagi muda mulai tampak kepayahan jika harus berjaga sendirian siang dan malam di ruang perawatan.
Akhirnya, atas kesepakatan bersama, diputuskan bahwa aku dan Ibu harus berbagi peran. Kami bergantian merawat Pak Rahman di rumah sakit, sekaligus bergantian pulang ke rumah untuk menjaga dan merawat Ayah.