Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #14

Pundak yang kuat #14

Malam ini udara kota terasa begitu sejuk. Setelah memastikan Ayah meminum seluruh obat malamnya, aku mendudukkan diri di sudut kasur lantai kami. Hari ini aku tidak menjaga Pak Rahman, bergantian dengan Mbak Nabila di sana.

"Sudah enak tidurnya, Yah? Selimutnya kurang hangat?" tanyaku pelan sambil merapikan ujung kain penutup badannya.

Ayah hanya melenguh halus sebagai jawaban, matanya sudah terpejam rapat.

Sebelum memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh yang penat, aku meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kayu. Aku membuka salah satu aplikasi sosial media, sekadar berselancar tanpa arah. Entah dorongan dari mana, jemariku tiba-tiba mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian. Nabila.

Tidak butuh waktu lama bagi algoritma untuk memunculkan akun yang kucari. Foto profilnya menampilkan senyum seorang perempuan muda berpakaian seragam perawat putih yang rapi. Dia sepertinya berusia tiga sampai lima tahun lebih tua dariku.

Aku menyandarkan punggungku ke dinding kamar, menatap layar ponsel yang berpendar. Pikiranku seketika melayang kembali pada pertemuan singkat kami di koridor rumah sakit tempo hari.

"Mbak ini... anaknya Bapak, ya?" tanyaku ragu saat pertama kali melihatnya masuk ke kamar rawat.

"Iya, saya Nabila," jawabnya dengan suara yang sangat tenang dan dewasa. Beliau berjalan mendekat, menatapku dengan sorot mata yang hangat.

"Kamu... anak dari Ibu, kan? Terima kasih banyak ya, sudah menjaga Bapak di sini."

"Sama-sama, Mbak. Sudah selayaknya," sahutku waktu itu, merasa canggung dengan pembawaannya yang begitu tertata.

Nabila memiliki postur badan yang lumayan tinggi dengan kulit kuning langsat yang cerah—sebuah rona fisik yang terlihat mirip denganku. Namun, semakin aku menggulirkan layar ponselnya ke bawah, semakin aku menyadari bahwa di balik kemiripan fisik itu, kami tumbuh di dua dunia yang sepenuhnya berbeda.

Nabila adalah definisi nyata dari seorang anak yang tumbuh dengan tangki cinta yang penuh. Di salah satu unggahan lamanya, aku menemukan sebuah potret keluarga mereka. Di sana, Pak Rahman berdiri gagah merangkul seorang wanita paruh baya berwajah teduh.

"Lima tahun tanpamu, Ibu. Rindu ini tidak pernah berkurang. Tenang di sana, ya. Janji Nabila untuk jadi perawat yang hebat akan selalu Nabila jaga," tulisnya.

Lihat selengkapnya