Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #15

Vonis Dokter #15

Ruang perawatan intensif itu kini terasa jauh lebih dingin. Suara ritmis dari monitor jantung yang berada di samping ranjang Pak Rahman menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian, sebuah pengingat yang konstan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati di dalam ruangan ini.

Kondisi Pak Rahman tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sebaliknya, keadaan beliau justru semakin memburuk dari hari ke hari. Puncaknya terjadi di hari keempat setelah kedatangan Mbak Nabila. Pagi itu, ketika aku datang membawa rantang makanan untuk Ibu, aku mendapati kamar rawat sudah dipenuhi oleh dua orang dokter spesialis dan beberapa perawat yang bergerak dengan cekatan namun tegang. Pak Rahman telah kehilangan kesadarannya secara penuh. Beliau tidak lagi merespons saat namanya dipanggil, tidak pula mengernyitkan dahi ketika jarum suntik menembus kulitnya yang kian pucat.

Dokter kemudian memanggil kami ke ruang konsultasi untuk menjelaskan situasi yang terjadi. Diagnosis sementara dari hasil pemindaian terakhir menunjukkan adanya infeksi parah akibat bakteri yang telah menjalar, diduga ada kuman yang menyerang jaringan otaknya. Penjelasan medis yang panjang lebar itu terasa mengambang di kepalaku, namun satu hal yang berhasil kutangkap dengan jelas, kondisi beliau kritis.

Untuk pertama kalinya sejak rentetan peristiwa ini dimulai, aku merasakan sebuah hantaman yang begitu keras di dada. Aku ikut merasa hancur.

Aku terduduk di kursi lorong rumah sakit dengan tubuh yang mendadak lemas. Air mata yang selama beberapa hari ini kutahan demi menguatkan Ibu, akhirnya runtuh juga. Di momen itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak kusadari atau mungkin, sesuatu yang sengaja kusembunyikan di balik dinding gengsi anak kecilku. Rasa sayang itu ternyata sudah mulai tumbuh di hatiku untuk Pak Rahman.

Beliau bukan lagi sekadar "orang baru" atau "suami Ibu" yang kehadirannya kuterima dengan terpaksa demi logika. Beliau telah menjelma menjadi sosok pelindung, seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang datang di saat paling kelam dalam hidup kami, lalu mengulurkan tangan untuk menyelamatkan keluarga kami dari jurang kemiskinan dan keputusasaan. Dan kini, pria yang begitu gagah, lurus dalam berpikir, dan berwibawa saat menjabat tangan Ayah tempo hari, justru terbaring di atas bangsal putih dengan tubuh yang jauh lebih lemah dan ringkih daripada Ayah. Sungguh, takdir sering kali memainkan ironi yang teramat kejam.

Sore harinya, suasana di kamar rawat terasa semakin sepi. Mbak Nabila sudah harus pulang kembali ke kota sebelah. Sebagai seorang perawat di rumah sakit besar, dia memiliki keterikatan kontrak yang sangat ketat. Dia hanya bisa mendapatkan izin dispensasi selama beberapa hari karena jatah cuti tahunannya untuk tahun ini sudah habis terpakai.

Sebelum melangkah keluar dari ruang perawatan, Mbak Nabila memeluk Ibu dengan sangat erat, lalu beralih memelukku. Air matanya mengalir pelan, menetes di pundakku.

"Mbak Nisa, Ibu... saya titip Bapak, ya?" bisiknya dengan suara yang bergetar menahan tangis.

"Pekerjaan saya tidak bisa ditinggal, ada pasien-pasien lain yang juga darurat. Saya percayakan Bapak pada kalian. Tolong hubungi saya setiap jam jika ada perkembangan apa pun."

Lihat selengkapnya