Dua hari berikutnya berlalu seperti helaian napas yang tertahan. Tidak ada keajaiban instan yang dicatat pada papan rekam medis di ujung ranjang Pak Rahman. Tubuhnya masih bergeming, terperangkap di dalam labirin ketidaksadaran yang pekat. Dokter bahkan mulai mengisyaratkan kemungkinan terburuk jika dalam beberapa hari ke depan cairan antibiotik dosis tinggi yang dialirkan lewat infusnya tidak mampu meredam agresi kuman di otaknya.
Ketidakpastian itu merayap masuk ke dalam kamar kos kami, menjelma menjadi kabut tebal yang menyesakkan dada. Malam itu, setelah melepas lelah pasca-seharian bolak-balik antara rumah sakit dan kosan, aku berbaring di samping Ayah yang sudah mendengkur halus. Namun, mataku menolak untuk terpejam. Aku hanya tertidur sebentar, mungkin hanya satu jam. Setiap kali aku mencoba memejamkan mata, bayangan wajah pucat Pak Rahman dan gurat-gurat kelelahan di wajah Ibu langsung berkelebat, memicu debar kecemasan yang membuat jantungku berpacu cepat.
Jarum jam dinding tua di kamar kami perlahan bergeser, menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana di luar begitu senyap, hanya menyisakan suara jangkrik dan sesekali deru angin malam yang menyapu atap seng.
Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba ada dorongan kuat di dalam hatiku untuk bangkit. Sudah lama sekali hal ini tidak kulakukan. Kesibukan duniawi dan rutinitas merawat Ayah sering kali kujadikan alasan untuk melewatkan momentum sakral ini. Namun malam ini, dengan kelopak mata yang terasa amat berat dan mengantuk, kupaksa tubuhku untuk bangun. Aku berjalan gontai menuju kamar mandi, membiarkan air wudu yang sedingin es menusuk pori-pori kulitku, membasuh sisa-sisa kantuk dan menggantinya dengan kesadaran yang penuh.
Aku menggelar sajadah lusuhku di sudut ruangan, tepat di samping kasur Ayah.
Ketika takbir pertama terucap, keheningan malam seolah melingkupiku. Di atas hamparan kain seadanya itu, aku memulai sebuah pertempuran batin yang sunyi. Sebuah peperangan spiritual melawan keputusasaan, bahkan rasanya seperti sedang berperang dengan malaikat maut, mencoba menawar takdir dan memohon dengan sangat kepada Sang Pemilik Kehidupan untuk keselamatan Pak Rahman.
Pada sujud terakhir, benteng pertahananku benar-benar runtuh. Air mata yang sejak sore kutahan kini mengalir deras tanpa kendali, membasahi kain sajadah. Dalam posisi paling rendah sebagai seorang hamba, aku menumpahkan segala rasa sesak yang menghimpit dadaku selama berminggu-minggu ini.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim..." bisikku di antara isak tangis yang tertahan, berusaha menjaga suara agar tidak membangunkan Ayah.
"Hamba memohon dengan sangat, angkatlah penyakit Pak Rahman. Selamatkanlah beliau..."
Aku berzikir panjang setelah salam. Kalimat demi kalimat thayyibah kuucapkan dengan bibir yang gemetar. Dalam tangis yang semakin membuncah, aku tersedu-sedu, memohon dan mengadu kepada Allah dengan kepasrahan yang sepasrah-pasrahnya.
Aku mengadu tentang betapa tidak berdayanya kami jika harus kehilangan sosok pria baik itu begitu cepat. Aku mengadu tentang Ibu yang baru saja merasakan secercah kebahagiaan setelah belasan tahun hidup dalam penderitaan. Aku juga mengadu tentang rasa bersalah dan ego anak kecilku yang dulu sempat menolak kehadirannya, padahal beliau datang membawa ketulusan yang luar biasa.
"Jangan biarkan Ibu kembali kehilangan pelindungnya, ya Allah. Jangan biarkan Mas Taufik kehilangan mentornya. Dan izinkan hamba... izinkan hamba membalas kebaikannya, memanggilnya 'Bapak' dengan batin yang sepenuhnya utuh," pintaku dalam doa yang sarat akan air mata.
Malam itu, ego kedewasaanku benar-benar luluh. Aku mengemis pada takdir, menyerahkan seluruh hasil akhir kepada-Nya setelah semua ikhtiar medis terasa menemui jalan buntu. Ketika aku menyudahi doa dan melipat sajadah, jam sudah menunjukkan pukul empat subuh. Ada rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhku, namun anehnya, dadaku terasa jauh lebih lapang. Seolah-olah, badai kecemasan yang tadinya berkecamuk hebat di dalam kepala kini telah berganti menjadi ketenangan yang pasrah.
Setelah menunaikan salat subuh, aku sempat tertidur ayam selama satu jam karena kelelahan emosional yang menguras tenaga.