Matahari baru saja naik beberapa jengkal, membiarkan sinarnya yang masih hangat menerobos masuk dan membentuk garis-garis terang di atas meja kayu rumah kami. Masih ada waktu setengah hari sebelum menjenguk Pak Rahman yang sudah siuman di rumah sakit. Di atas kompor gas satu tungku yang terletak di sudut ruangan, air dalam panci kecil mulai meletup-letup. Aku sedang mengaduk bubur instan untuk Ayah ketika lamunanku mendadak melayang jauh ke masa beberapa tahun yang lalu.
Masa di mana aku baru saja lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan dan berhasil mendapatkan pekerjaan pertamaku sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kontraktor lokal.
Aku teringat suatu sore di dapur ini, ketika aku baru saja menerima amplop gaji kedua. Ibu mendekatiku dengan wajah yang diliputi rasa sungkan yang amat besar.
"Nis..." panggil Ibu pelan, tangannya meremas ujung daster batiknya yang sudah mulai pudar warnanya.
"Iya, Bu? Ada apa?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang sedang kumainkan.
"Itu... kalau Ibu pinjam uang gajimu sedikit, boleh? Dua ratus ribu saja. Nanti kalau Ayahmu gajian dari pasar, Ibu ganti," ucap Ibu, suaranya nyaris berbisik, seolah takut kalimatnya akan melukai harga diriku atau harga diri Ayah jika terdengar.
Saat itu, di dalam benak anak usiaku yang baru belasan tahun, sebuah riak kekesalan langsung muncul. Aku mengembuskan napas agak keras sebelum merogoh dompet.
"Bu, kan beberapa hari yang lalu baru saja beli minyak goreng dan beras? Kok uangnya sudah habis lagi? Jangan boros-boros dong, Bu. Aku kan juga mau menabung untuk beli baju baru."
Ibu hanya terdiam menerima lembaran uang itu. Beliau tidak mendebat, tidak juga membela diri. Beliau hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat beban yang baru hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, bisa kupahami makna di baliknya.
"Nis... uuuuh..."
Suara lenguhan Ayah dari kasur lantai membuyarkan lamunanku. Aku buru-buru mematikan kompor, memindahkan bubur yang sudah matang ke dalam mangkuk kecil, lalu berjalan mendekati Ayah yang sudah membuka matanya.
"Ayah sudah lapar, ya? Ini Nisa sudah buatkan bubur hangat," kataku sembari membantu menyangga punggung Ayah dengan bantal agar beliau bisa duduk bersandar.
Ayah menatap mangkuk di tanganku, lalu menatapku dengan pandangan yang tenang. Hari ini adalah hari yang baik, demensianya sedang tidak kambuh. Beliau bisa mengenali wajahku dengan jelas.
Ayah mengunyah dengan perlahan, lalu menghela napas pendek.