Aroma obat-obatan dan karbol khas rumah sakit mendadak terasa lebih menyengat siang itu. Aku baru saja menyelesaikan administrasi tambahan untuk perawatan Pak Rahman di lantai bawah dan sedang berjalan menyusuri koridor menuju ruang rawat nomor 304. Di dekat meja perawat, langkah kakiku mendadak terhenti ketika sebuah suara familier memanggil namaku.
"Nisa? Ya ampun, beneran kamu, kan?"
Aku menoleh dan mendapati seorang wanita berambut sebahu dengan blus sewarna salem sedang menatapku antusias. Butuh waktu beberapa detik bagi otakku yang lelah untuk mengenali wajah itu.
"Rika? Ya ampun, Rik! Kamu sedang apa di sini?"
Kami pun berpelukan singkat. Rika adalah teman akrabku saat masih bekerja di perusahaan kontraktor dulu, sebelum kami akhirnya kehilangan kontak karena kesibukan masing-masing.
"Ini, aku habis mengantar anak keduaku kontrol ke dokter anak," jawab Rika sembari menunjuk stroller di sampingnya, tempat seorang balita laki-laki sedang tertidur pulas. Wajah Rika kemudian berubah penuh selidik, namun dengan binar penasaran yang khas.
"Kamu sendiri sedang apa? Siapa yang sakit? Oh ya, gimana sekarang sudah punya anak berapa, Nis?"
Pertanyaan yang meluncur begitu gamblang itu seketika membuat dadaku berdenyut agak kencang. Umur pernikahan kami memang sudah menginjak satu tahun, dan di usiaku yang kini menyentuh angka 30—usia yang bagi standar lingkungan sekitar tidak lagi bisa dikatakan muda—pertanyaan seperti itu kerap kali terasa seperti jarum halus yang menusuk ulu hati.
Aku menghela napas pelan, lalu memaksakan sebuah senyuman paling ikhlas di wajahku.
"Belum ada, Rik. Pernikahanku baru satu tahun juga, kok. Ini aku lagi jaga Bapak yang sedang dirawat."
Rika membelalakkan matanya, tampak sedikit terkejut.
"Lho, belum isi juga? Waduh, Nis, mumpung umurmu sudah kepala tiga, lho. Jangan ditunda-tunda. Nanti semakin tua malah makin berisiko dan susah programnya. Teman-teman seangkatan kita anaknya sudah pada masuk SD semua."
Kalimat Rika yang bernada menasihati itu sebenarnya tidak bermaksud jahat, aku tahu itu. Namun, di tengah kondisi mentalku yang sedang terkuras habis karena membagi fokus antara Ayah dan Pak Rahman, kata-kata itu terasa agak melelahkan.
"Iya, Rik, minta doanya saja ya, semoga segera disegerakan oleh Gusti Allah," jawabku lembut, memilih untuk memotong topik pembicaraan dengan halus agar tidak memperpanjang rasa canggung.
"Amin, amin. Ya sudah, Nis, aku duluan ya, kasihan ini si kecil kalau keburu bangun di rumah sakit. Semoga Bapakmu cepat sembuh!" kata Rika sembari melambaikan tangan dan mendorong strollernya menjauh di sepanjang koridor.
Aku melanjutkan langkah menuju kamar 304. Begitu masuk, suasana di dalam ruangan sangat tenang. Pak Rahman sedang tertidur lelap dengan napas yang teratur pasca-melewati masa kritisnya. Ibu sudah pulang sejak jam sebelas tadi, bergantian denganku untuk menjaga dan mengantar obat Ayah di rumah kos.