Sore itu, langit Jakarta tidak begitu ramah. Awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan beban air yang enggan tumpah, menciptakan suasana temaram yang menyusup ke setiap celah jendela rumah. Aku melangkah memasuki rumah kecil kami dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Sepatu kusamku beradu dengan lantai yang dingin, suaranya bergema samar, memecah keheningan yang menyambutku di ambang pintu.
Ibu sudah datang beberapa saat yang lalu untuk menggantikanku menjaga Pak Rahman di rumah sakit. Setelah diskusi panjang kami di lorong rumah sakit pagi tadi, Ibu tampak lebih tenang. Ada seberkas kelegaan di wajahnya yang mulai menua, sebuah ketenangan yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang merasa telah meletakkan beban berat di pundak yang tepat. Aku melangkah menuju kamar belakang, dan di sana, Ayah rupanya sedang tertidur pulas. Napasnya teratur, memecah kesunyian kamar yang berbau minyak kayu putih dan kenangan. Syukurlah, pikirku. Setidaknya untuk beberapa jam ke depan, Ayah tidak akan meracau tentang sengketa tanah atau ketakutan masa lalu yang kerap menghantuinya.
Setelah memastikan Ayah tetap nyaman, aku segera bergegas ke dapur. Aktivitas memotong sayur dan mencuci beras menjadi pelarian yang kuperlukan. Suara gemericik air dari keran dapur, denting piring yang bertabrakan, dan aroma nasi yang mulai matang seolah menjadi musik pengantar yang menenangkan saraf-sarafku yang tegang.
Namun, dapur ini—seperti setiap sudut rumah ini—adalah museum kenangan. Setiap kali aku berdiri di sini, ingatan masa kecil seolah hidup kembali. Aku bisa melihat diriku yang masih kecil, berdiri di atas dingklik kayu, mengamati Ibu yang dengan cekatan mengiris bumbu di meja yang sama. Ada begitu banyak tawa yang pernah menggema di dinding-dinding ini, tawa yang kini terasa jauh dan asing.
Lalu, memori itu bergeser ke masa remajaku, tepat ketika aku menginjak usia 20-an. Saat itu, aku adalah seorang gadis yang penuh dengan ego dan idealisme yang keras. Ketika Ibu memberitahuku bahwa ia sedang mengandung Aris, aku tidak merasakan sukacita seperti yang diharapkan orang-orang. Sebaliknya, yang kurasakan adalah kemarahan yang membuncah. Aku merasa dunianya Ibu yang selama ini adalah milikku, tiba-tiba terbagi. Aku merasa terlalu besar untuk memiliki adik lagi. Aku merasa hidup kami sudah cukup, sudah lengkap, dan kehadiran seorang anak baru di tengah usia Ibu yang tidak lagi muda terasa seperti sebuah beban yang tidak perlu.