Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #20

Arti Sebuah keluarga #20

Matahari tepat berada di puncaknya, membakar aspal kota yang terik, namun di dalam koridor rumah sakit ini, suhu udara justru terasa membeku. Langkahku menyusuri lantai porselen yang bersih, beradu dengan aroma antiseptik yang pekat—sebuah aroma yang selama tujuh hari terakhir telah menjadi saksi bisu kecemasan dan ketakutan terbesarku. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul dua belas siang, tepat saat jam kunjung pasien dimulai. Langkah kakiku terasa jauh lebih ringan hari ini. Beban berat yang sempat menggelayuti pundakku—beban yang membuat bahuku sakit dan napas terasa pendek—seolah menguap bersama angin siang yang berembus di luar gedung.

​Dinding-dinding putih rumah sakit yang biasanya terasa mengintimidasi, hari ini seolah melunak. Aku teringat bagaimana tujuh hari lalu, kakiku nyaris tidak bisa menapak saat menerima kabar bahwa Pak Rahman mendadak tumbang di tempat kerjanya. Dokter mengatakan ada infeksi yang menyerang kepalanya, sebuah kondisi yang membuat jantung kami sekeluarga seolah berhenti berdetak. Hari-hari setelahnya adalah kabut tebal ketakutan. Aku melihat Ibu menua sepuluh tahun hanya dalam hitungan hari.

​Begitu pintu kamar rawat nomor 304 kubuka perlahan, pemandangan di dalam ruangan langsung menghangatkan hatiku yang selama ini beku. Pak Rahman sudah bersandar di ranjangnya yang dinaikkan setengah badan. Meski selang oksigen masih terpasang di hidungnya dan wajahnya masih menyisakan gurat pucat pasca-koma, sorot matanya tidak lagi kosong. Sepasang mata yang tegas itu kini telah kembali memancarkan kehidupan. Di sampingnya, Ibu sedang dengan telaten menyuapkan beberapa sendok buah pepaya yang sudah dipotong kecil-kecil, memastikan nutrisi masuk ke tubuh pria itu dengan kelembutan seorang pendamping yang penuh bakti.

​Mendengar derit pintu, keduanya serempak menoleh. Pak Rahman menyunggingkan senyuman tipis, bukan lagi senyum yang kaku karena sakit, melainkan sebuah gestur yang tulus dan hangat, seolah ia baru saja kembali dari perjalanan jauh dan menemukan jalan pulang.

​"Assalamualaikum," sapaku lembut sembari melangkah mendekat.

​"Waalaikumsalam, Nisa. Sini masuk," sahut Ibu. Wajahnya tampak berkali-kali lipat lebih segar dan cerah dibandingkan kemarin. Aura kelelahan kronis—lingkaran hitam di bawah mata, garis-garis kekhawatiran yang menumpuk di kening—seolah sirna tanpa bekas, digantikan oleh binar kebahagiaan yang membuncah. Ibu tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang berperang melawan takdir, ia terlihat seperti seseorang yang sedang merayakan kehidupan. Aku menarik kursi plastik di samping ranjang, lalu duduk di sana, membiarkan keheningan menyelimuti kami dengan kenyamanan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

​Aku meletakkan tas jinjing berisi pakaian ganti Ibu di atas sofa, lalu berjalan mendekati sisi kanan ranjang tempat Pak Rahman berbaring. Aku menatap pria paruh baya di hadapanku ini dengan rasa haru yang mendalam. Mengingat bagaimana tubuh yang kini bersandar santai ini dua hari lalu bergeming dalam kondisi kritis, rasanya melihat beliau bisa tersenyum hari ini adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya. Di ruangan ini, di antara suara detak monitor jantung yang kini berirama normal, aku menyadari satu hal. Hidup memang rapuh, namun kasih sayang adalah perekat yang mampu menyatukan serpihan-serpihannya.

​Aku teringat masa-masa awal saat Ibu memutuskan untuk menikah lagi. Dulu, aku adalah dinding beton yang menolak kehadiran siapapun. Aku menganggap pria ini adalah penyusup, orang asing yang datang untuk menggantikan posisi Ayah di hatiku. Selama beberapa waktu, aku memelihara jarak. Aku memanggilnya dengan sebutan formal. Namun, tragedi yang hampir merenggut nyawanya minggu lalu seolah menjadi cermin bagiku. Aku melihat Ibu yang rapuh, aku melihat Aris yang ketakutan, dan aku melihat bagaimana pria ini—meski bukan darah dagingku—telah menempatkan kesejahteraan kami sebagai prioritas hidupnya.

​Aku mengulurkan tangan, meraih telapak tangan kanan beliau yang masih tertancap jarum infus. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh rasa takzim, aku membungkukkan badanku, lalu mencium punggung tangannya lama. Kulitnya terasa dingin, namun genggamannya memberikan kehangatan yang menjalar ke jantungku.

Lihat selengkapnya