Cemara Yang Patah (Ketika Ibu Menikah Lagi)

Susilawati Nussy
Chapter #21

Sisa Ingatan Di Sudut Rumah #21

Setelah riuh rendah urusan rumah sakit dan keberangkatan Ibu selesai, duniaku kini kembali mengerucut di rumah. Ruangan ini tidak banyak berubah. Masih dengan cat dinding yang sedikit mengelupas di sudut dekat jendela, lemari kayu kecil yang mulai miring sebelah, dan rak piring plastik yang menyandar di dinding. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda dalam cara aku memandang ruangan ini. Jika dulu aku merasa seperti tawanan yang terjebak di dalam kotak sempit, kini ruang ini terasa seperti sebuah altar kecil tempat pengabdianku ditempa.

​Aku kembali ke rutinitas lamaku yang sunyi, merawat Ayah seorang diri. Pagi ini, cuaca di luar sebenarnya cukup cerah. Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah ventilasi, membentuk garis-garis cahaya yang membelah kegelapan kamar dan menari di atas debu-debu yang beterbangan. Namun, atmosfer di dalam kamar kos kami berbanding terbalik dengan cerahnya langit di luar.

​Sejak terbangun jam lima subuh tadi, demensia Ayah kembali kambuh. Dan kali ini, serangannya tampak jauh lebih parah daripada biasanya.

​"Mana? Di mana sertifikat tanahnya?! Mereka mau menggusur rumah kita! Panggil semua tetangga, kita harus jaga gerbang depan!" meracau Ayah dengan suara yang bergetar hebat. Matanya melotot menatap ke arah sudut ruangan yang kosong, tangannya mencengkeram erat pinggiran selimut lusuhnya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Aku yang sedang memotong sayuran untuk memasak bubur langsung meletakkan pisau, lalu bergegas duduk di samping kasur lantai tempat Ayah berbaring.

"Ayah... tenang, Yah. Ini Nisa di sini. Tidak ada yang mau menggusur rumah kita. Kita aman di sini," kataku dengan suara selembut mungkin, mencoba menarik kesadarannya kembali ke realitas.

​Namun, Ayah seolah tidak mendengarku. Pikirannya saat ini sedang terjebak di dalam labirin masa lalu, mungkin belasan tahun lalu ketika area pemukiman tempat kami tinggal dulu sempat bersengketa dengan pihak developer. Jiwanya meronta, ketakutan menghadapi bayang-bayang masa lalu yang kembali hidup di dalam kepalanya yang menua. Baginya, rasa takut itu nyata, setajam silet yang menyayat kulitnya.

​"Kamu siapa?! Jangan ikut campur! Panggil Ibumu, suruh dia bawa Aris sembunyi di dalam kamar! Cepat!" bentak Ayah, menepis tanganku ketika aku mencoba mengusap lengannya.

​Napas Ayah memburu, wajahnya yang keriput tampak pias diselimuti rasa panik yang amat sangat. Menyaksikan Ayah yang seperti ini, jika di masa-masa awal dulu, egoku pasti akan langsung tersulut. Aku pasti akan merasa frustrasi, menangis karena merasa tidak berdaya, atau bahkan berakhir pada amarah karena lelah fisik yang tak tertahankan. Mengapa Ayah harus begini? Mengapa ingatannya justru memilih untuk kembali ke masa-masa traumatis, bukan masa-masa indah saat kami masih tertawa bersama?

​Namun pagi ini, setelah melewati rentetan badai dan belajar banyak tentang arti kedewasaan dari ketulusan Pak Rahman serta ketabahan Ibu, hatiku terasa jauh lebih tenang. Aku tidak lagi membalas racauan Ayah dengan bantahan logika yang keras. Dulu, aku akan berteriak,

Lihat selengkapnya