
BAB 3: CEO YANG MENYAMAR
Kedatangan tamu misterius itu diiringi suara guntur yang bergemuruh dan kilatan petir yang mengerikan di langit. Seolah guntur itu memperingatkannya untuk terakhir kali agar Maman lebih waspada. Sayangnya—Maman tidak pandai membaca tanda-tanda.
Kepanikan seketika menyergap Maman bak guyuran air es. Ia sedang duduk di tengah ruang tamu rumah sebesar lapangan basket, dikelilingi kegelapan total, dengan layar laptop yang memancarkan cahaya biru ke wajahnya layaknya seorang peretas atau pencuri yang sedang membobol data rahasia. Dan kini, ada seseorang di luar sana.
Dengan gerakan serabutan dan napas yang tertahan di tenggorokan, Maman buru-buru berdiri dari lantai marmer. Koper besarnya hampir tersandung oleh kakinya sendiri. Dalam gelap, tangannya meraba-raba dinding dengan panik, mencari keberadaan saklar lampu utama.
Klik. Tepat saat ia menekan saklar, ruangan besar itu seketika bermandikan cahaya putih terang benderang yang menyilaukan mata. Maman memicingkan matanya, merapikan kemejanya yang sudah kusut masai dan penuh keringat kering, mencoba berdiri setegap mungkin.
Di luar, suara deru mesin mobil telah mati. Terdengar ketukan pelan dari langkah sepatu hak tinggi di teras. Lalu, pintu depan ganda yang terbuat dari kayu jati solid itu terbuka. Suara anak kunci diputar dua kali dari luar terdengar mantap dan berwibawa.
Seorang wanita melangkah masuk menembus ambang pintu.
Maman terdiam membeku. Ia seakan lupa cara menarik napas. Wanita yang berdiri di hadapannya itu... cantik. Sangat cantik, namun kecantikannya tidak memancarkan kehangatan, melainkan aura yang sangat mengintimidasi.
Ia mengenakan blazer hitam elegan yang membalut kemeja putih sutra di dalamnya, dipadukan dengan high heels runcing dan rok pendek hitam yang membalut pinggulnya dengan sangat eksotis. Pakaian itu menegaskan garis postur tubuhnya yang tegak dan proporsional tanpa perlu terlihat berlebihan. Rambutnya disanggul sangat rapi di tengkuk, tak membiarkan sehelai pun tampak keluar dari tatanannya—seolah mencerminkan dengan sempurna caranya mengendalikan diri dengan setiap situasi di sekitarnya. Kemeja putih di balik blazer-nya tertutup rapi, sangat sederhana, namun justru dari kesederhanaan itulah terpancar kesan berwibawa yang luar biasa. Ia tidak tampil mencolok, tapi kehadirannya sangat sulit diabaikan—tenang, matang, dan penuh kendali.
Di salah satu tangannya, ia menenteng sebuah tas kerja bermerek mahal, sementara tangan kirinya sibuk membentangkan payung hitamnya untuk menepis rintik air—rupanya di luar baru saja mulai turun gerimis.
Wanita itu tampak terkejut. Langkahnya terhenti saat melihat Maman berdiri kaku di tengah ruang tamu layaknya patung. Maman tiba-tiba merasa sangat kerdil. Kontras di antara mereka terlalu menyiksa, wanita ini tampak seperti dewi korporat yang baru turun dari majalah bisnis elit, sementara Maman tampak seperti gembel ibukota yang baru saja kalah perang melawan debu kolong lemari.
"Oh," wanita itu akhirnya bersuara, memecah kecanggungan yang menggantung di udara. Suaranya terdengar lembut, tenang, namun memiliki gema berwibawa yang anehnya membuat nyali Maman menciut. “Kamu penyewa baru yang dibilang Tante Siska?”.
Maman mengerjap, memaksa rohnya kembali ke dalam tubuh. Ia segera tersadar dan membungkuk sopan, nyaris sembilan puluh derajat layaknya staf magang yang bertemu direktur utama. “Ah, iya! Selamat malam, Mbak. Saya Maman. Saya baru pindah tadi sore.”