
BAB 4: RATU ES MURKA
Malam itu, satu kesalahan kecil yang lahir dari kepolosan, akan menjadi pemicu badai yang menghancurkan segalanya.
Waktu seakan berhenti berdetak di ruang tamu rumah raksasa itu. Suhu ruangan yang disemburkan oleh pendingin udara mendadak terasa anjlok hingga ke titik beku.
Langkah kaki Freya yang tadinya setenang air danau, kini terhenti total. Tubuhnya menegang luar biasa, sekeras beton cor. Matanya yang beberapa detik lalu menyorotkan kelelahan khas pekerja ibukota, kini membelalak ngeri dengan pupil yang mengecil. Pandangannya terkunci rapat, seolah terhipnotis oleh pemandangan horor, pada sebuah benda kecil yang tertancap di sisi laptop Maman.
Sebuah flashdisk perak. Dan sebuah boneka kelinci usang yang salah satu telinganya hampir terputus.
Darah seakan tersedot habis dari wajah cantik Freya, menyisakan pucat pasi yang mengerikan seperti mayat hidup. Napasnya tertahan di kerongkongan. Boneka kelinci itu... itu adalah hadiah terakhir dari mendiang ibunya sebelum wanita itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya belasan tahun lalu. Dan flashdisk itu adalah diary digitalnya. Tempat sampah emosionalnya yang paling gelap, tempat ia memuntahkan semua trauma, kepedihan, jeritan batin, dan hal-hal menjijikkan dari masa lalunya yang tidak pernah ia ceritakan pada psikiaternya sekalipun.
Ingatan Freya berputar cepat layaknya kaset rusak. Bagaimana benda itu bisa ada di sana? Sebulan lalu, ia memang sempat menginap di kamar bawah karena kakinya terkilir dan malas menaiki tangga. Flashdisk itu pasti terjatuh tanpa ia sadari.
Maman, yang sama sekali tidak mampu membaca perubahan mematikan pada atmosfer ruangan itu, menyadari arah pandangan Freya yang terpaku ke meja. Dengan kepolosan yang sebentar lagi akan menjadi penyesalan terbesarnya, ia tersenyum lebar.
"Oh, itu!" seru Maman dengan nada antusias, memecah keheningan yang mencekik. "Iya, Mbak. Tadi saya mau cerita. Pas saya bersih-bersih kamar di bawah, saya nemu flashdisk itu di kolong lemari."
Freya tidak menjawab. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Matanya tidak berkedip, masih terpaku pada boneka kelinci usang tersebut.
"Mbak Freya?" panggil Maman pelan, mulai merasa ada sesuatu yang janggal dengan kebisuan wanita itu.
Freya menoleh perlahan. Gerakannya sangat kaku, seolah engsel lehernya berkarat. Tatapan matanya yang tadi datar, kini berubah menjadi dingin, tajam, dan menusuk langsung hingga ke tulang sumsum Maman.
"Kamu..." suara Freya terdengar bergetar, seperti bisikan angin yang membawa badai. "membukanya?"
Di sinilah letak kesalahan fatal itu terjadi. Jika saja Maman berbohong dan berkata tidak, mungkin malam itu ia masih bisa tidur nyenyak. Namun Maman, dengan ketidaktahuan yang luar biasa polos, justru mengangguk antusias. Ia mengira ini adalah momen emas untuk memuji selera sastra dan memamerkan temuannya.
"Iya, Mbak. Awalnya, saya cuma mau cari tau info siapa pemiliknya. Tapi di dalemnya cuma ada satu file novel," Maman mulai berapi-api menjelaskan. "Saya baca… terus, ceritanya bagus banget Mbak, bikin penasaran parah!"
Tangan Freya yang menggantung di sisi tubuhnya mulai mengepal erat. Kuku-kukunya yang terawat kini menancap dalam ke telapak tangannya sendiri.