BAB 5: MEMANGGIL BALA BANTUAN
Ketika manusia terpojok oleh kesalahannya sendiri, otak biasanya berhenti mencari logika rasional dan mulai mengemis pengampunan. Maman menyadari bahwa di dunia nyata tidak ada tombol undo untuk menarik kembali ucapannya. Ia baru saja menggali aib paling memilukan dari wanita di depannya, dan dengan bodohnya, ia menaburkan garam di atas luka itu.
Suara bantingan pintu kayu jati raksasa itu masih terngiang di telinga Maman, disusul bunyi klik ganda dari anak kunci yang diputar paksa dari dalam. Bunyi itu seolah menjadi vonis mati bagi kewarasannya malam ini.
Maman merosot perlahan, membiarkan gravitasi menarik tubuhnya hingga ia terduduk lemas di lantai teras marmer yang sedingin es. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, membiarkan rintik hujan yang tertiup angin bercampur dengan keringat dinginnya.
"Bego. Bego kamu, Man," rutuknya pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan. Ia memukul kepalanya pelan, menghukum kebodohannya sendiri yang tak tertolong.
Hanya dalam hitungan jam, hidupnya yang biasa-biasa saja kini hancur lebur tanpa sisa. Ia baru saja diusir dari rumah kos lamanya, dan kini ia kembali diusir dari tempat barunya di tengah malam buta. Ia terdampar di sebuah perumahan elit yang jaraknya bermil-mil jauhnya dari jalan raya. Tidak ada angkot, tidak ada taksi yang lewat, bahkan tukang ojek online pun mungkin akan berpikir dua kali menembus hujan badai ke area perumahan sepi ini.
Namun, bukan kehilangan tempat berteduh yang membuat Maman gemetar ketakutan. Fakta yang paling mengerikan adalah: wanita cantik yang baru saja ia buat menangis histeris tadi ternyata adalah orang yang bekerja di gedung kantor yang sama dengannya. Dari pakaian, aura, dan cara bicaranya, Maman yakin Freya bukanlah staf biasa. Wanita itu pasti menduduki posisi penting. Dan besok pagi, karir Maman sebagai "butiran debu" di PT. Angkasa Raya dipastikan akan tamat.
Di tengah keputusasaan yang melumpuhkan akal sehatnya, Maman merogoh saku celananya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala redup, menampilkan indikator baterai berwarna merah yang berkedip menyedihkan. Baterainya tinggal 15%. Ia tidak bisa membuka aplikasi peta, tidak bisa iseng memanggil taksi, dan tidak bisa membuang waktu. Ia hanya punya satu kali kesempatan menelepon sebelum benda mati itu benar-benar tak berguna.
Maman mencari satu-satunya nama kontak yang mungkin bisa menjadi tali penolongnya malam ini, satu-satunya orang yang tahu keberadaannya.
Ibu Siska (Agen Kos)
Maman menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Nada sambung terdengar panjang dan monoton. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Jantung Maman berdegup kencang, takut panggilan itu diabaikan karena ini sudah sangat larut.