CEO BENCI JADI CINTA (M.MANIS.S)

TUDI NURYANTO
Chapter #6

BAB 6: BIDADARI TURUN DARI MOBIL



BAB 6: BIDADARI TURUN DARI MOBIL

Maman Suparman selalu memegang teguh satu prinsip dalam hidupnya: kejujuran dan niat baik akan selalu membawanya pada keselamatan. Namun malam ini, di bawah guyuran badai Jakarta yang tak kenal ampun, prinsip itu hancur berkeping-keping. Ia belajar satu pelajaran pahit bahwa di dunia para elit, niat paling tulus pun bisa berubah menjadi tiket masuk jalur VIP menuju neraka.

Hujan turun semakin beringas, seolah langit ibu kota sedang menumpahkan seluruh amarahnya. Suara gemuruh petir bergema di atas langit malam, seolah menghujat tindakan Maman yang baru saja ia lakukan. Dinginnya angin malam yang bercampur butiran air hujan menerpa sekujur tubuh Maman seolah butiran air yang dibawa angin itu murka dan menghujani tubuh Maman layaknya pukulan yang bertubi-tubi.

Di sudut teras rumah kos yang remang-remang itu, Maman meringkuk meratapi nasibnya. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, berusaha mati-matian menahan gigil. Kemeja kerjanya kini lepek menempel di kulitnya. Kain yang basah kuyup itu terasa begitu berat, seberat dosa yang baru saja ia lakukan. Mukanya melas yang tidak dibuat-buat. Sudah seperti muka anjing yang dimarahi majikannya. Atau mungkin memang tindakannya itu sudah layak disebut anjing.

Kacamatanya berembun tebal, membuat dunia tampak buram. Sesekali Maman melepas kacamatanya, mengusap lensanya dengan ujung kemeja yang sama basahnya, lalu memakainya kembali hanya untuk memastikan dan melihat sosok bala bantuan terakhir yang baru saja ia panggil dari smartphone-nya itu segera datang menyelamatkannya. Pikirannya berkecamuk dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang menghantui kepalanya.

Sudah empat puluh lima menit berlalu sejak ia menelepon Bu Siska. Bagaimana jika Bu Siska berubah pikiran? Bagaimana jika wanita galak si pemilik kos tadi melarangnya datang? Bagaimana jika ia dibiarkan membusuk menjadi mayat kedinginan di teras ini?

"Nasib... nasib..." Maman menghela napas panjang, uap putih tipis mengepul dari mulutnya. "Cuma gara-gara muji tulisan di flashdisk... kenapa drama hidupku ngalah-ngalahin sinetron Indosiar?"

Tepat saat keputusasaan mulai menggerogoti sisa kewarasannya, sebuah keajaiban muncul.

Dari ujung jalan yang gelap, sepasang sorot lampu LED putih kebiruan yang sangat terang menembus tirai hujan. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berkilau—sebuah BMW 7 Series edisi terbaru—meluncur masuk dengan keanggunan seorang bangsawan yang akan membuat orang yang melihatnya terpuaku dan membeku ditempat.

BMW hitam itu berhenti tepat di depan undakan teras. Cklek. Pintu pengemudi terbuka dengan mulus.

Sebuah payung hitam besar mengembang. Dan sosok yang perlahan keluar dari balik kemudi itu... benar-benar membuat napas Maman tercekat. Jantungnya yang tadi melemah, kini memompa darah dua kali lipat lebih cepat.

Siska. Wanita yang selama ini hanya Maman kenal lewat suara telepon, ternyata sepuluh kali lipat lebih memukau di dunia nyata. Jika ada alat untuk mengukur kecantikannya—mungkin wanita ini ada di level SSS, tetap cantik dilihat dari angle manapun. Meskipun usianya sudah menginjak 35 tahun, Siska mengenakan midi dress lengan panjang berbahan rajut abu-abu yang membalut tubuh sintalnya dengan sangat sempurna. Lekuk tubuh matang itu memancarkan aura feminitas dan otoritas yang mematikan.

Siska berlari kecil menaiki tangga teras, melipat payungnya dengan satu gerakan luwes. Tepat pada detik itu, hembusan angin membawa aroma parfum vanilla yang manis dan hangat dari tubuhnya, mengalahkan bau tanah basah dan aroma kemiskinan yang menguar dari kemeja Maman.

"Ya ampun, Mas Maman!" seru Siska, matanya membelalak kaget.

Maman menajamkan pandangannya dan membeku beberapa detik melihat bidadari itu ada didepan matanya. Maman buru-buru berdiri. Kakinya yang kram nyaris membuatnya terhuyung. "M-malam, Bu Siska," sapanya dengan wajah pucat dan badan gemetaran. "Maaf sudah merepotkan Ibu malam-malam begini."

Siska tidak menjawab. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka tanpa keraguan. Tangan halusnya terulur. Awalnya ia menyentuh lengan kemeja Maman, namun detik berikutnya, punggung tangan Siska bergerak naik, menyentuh pipi Maman dengan sangat lembut.

Sentuhan itu luar biasa hangat, mengalirkan gelombang kejut yang membuat Maman membeku dan matanya terbuka lebar—menampakkan ekspresi wajah kaget yang tidak dibuat-buat. Maman seperti berada di dunia yang berbeda, setelah tamparan Freya yang seperti siksaan neraka menimpa dirinya—kini ia diperlakukan penuh perhatian layaknya pangeran yang di surga.

"Kamu dingin sekali," gumam Siska. Matanya menatap wajah Maman lekat-lekat, menyusuri detail kepolosan di sana.

Bagi Siska, pria dengan kacamata miring dan bibir pucat yang menatapnya penuh rasa bersalah ini terlihat sangat... menggemaskan. Berbeda dengan pria-pria korporat busuk di sekelilingnya, kepolosan Maman begitu tulus.

Jantung Siska berdegup kencang. 

‘Tipeku,’ batinnya menjerit.

Sisi keibuannya tergugah, namun di saat yang sama, insting predatornya terbangun dari tidur panjang. Sebuah insting kepemilikan yang sangat berbahaya merayap naik dari dasar perutnya. Ada desir aneh di dalam darahnya, sebuah bisikan takdir yang seolah menunjukkan bahwa pria lugu di hadapannya ini kelak adalah takdirnya yang selama ini ia nantikan setelah bertahun-tahun lamanya.  

Lihat selengkapnya