CEO BENCI JADI CINTA (M.MANIS.S)

TUDI NURYANTO
Chapter #7

BAB 7: MAMAN = MY MAN

Pemberitahuan tentang judul:

(M.MANIS.S = MY MAN IS SUPRAMAN)

Maman memasuki rumah itu dan disambut oleh interior yang hangat. Lantai marmer mengkilap, sofa empuk yang tampak nyaman sekali meskipun Ia belum mencobanya, dan dapur bersih dengan island table marmer. Semuanya terlihat sangat terawat dan bersih.

“Kamu pakai kamar utama di lantai dua ya,” perintah Siska.

“Jangan, Tan! Kamar pembantu aja yang kecil. Saya nggak enak pakai kamar utama.”

Siska berkacak pinggang, menatap Maman dengan ekspresi pura-pura marah yang justru terlihat seksi. “Maman, di rumah ini cuma ada satu kamar tidur yang ready spreinya. Sisanya masih kosong atau jadi gudang. Kamu mau tidur di sofa?”

Maman kalah telak. “Baik, Tan.”

Maman membawa kopernya ke lantai dua. Kamar utamanya sangat luas, lengkap dengan balkon pribadi dan kamar mandi dalam yang memiliki bathtub. Maman merasa seperti memenangkan lotre.

Setelah meletakkan barang, Maman turun kembali ke lantai satu. Ia menemukan Siska sedang sibuk di dapur. Long Blazer yang dipakainya sudah dilepas, memperlihatkan lekuk tubuhnya dalam balutan dress selutut berwarna merah yang pas badan. Rupanya Siska sudah ganti baju yang lebih eksotis.

“Duduk dulu, Man. Tante buatkan cokelat panas. Kamu masih gemetar tuh,” ujar Siska tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk panci kecil di atas kompor.

Maman duduk di kursi bar dapur, memperhatikan punggung Siska. ‘Wanita ini... sungguh malaikat, pikirnya. Sudah kaya, baik hati, cantik, dan perhatian. Siapa pun suaminya pasti orang paling beruntung di dunia.’

“Tante Siska tinggal di mana? Suami Tante nggak nyariin malam-malam begini nganterin cowok asing?” tanya Maman polos, hanya ingin berbasa-basi.

Gerakan tangan Siska terhenti sejenak. Keheningan menyelimuti dapur selama beberapa detik.

Siska berbalik, membawa dua cangkir mug berasap. Wajahnya tersenyum, tapi ada sedikit kesedihan di matanya yang segera ia sembunyikan.

“Tante tinggal sendirian, Man. Di daerah Pondok Indah,” jawabnya sambil menyodorkan mug ke hadapan Maman. “Tante masih single kok. Belum pernah menikah.”

Maman merasa ingin menampar mulutnya sendiri. “Ya ampun... maaf, Tante. Saya nggak bermaksud... aduh, mulut saya ini memang minta disekolahin lagi.”

Siska tertawa kecil, kali ini tulus melihat kepanikan Maman. Ia berjalan memutari meja bar dan duduk tepat di samping Maman. Jarak mereka cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan.

“Nggak apa-apa, santai aja,” Siska menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Maman dari samping. “Makanya rumah Tante di sana sepi banget. Besar, tapi kosong. Kadang Tante kayak ngomong sama tembok.”

Siska menyesap cokelat panasnya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih ceria. “Makanya, pas Tante liat kamu tadi... Tante senang. Akhirnya properti Tante ini ada gunanya. Ada yang nempatin. Jadi jangan merasa nggak enak ya? Kamu justru bantu Tante meramaikan suasana.”

Maman mengangguk, menyesap cokelat panasnya. Rasanya manis dan creamy, langsung menghangatkan tubuhnya dari dalam. “Makasih, Tan. Saya janji bakal ngerawat rumah ini baik-baik. Saya bakal jadi penyewa terbaik.”

“Tante pegang janji kamu ya,” Siska tersenyum penuh arti.

“Iya Tan, saya janji. Kalo saya ingkar. Tante boleh hukum saya, hehehe.”

“Oke, nanti kalo kamu ingkar, Tante bakal hukum kamu pake cambuk, hehehe.” Siska tersenyum manis.

“Bisa aja Tante becandanya.” Maman terkekeh pelan.

Tiba-tiba ponsel Maman di saku celananya bergetar. Ia mengeceknya. Notifikasi dari grup kantor.

REMINDER: Besok pagi briefing bulanan divisi Marketing dengan CEO baru. Jangan telat!

Maman menepuk jidatnya. “Astaga, besok ada briefing sama CEO. Saya lupa setrika baju kerja.”

Siska mengernyit. “CEO? Kamu kerja dimana sih Man?”

“Di Angkasa Raya Tan. Baru setahun disana, saya tadinya di kantor cabang tapi tiba-tiba dipindah ke kantor pusat. Gak tau deh alasannya.”

Siska tersenyum penuh arti. Mencoba menyembunyikan identitas dirinya.

“Oh, jadi kamu karyawan pindahan dari cabang. Berarti performa kamu bagus dong. Bisa sampai dipindah ke kantor pusat.”

“Bisa jadi sih, Tan. Tapi, katanya CEO-nya baru ganti beberapa bulan lalu, tapi saya belum pernah liat mukanya secara langsung. Dengar-dengar sih galak banget. Makanya saya harus siap pagi-pagi.”

Siska terdiam. Wajahnya sedikit memucat. CEO baru... itu Freya.

Tentu saja Siska tahu. Dia adalah COO atau tangan kanannya Freya merangkap sebagai mentor dan mengurus segala keperluan Freya yang Ia anggap sudah seperti keponakannya sendiri. Siska sangat dekat dengan ibunya Freya sejak Ia berusia 23 tahun dan Ia sudah mengenal Freya yang saat itu baru berumur 13 tahun.

Lihat selengkapnya