CEO BENCI JADI CINTA (M.MANIS.S)

TUDI NURYANTO
Chapter #8

BAB 8: DIKEROYOK EMAK-EMAK

BAB 8: DIKEROYOK EMAK-EMAK

Terkadang, ilusi paling kejam dari takdir adalah membiarkan seseorang terbang setinggi-tingginya, lalu menjatuhkannya tanpa aba-aba. Malam ini, Maman mengira ia telah terbebas dari nasib buruk, tanpa menyadari bahwa senyumnya saat ini adalah awal dari sebuah kehancuran total.

Keesokan paginya.

Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama yang mewah. Maman menggeliat, merasakan kenyamanan kasur king size yang empuknya bagaikan awan. Sejenak, ia lupa di mana ia berada. Ia mengira masih di kos sempitnya di Mampang.

Saat ia membuka mata dan melihat langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu gantung kristal minimalis, ingatan semalam kembali membanjiri benaknya.

“Jam berapa ini?!”

Maman menyambar ponselnya. Pukul 06.20.

“Aman! Masih keburu!”

Maman melompat turun dari kasur. Ia berlari ke kamar mandi, menikmati shower air hangat yang deras dengan sabun beraroma mewah yang sudah tersedia di sana.

Selesai mandi Maman berpakaian rapi, menyisir rambutnya, dan memakai kacamatanya yang sedikit bengkok dan retak akibat tamparan Freya. Ia menatap cermin.

“Oke, Maman. Lupakan kejadian semalam. Lupakan wanita galak itu. Fokus kerja. Hari ini briefing sama CEO baru. Tunjukkan performa terbaik.”

Maman keluar dari rumah, mengunci pintu dengan kode digital yang diberikan Siska semalam. Ia berjalan kaki. Udara pagi Senopati masih segar. Dan benar kata Siska, jarak ke gedung Angkasa Raya hanya 15 menit berjalan kaki santai. Ini kemewahan luar biasa di Jakarta.

Maman sampai di lobi gedung pencakar langit itu. Karyawan-karyawan lain sudah mulai berdatangan, tap kartu akses, dan berdesakan menuju lift.

“Woy, Man! Tumben seger muka lu!” sapa Dika, rekan satu timnya di divisi pemasaran, sambil menepuk punggung Maman.

“Iya dong, abis pindah kosan. Deket banget sekarang, jalan kaki doang,” jawab Maman bangga.

“Widih, gaya bener anak Senopati. Kos di mana lu? Pasti mahal.”

“Adalah, dapet harga temen,” Maman nyengir.

“Dik. Ntar jam istirahat anterin gue ya, ambil motor, sekalian makan diluar, tenang aja gue yang traktir.”

“Oke, siap Boskuh.”

Mereka berdua berjalan menuju lift karyawan. Antrean cukup panjang. Namun, tiba-tiba satpam di depan lift membungkuk hormat, membuat kerumunan karyawan menyingkir memberi jalan.

“Misi, misi! Jalur VIP! Ibu CEO dan COO mau lewat!” seru kepala keamanan.

Maman dan Dika mundur ke pinggir.

Dari pintu lobi, dua wanita berjalan masuk dengan langkah tegap yang membelah kerumunan. Suara hak tinggi mereka beradu dengan lantai marmer lobi, menciptakan irama kekuasaan.

Yang berjalan di belakang adalah wanita yang sangat Maman kenal. Siska.

Wanita itu mengenakan setelan kerja formal berwarna abu-abu tua, rambutnya disanggul rapi, kacamata membingkai wajah cantiknya. Ia membawa tablet dan beberapa berkas. Wajahnya serius, sangat berbeda dengan “Tante Siska” yang manja semalam.

Dan yang berjalan di depan…

Wanita dengan blazer hitam oversized yang disampirkan di bahu, kemeja putih sutra, dan rok pensil hitam. Wajahnya dingin sedingin es kutub utara. Aura dominasinya membuat karyawan lain menunduk segan.

Mata Maman membelalak di balik kacamatanya. Rahangnya nyaris jatuh ke lantai.

Itu Freya.

Wanita yang tadi malam menamparnya. Wanita yang mengusirnya di tengah hujan. Wanita yang aibnya ia baca di flashdisk bergantungan boneka kelinci.

Lihat selengkapnya