CEO BENCI JADI CINTA (M.MANIS.S)

TUDI NURYANTO
Chapter #10

BAB 9: RUANG EKSEKUSI

BAB 9: RUANG EKSEKUSI

Di dalam ekosistem rantai makanan perusahaan, ada sebuah hukum tak tertulis yang lebih absolut daripada gravitasi: jangan pernah sekali-kali menarik perhatian predator puncak jika kau hanyalah seekor herbivora kecil di dasar piramida. Namun, bagaimana jika kau tidak hanya menarik perhatian sang predator, tetapi juga merendahkan harga dirinya, membaca rahasia paling kelamnya, dan diusir dari sarangnya pada malam sebelumnya? Jawabannya sederhana: kau tidak sedang menunggu pemecatan, kau sedang menunggu eksekusi mati.

Maman Suparman menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel toilet pria lantai 30. Wajah yang terpantul di sana bukanlah wajah seorang staf pemasaran yang siap menyambut hari cerah, melainkan wajah pucat pasi yang seolah seluruh liter darah di tubuhnya baru saja disedot habis ke dasar tumit. Kantung matanya menghitam, kontras dengan kulitnya yang memutih karena teror.

Kran air otomatis menyala saat ia menyodorkan tangannya. Ia menangkup air dingin itu dan membasuh wajahnya berkali-kali dengan kasar. Air menetes dari dagu dan ujung hidungnya, membasahi kerah kemeja putihnya yang baru disetrika. Ia berharap sensasi dingin yang menusuk pori-pori kulitnya itu bisa membekukan rasa panik yang sejak tadi membakar isi kepalanya. Namun, usahanya sia-sia. Jantungnya masih berdegup liar, menghantam tulang rusuknya seolah ingin melompat keluar.

“Tenang, Man. Tenang,” bisik Maman pada cermin di depannya, suaranya bergetar parah. Ia mencengkeram tepi wastafel marmer itu kuat-kuat, mencoba mensugesti dirinya sendiri dengan logika murahan. “Dia itu CEO. Penguasa gedung ini. Kamu cuma staf kroco yang namanya aja mungkin nggak ada di radar HRD. Kemungkinan dia ingat muka kamu itu kecil banget, nyaris nol. Semalam kan gelap gulita karena badai. Kamu pakai baju santai, acak-acakan. Sekarang kamu pakai kemeja rapi, rambut klimis disisir pomade... beda kan? Pasti beda banget. Dia nggak mungkin ngenalin kamu.”

Ia berusaha mati-matian menyangkal kenyataan, merajut kebohongan demi kebohongan di kepalanya untuk mempertahankan sisa-sisa kewarasannya, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa semua penyangkalan itu sia-sia.

Kejadian di lobi pagi tadi tidak bisa dihapus dari ingatannya. Saat rombongan VIP itu membelah kerumunan, tatapan Freya yang tanpa sengaja bertemu dengannya bukanlah tatapan seorang bos yang melihat bawahan tanpa nama. Bukan. Tatapan Freya di lobi tadi sama sekali bukan tatapan orang asing. Itu adalah tatapan dingin seorang predator buas yang baru saja mengenali mangsanya yang lepas dari kandang. Ada kilatan mematikan di mata wanita itu yang seolah berkata: 'Aku menemukanmu, bajingan kecil.'

Cklek!. Suara pintu toilet utama terbuka membuat bahu Maman tersentak kaget. Dari pantulan cermin, ia melihat Dika melangkah masuk dengan santai. Rekan satu timnya itu bersiul kecil menyanyikan lagu dangdut koplo yang sedang viral. Namun, siulan Dika mendadak terhenti di tengah nada saat ia melihat sosok Maman yang berdiri kaku memegang wastafel. Pria itu tampak persis seperti pesakitan yang sedang menunggu giliran duduk di kursi listrik.

“Woy, ngapain lu komat-kamit depan kaca? Kesurupan penunggu toilet lu?” ledek Dika, melangkah maju ke cermin di sebelah Maman sambil membetulkan simpul dasinya yang sedikit miring.

Maman hanya melirik dari sudut matanya, tangannya gemetar saat meraih selembar tisu tebal dari dispenser.

“Buruan ke Meeting Room A. Pak Herman udah nungguin di sana sambil komat-kamit baca doa,” ucap Dika, mengubah nada suaranya menjadi sedikit lebih serius. “Katanya Bu Freya itu orangnya gila hormat dan on time banget. Telat semenit masuk ruangan, kelar hidup lu. Bisa langsung dieksekusi hari ini.”

Maman menghela napas panjang, sangat panjang, seolah ia sedang mengeluarkan seluruh beban dunia dari paru-parunya. Ia mengelap wajahnya yang basah dengan tisu, memastikan kacamatanya yang sedikit retak di ujung bingkai kembali terpasang sempurna. “Iya, Dik. Lu duluan aja gih. Gue... gue lagi nyiapin mental,” jawab Maman dengan suara parau.

Dika tertawa renyah, menepuk bahu Maman dengan keras hingga tubuh Maman sedikit terhuyung. “Halah, santai aja kali, Bro! Lebay banget lu. Palingan kita cuma disuruh duduk anteng dengerin ceramah pagi. Yang bakal kena semprot dan disembelih itu biasanya level manajer ke atas. Kita mah staf bawah cuma disuruh jadi tim hore doang buat ngeramein kursi kosong,” ujarnya tanpa beban, lalu berbalik dan berjalan santai keluar dari toilet.

Maman berdiri mematung menatap pintu toilet kayu jati yang kembali tertutup rapat secara hidrolik. Keheningan kembali menyergapnya. 'Andai lu tau yang sebenarnya, Dik,' batin Maman miris, merasakan kepahitan yang menyengat di pangkal lidahnya. 'Gue bukan cuma anggota tim hore. Di ruangan itu nanti, gue adalah tersangka utamanya.'

Dengan langkah berat yang diseret pelan—persis seperti kaki yang diikat dengan batu kali seberat puluhan kilogram—Maman memaksakan dirinya berjalan meninggalkan toilet, melangkah menyusuri lorong panjang berkarpet merah yang terasa bagai rute menuju neraka.

Sepanjang langkahnya, sebuah firasat aneh merayap di tengkuk Maman. Entah mengapa, ia merasa dingin di kantor ini tidak wajar. Seperti ada dua tarikan kutub es yang saling bertolak belakang namun sama-sama mengincarnya. Semalam, ia ditarik oleh pelukan kehangatan vanilla Siska yang terlalu indah untuk menjadi nyata, sebuah surga yang diam-diam menyembunyikan taring. Dan hari ini, ia berjalan menuju badai salju milik Freya yang siap membekukannya hidup-hidup. Firasat itu membisikkan sebuah peringatan samar, bahwa di masa depan, bukan tidak mungkin kedua badai besar ini akan bertabrakan tepat di atas kepalanya, menghancurkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki.

Ruang rapat utama Divisi Pemasaran, atau yang biasa disebut Meeting Room A, hari itu sama sekali tidak terasa seperti tempat untuk bertukar ide. Ruangan besar bernuansa minimalis modern itu terasa seperti lemari pendingin jenazah di ruang forensik rumah sakit.

AC sentral gedung memang disetel di suhu terendah—mungkin 16 derajat celcius—oleh staf GA. Tapi semua orang di ruangan itu tahu dengan pasti, bukan mesin pendingin buatan Jepang itu yang membuat ruangan ini membeku hingga menusuk tulang.

Sumber kedinginan yang sebenarnya, pusat dari segala teror dan aura intimidasi itu, sedang duduk diam di ujung meja panjang berbentuk oval.

Freya. Sang Ratu Es. Ia duduk di kursi utama—sebuah kursi kulit hitam premium dengan sandaran leher tinggi yang dirancang khusus untuknya, membuatnya tampak seperti seorang Ratu Villain yang sedang menduduki singgasananya. Tidak seperti eksekutif pada umumnya yang sibuk menunduk mengecek ponsel atau membolak-balik tablet sebelum rapat dimulai, Freya tidak melakukan gerakan tidak perlu itu. Ia duduk tegak lurus, posturnya sempurna tanpa cela. Kedua tangannya terlipat rapi di atas meja kayu mahoni yang mengkilap, sementara matanya menatap tajam namun kosong ke arah layar proyektor putih yang belum menyala di seberang ruangan.

Lihat selengkapnya