CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #1

Chapter 1: Sebelum Cinta Masuk

Ruang rapat itu terlalu sempurna.

Kaca bening dari lantai ke langit-langit. Meja kayu mahal yang permukaannya memantulkan wajah siapa pun yang duduk di sana dengan kejujuran yang tidak selalu menyenangkan. Layar 8K memanjang di seluruh dinding, menampilkan grafik pertumbuhan perusahaan yang tidak masuk akal bagusnya — angka-angka yang naik seperti tidak pernah kenal kata lelah, seolah dunia sedang pamer ke siapa pun yang mau repot-repot melihat.

Kursi-kursi kosong tersusun rapi di sepanjang meja. Tidak ada yang duduk hari ini kecuali satu orang.

Arka Maheswara berdiri di depan layar itu, tangan di belakang punggung, dasi lurus, rambut rapi seperti baru keluar dari iklan produk perawatan rambut pria kelas atas yang skenarionya ditulis oleh orang yang belum pernah benar-benar punya masalah dalam hidup. Tiga puluhan. Tajam. Rahang yang terbentuk dari kombinasi genetika bagus dan kebiasaan tidak pernah tersenyum sembarangan.

Wibawa CEO yang sudah dilatih sejak lahir — bukan dipelajari, tapi diwariskan seperti warisan yang tidak bisa ditolak.

Ia menatap ruangan itu lama.

Diam.

Bukan diam karena sedang berpikir tentang strategi perusahaan. Bukan diam karena menghitung proyeksi kuartal berikutnya. Ia diam dengan cara orang yang sedang bicara pada sesuatu yang tidak terlihat — atau mungkin pada dirinya sendiri, yang pada titik tertentu tidak lagi bisa dibedakan.

"Sekarang kita masuk scene satu film ini," katanya akhirnya. Tenang. Tapi dengan nada orang yang sudah bosan pada hidupnya sendiri sejak pagi. "Scene di mana aku harus jadi CEO ideal. Karena Tuhan, penulis, dunia, atau siapa pun itu... lagi naroh aku di role ini."

Ia menatap grafik di layar. Grafik yang terlalu bagus. Terlalu sempurna. Seperti hidupnya.

Slide berganti sendiri.

Tidak ada yang menyentuh remote. Remote bahkan masih tergeletak di ujung meja, jauh dari jangkauan siapa pun.

"Ciee... ciee... ciee."

Suara itu muncul dari mana-mana dan tidak dari mana-mana — seperti pikiran yang tiba-tiba punya mulut sendiri dan memutuskan untuk digunakan tanpa izin. Nada sinis. Sedikit usil. Sangat, sangat menyebalkan dengan cara yang sulit dijelaskan secara ilmiah.

Arka memejamkan mata.

Pasrah adalah kata yang terlalu dramatis. Ini lebih ke... menerima kenyataan bahwa hidupnya memang seperti ini sekarang.

"Gue belum manggil elo!"

"Aku akan selalu muncul... kalau rating emosimu naik, Arka. Film kita baru jalan tiga menitan, tapi emosi kamu langsung nge-gas gitu. Penonton baru duduk, popcorn belum habis."

Arka menghela napas panjang. Napas orang yang tahu hidupnya ditulis oleh seseorang yang iseng dan tidak punya batas. Napas orang yang sudah terlalu lelah untuk marah tapi juga belum cukup pasrah untuk diam.

Pintu ruang rapat terbuka.

Masuklah Danu Pradipta dengan cara yang khas — tidak terburu-buru, tidak dramatis, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan fakta bahwa hari ini pun tidak akan berbeda dari kemarin. CFO paling deadpan se-Indonesia. Akhir dua puluhan, wajah yang ekspresi defaultnya adalah "aku melihat segalanya dan tidak terkesan dengan apapun." Ia membawa tablet dan dua cangkir kopi — karena Danu adalah tipe orang yang selalu ingat membawa kopi bahkan ketika dunia sedang tidak masuk akal.

"Itu slide yang barusan... ganti sendiri lagi?" tanyanya, menatap layar dengan nada orang yang sudah menduga jawabannya tapi tetap bertanya demi formalitas.

"Iya." Arka tidak menoleh. "Dan jangan bilang ini glitch system. Kita berdua tahu ini bukan kesalahan komputer."

Danu menaruh kopi di meja. Duduk. Menatap layar sebentar. Menatap Arka sebentar. Lalu menghela napas dengan cara orang yang sudah menghitung berapa kali ia harus melakukan ini dalam satu minggu.

"Iya." Ia meletakkan tablet dengan hati-hati. "Ini dunia... semesta film ini... kayaknya lagi PMS."

Arka mau bicara —

Semua lampu di ruang rapat ngedip dua kali. Bukan mati. Hanya berkedip, seperti isyarat morse dari sesuatu yang tidak punya tubuh tapi punya selera humor yang meragukan.

"Oops, sorry-sorry! Itu aku. Lagi ngetes ambience. Hasilnya bagus kan?"

Arka menatap langit-langit. Tatapan yang ia peruntukkan pada CCTV metafisik yang rupanya sudah lama merekam hidupnya. "Elo kalau mau gangguin kami, minimal... bilang-bilang dulu kek."

"Nggak seru kalau izin dulu, Ka."

Danu memijat pelipisnya dengan dua jari. Perlahan. Metodis. Seperti sedang mencoba memijat keluar rasa sakit kepala yang sudah jadi tetap tinggal.

"Hadeeeh. Ini baru scene satu." Ia menatap kopi di tangannya. "Tapi gue udah tau arc Arka bakal kacau. Tolong, dunia... pelan-pelan dong masukin dia. Dia ini manusia, bukan karakter gacha yang bisa langsung di-deploy ke event terbaru."

Arka menatap grafik di layar lagi.

Tapi tatapannya memudar — seperti mata yang sedang melihat sesuatu tapi pikirannya sudah berada di tempat lain. Fokusnya ditarik ke sesuatu yang tidak ada di ruangan ini, tidak ada di lantai ini, tidak ada di kota ini. Sesuatu yang tidak punya nama tapi punya berat yang nyata di dada.

"Nu," katanya pelan — nada yang berbeda dari nada CEO-nya. Lebih rendah. Lebih manusia. "Elo pernah ngerasa nggak... ada sesuatu yang nunggu elo di tempat yang bahkan elo sendiri nggak kenal?"

Lihat selengkapnya