CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #2

Chapter 2: OTW (dan Tidak Ada yang Tahu ke Mana Tepatnya)

Layar monitor Arka masih menampilkan foto itu.

Desa pesisir. Rumah panggung. Air yang terlalu tenang untuk sebuah kebetulan. Langit yang terlalu biru untuk sebuah hari kerja biasa di Jakarta.

Ia sudah kembali duduk di kursi kerjanya — postur sempurna, dasi masih lurus, kopi di meja belum disentuh sejak tadi. Secara penampilan, ia terlihat seperti CEO yang sedang berpikir tentang kuartal berikutnya, atau strategi ekspansi, atau hal-hal lain yang seharusnya ada di kepalanya siang ini.

Tapi matanya berat. Bukan mengantuk. Lebih seperti ditarik — ke arah yang tidak bisa ia jelaskan dengan spreadsheet mana pun, tidak bisa ia navigasi dengan GPS mana pun, tidak bisa ia analisis dengan data yang bahkan sudah ada di depan matanya.

"Bos?!"

Danu muncul dari pintu dengan dua gelas kopi baru — karena yang tadi sudah dingin dan tidak ada yang meminumnya, dan Danu adalah orang yang percaya bahwa kopi hangat adalah satu-satunya konstanta yang bisa diandalkan dalam hidup yang tidak stabil ini.

"Lo bengong selama lima menit lho." Ia menaruh cangkir di meja dengan hati-hati. "Kalau itu meditasi, itu versinya bugged."

Arka tidak menjawab.

Di layar, spreadsheet yang tadi sudah kembali normal tiba-tiba nge-glitch lagi. Bukan rusak — lebih seperti bernapas. Cell-cell angka bergetar pelan, satu per satu, seolah sedang menyusun sesuatu. Lalu berhenti. Lalu — dalam font yang tidak ada dalam pengaturan sistem mana pun di komputer itu — dua kata muncul menggantikan semua angka yang tadi:

KE SANA.

Danu menaruh kopinya. Mundur satu langkah. Menatap layar dengan ekspresi seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak ingin ia lihat tapi sudah terlanjur.

"NOPE." Ia mengangkat satu tangan — tegas, seperti menolak tawaran yang bahkan belum selesai diucapkan. "No, no, no. Ini nggak normal lagi. Komputer kamu ngetik sendiri. Ini bukan glitch, ini bukan virus, ini—"

"Komputer gue bisa ngetik sendiri, Nu," potong Arka, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang komputernya baru saja mengembangkan kehendak bebas.

"Bisa dong. Emang ceritanya kamu harus cepet pergi. Tiket pesawat tidak menunggu siapa pun, termasuk CEO."

Danu melempar pandangan ke langit-langit ruangan. Pandangan orang yang sudah kehabisan reaksi yang proporsional. "Bisa nggak, elo," ia mendesis ke udara, "minimal kasih jeda sehari? Ini baru scene tiga. Boss gue nongolnya juga baru dua scene. Dia belum sempat minum kopi dengan benar satu kali pun sejak tadi pagi."

"Justru itu. Minum kopinya bisa di pesawat, Nu."

"ORANG LAIN NGGAK BISA MINUM KOPI DI KONDISI SEPERTI INI—"

Arka berdiri.

Gerakannya lambat tapi mantap — seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu jauh sebelum kepalanya sendiri sempat ikut rapat dan memberikan persetujuan. Ia menyentuh layar monitor. Tepat pada tulisan "KE SANA" — jarinya menyentuh kaca dingin itu selama dua detik.

Layar langsung normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Sunyi.

"Kita harus ke Balikpapan," kata Arka.

Danu berhenti bernapas. Durasi yang cukup panjang untuk medis khawatir.

"Hari ini?!" Suaranya naik setengah oktaf dengan cara yang sangat tidak Danu. "Bos. Kita punya meeting besar tiga jam lagi. Investor dari Singapura. Yang sudah dijadwalkan enam minggu sebelumnya. Yang kalau dibatalkan, mereka—"

"Meeting bisa diundur."

"Yang ini—"

"Nggak bisa?"

"Yang ini TIDAK—"

Lampu kantor redup. Sepersekian detik. Lalu kembali terang — dengan cara yang terlalu presisi untuk disebut kebetulan, terlalu halus untuk disebut kerusakan.

Danu menatap lampu itu. Lama. Dengan mata yang perlahan menyipit.

"ELO JANGAN IKUT-IKUTAN NYURUH YE?!"

"Aku cuma kasih ambience aja, Nu. Supaya lebih dramatis."

"DRAMATIS APANYA—"

********

Arka sudah menuju pintu ketika Rani Sasmara muncul dari arah berlawanan di koridor.

PR Manager Maheswara Group. Akhir dua puluhan. Blazer abu-abu yang dipilih dengan sangat teliti setiap pagi — bukan karena ia tidak punya pilihan lain, tapi karena abu-abu adalah warna orang yang ingin terlihat netral ketika sebenarnya tidak. Wajahnya dalam mode kerja penuh: tablet di tangan, langkah heels yang teratur, ekspresi yang dirancang untuk tidak membocorkan apa pun.

"Bos. Agenda meeting sudah saya susun ulang. Saya juga sudah—"

Arka lewat begitu saja.

Rani minggir setengah langkah — bukan karena kaget, tapi karena refleks bertahun-tahun bekerja dengan seseorang yang kadang bergerak seperti sistem yang sedang proses ulang.

Danu menyusul dengan langkah cepat, berbisik tanpa menoleh. "Dia lagi kerasukan takdir, Ran. Bukan salah lo."

Rani memicingkan mata. "Takdir macam apa yang bikin CEO jalannya kayak aplikasi nge-bug?"

Lihat selengkapnya