Dermaga itu tidak istimewa.
Papan kayu tua yang sudah kenyang menahan beban bertahun-tahun — cat terkelupas di sana-sini, tiang-tiang yang berdiri tidak lagi tegak sempurna tapi juga belum mau roboh, celah-celah kecil di antara papan yang memperlihatkan air gelap di bawahnya. Bukan tempat yang akan muncul di halaman pertama hasil pencarian wisata Balikpapan. Bukan tempat yang akan dipilih oleh siapa pun yang datang dengan koper bermerek dan sepatu yang harganya lebih dari gaji bulanan nelayan di sekitar sini.
Tapi begitu MPV hitam berhenti di ujung jalan kampung dan Arka melangkah keluar — tarikan itu makin kuat.
Bukan ilusi. Bukan sugesti. Lebih seperti ada benang tak kasat mata yang satu ujungnya entah di mana di dalam dada ini, dan ujung satunya lagi ada di suatu tempat di depan sana — dan semakin ia mendekati dermaga itu, semakin benang itu terasa, bukan ditarik dengan paksa tapi mengencang dengan kesabaran sesuatu yang tahu ia pada akhirnya akan datang juga.
Ia berjalan ke depan tanpa menunggu yang lain.
Danu menyusul sambil meregangkan kaki yang sudah protes sejak tadi — tulang-tulangnya bersuara dengan cara yang tidak pernah terjadi lima tahun lalu dan sekarang terjadi terlalu sering. Di belakangnya, Rani turun dari MPV dengan anggun — langkah yang terukur, postur yang terjaga, tangan kiri memegang tas dengan cara yang benar — sampai ujung heels-nya masuk ke celah papan dermaga.
KRAK.
Suara yang tidak besar tapi sangat jelas di udara pesisir yang sepi.
Rani berhenti. Menatap kakinya. Menatap papan dermaga. Kembali menatap kakinya.
"...serius?!"
Danu menoleh. Ekspresinya tidak berubah satu milimeter pun — tapi matanya bicara banyak sekali, dengan bahasa yang sangat fasih dan sangat tidak sopan. "Ya Tuhan, Rani. Elo mau maku-bumi dermaga kayu ini pake heels?!"
"Emang ini salah gue?!" Rani mendesis, menarik kakinya — yang nyangkut lagi, untuk kali kedua, dengan presisi yang mustahil kalau tidak disengaja oleh sesuatu. Matanya melirik tajam ke arah udara di sekitarnya. "Salahin noh bagian wardrobe — kenapa nggak baca skenario? Sudah tau ada set dermaga, kenapa juga gue dipakein sepatu yang bisa masuk permukaan berpori."
"Dermaga: 1. Rani: 0."
Suara itu muncul dengan nada yang sangat menikmati momen ini.
Rani membeku total. Menoleh kanan. Menoleh kiri. Mendongak ke langit dengan ekspresi seseorang yang baru saja menyadari bahwa bahkan perjalanan memalukan ini pun sedang dikomentari.
"SIAPA ITU?!"
"Ran." Arka menoleh sebentar — ia sudah beberapa langkah di depan. Nada suaranya antara sabar dan lelah dengan porsi yang seimbang. "Kalian berdua ini kenapa? Dari awal berangkat sampai sekarang udah kayak Tom & Jerry."
"PR kita hampir ditelan dermaga, Bos," lapor Danu dengan nada resmi yang tidak pantas untuk situasi sepenting ini.
Rani akhirnya melepas kedua sepatunya. Satu per satu. Dengan ekspresi orang yang sedang menegosiasikan harga diri dengan dirinya sendiri dan kalah. Telapak kakinya mendarat di papan kayu yang kasar dan hangat terkena matahari dengan cara yang sama sekali tidak ada dalam rencana harinya.
Ia menatap sepatu di tangannya. Menatap dermaga. Menatap langit.
"Sudah tau ada set dermaga, masa gue disuruh tampil elegan." Suaranya pelan — lebih ke monolog dari pada keluhan. "Siapa sih sutradaranya?!"
Tidak ada yang menjawab. Tapi angin bertiup sedikit lebih kencang dari tadi — dengan cara yang terlalu tepat waktu, dengan nada yang terlalu mirip tawa yang disembunyikan.
********
Dermaga itu pendek. Ujungnya menghadap ke deretan rumah panggung yang berdiri di atas air dengan cara yang sudah berlangsung puluhan tahun dan tidak berniat berubah — beberapa dekat ke tepi, beberapa menjorok ke laut, dihubungkan oleh jembatan kayu kecil yang lebarnya cukup untuk dua orang berpapasan kalau keduanya mau sedikit mengalah.
Kehidupan yang tenang. Teratur dengan caranya sendiri. Jauh — sangat jauh — dari kosakata seperti quarterly report, board meeting, dan stakeholder alignment.
Arka berjalan pelan di atas papan kayu. Setiap langkahnya terasa berbeda dari langkah di lantai marmer kantornya, dari trotoar Jakarta, dari mana pun yang selama ini ia kenal sebagai "tempat yang ia kunjungi." Lebih nyata. Lebih berat. Seperti tanah — atau dalam hal ini, kayu tua yang sudah kenyang menyimpan cerita — sedang berkomunikasi sesuatu lewat telapak kaki yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang ada di kamus mana pun.
Lalu papan-papan di bawah langkahnya menyala.
Bukan terang menyilaukan. Tidak ada yang perlu memalingkan muka. Lebih seperti semburat hangat yang naik dari dalam kayu — warna yang tidak bisa diciptakan oleh lampu mana pun karena bukan dari sumber yang bisa dibeli — muncul tepat di bawah setiap langkah Arka, mengikutinya dengan sabar.
Danu berhenti.
Menatap papan yang menyala. Menatap punggung Arka yang terus berjalan. Menatap papan lagi.
"Bos..."
Papan menyala sekali lagi, lebih jelas dari tadi.
"YA TUHAN." Danu mundur setengah langkah. Satu langkah. "Ini cutscene. Ini beneran cutscene kayak di game RPG. Gue nggak mau terlibat. Gue mau jadi NPC hari ini."
"Jangan lebay, Nu." Rani melangkah hati-hati tanpa sepatu — tumitnya sakit, tapi tidak akan ia akui. "Ini cuma efek cahaya matahari yang memantul dari—"
Papan menyala sekali lagi. Lebih lama. Lebih jelas. Tepat di bawah langkah Arka.
Rani menelan ludah. Menatap papan. Menatap langkah Arka. Menatap papan lagi.
"Oke." Suaranya turun setengah oktaf. "Fiks. Ini memang cutscene."
Arka tidak mendengarkan mereka.
Matanya sudah terkunci pada sebuah rumah di ujung — rumah panggung sederhana dengan teras menghadap laut, cat birunya memudar dengan cara yang indah karena jujur, ada jemuran di samping yang berisi pakaian biasa orang biasa, ada pot bunga di sudut teras yang tidak ditata untuk estetika tapi tumbuh karena dirawat, ada kehidupan nyata di sana — bukan simulasi, bukan set, bukan konstruksi — kehidupan yang tidak tahu sedang dilihat.
Rumah itu seperti membalas tatapannya.