CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #4

Chapter 4: Kantor Cabang yang Tidak Ada (Sampai Terpaksa Ada)

Hotel bintang empat di pusat Balikpapan itu terlalu sepi untuk menampung tiga orang yang membawa sebanyak ini urusan.

Kamar Arka: sudut kiri. Kamar Rani: sudut kanan. Kamar Danu: di tengah, karena ia sudah belajar sejak lama bahwa posisi di tengah adalah posisi terbaik untuk orang yang tugasnya menjaga keseimbangan antara dua kutub yang tidak selalu setuju satu sama lain.

Mereka bertemu di kamar Arka tiga puluh menit setelah check-in.

Danu datang pertama. Sudah berganti pakaian kasual, membawa laptop, membawa muka yang siap mendengar penjelasan panjang. Rani datang dua menit kemudian — blazer masih terpasang, tapi satu kancing paling atas sudah dilepas, yang dalam bahasa Rani berarti situasi sudah cukup serius untuk tidak perlu lagi pura-pura semuanya baik-baik saja.

Arka berdiri di depan jendela kamarnya. Memandang kota di bawah — gedung-gedung yang masih rendah dibanding Jakarta, langit yang lebih banyak terlihat karena tidak ada yang menghalangi, dan di kejauhan, kalau matanya cukup baik, garis laut yang gelap.

"Kantor cabang," katanya akhirnya. Tanpa menoleh. Nada yang tidak bisa diidentifikasi dengan pasti sebagai marah atau kagum.

Rani duduk di kursi dekat meja. Punggung lurus. "Iya."

"Yang tidak ada."

"Yang belum ada." Koreksinya halus tapi disengaja.

Danu menatap langit-langit sebentar — cara seseorang yang sedang meminta kekuatan dari sumber yang ia sendiri tidak yakin ada. "Ran... elo bilang ke ibu itu — ke ibu dari perempuan yang baru kita kenal setengah jam lalu — bahwa kita punya kantor cabang di Balikpapan."

"Iya."

"Yang tidak ada."

"Yang belum ada."

"Rani—"

"Danu." Rani menatapnya. Tenang. Dengan cara tenang yang tidak betul-betul tenang. "Saya perlu sesuatu yang bisa jadi alasan kita ada di sana. Yang masuk akal. Yang tidak bikin ibu itu curiga lebih jauh dari yang sudah ia curigai."

"Dan pilihan lo adalah berbohong soal kantor cabang?!"

"Pilihan saya adalah memberikan konteks yang terdengar masuk akal." Ia memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Dan itu berhasil. Ibu Lira tidak bertanya lebih jauh. Lira tidak menolak tawaran. Kita masih punya jalan masuk."

Arka akhirnya menoleh.

Ia menatap Rani dari jarak tiga meter dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca dengan mudah — dan Arka bukan orang yang ekspresinya mudah tidak terbaca.

"Jalan masuk untuk apa, Rani?"

Rani tidak menjawab langsung. Itu sendiri sudah jawaban.

"Jalan masuk untuk apa?" Arka mengulang. Lebih pelan. Lebih langsung.

"Untuk survei, Bos." Senyumnya kecil, terkontrol. "Kan itu yang kita bilang tadi."

Hening.

Danu menutup laptopnya. Menaruh di meja. Ini bukan situasi yang bisa diselesaikan sambil multi-tasking.

"Oke." Ia menyilangkan tangan. "Gue mau clear dulu satu hal. Kita ke sini karena bos gue ini—" ia menunjuk Arka "—tiba-tiba dapat 'panggilan semesta' yang kita semua tahu artinya apa karena semesta ini udah nggak bisa jaga rahasia sejak scene satu. Kita dateng ke dermaga itu karena literally komputer ngetik sendiri nyuruh kita ke sana. Dan sekarang kita punya..." ia berhenti, memilih kata yang tepat, "...komitmen palsu senilai satu kantor cabang yang harus kita realisasikan supaya kita nggak ketahuan bohong sama ibu orang."

Lihat selengkapnya