CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #5

Chapter 5: Tawaran yang Tidak Seharusnya Sulit Dijawab

Pagi di pesisir selalu mulai dari suara dulu.

Sebelum cahaya. Sebelum aktivitas. Sebelum siapa pun bisa memutuskan hari ini akan seperti apa — suara sudah ada duluan. Air yang bergerak di bawah rumah panggung dengan ritme yang tidak pernah berubah. Burung yang tidak peduli jam berapa. Mesin perahu yang menyala di kejauhan, bersiap, pergi. Kehidupan yang tidak menunggu siapa pun untuk siap.

Lira sudah duduk di teras sejak sebelum matahari benar-benar menyelesaikan pekerjaannya naik ke posisi yang layak.

Secangkir teh di tangan. Kaki ditelungkupkan di papan teras. Matanya ke laut — tapi pikirannya ada di suatu tempat yang tidak punya koordinat geografis.

Tawaran kemarin masih ada di kepalanya.

Bukan karena menggiurkan secara finansial — ia belum tahu detailnya, belum ada angka yang disebut, belum ada kontrak yang ditunjukkan. Tapi sesuatu dari tawaran itu, atau mungkin dari cara tawaran itu disampaikan, atau mungkin dari siapa yang ada di ruangan itu ketika tawaran itu diucapkan — sesuatu darinya menempel dan tidak mau pergi tidur malam tadi.

"Sudah bangun dari tadi?"

Ibu Lira muncul dari dalam dengan langkah yang selalu pelan, selalu tidak mengejutkan, seperti kehadiran yang sudah menjadi bagian dari udara rumah ini sejak lama.

"Iya, Mèk." Lira menggeser sedikit — memberi ruang di sebelahnya. "Tadi malam kepikiran terus."

Ibu duduk. Tidak terburu-buru menanya apa yang dipikiran. Itu caranya — memberi ruang untuk hal-hal datang dengan sendirinya.

Mereka duduk berdampingan menghadap laut selama beberapa menit tanpa berkata apa-apa. Ini pun sudah menjadi bahasanya sendiri — bahasa diam yang hanya bisa dipahami oleh dua orang yang sudah cukup lama berbagi ruang dan tidak perlu mengisi setiap jeda dengan kata.

"Tentang tawaran itu?" tanya Ibu akhirnya.

"Tentang banyak hal." Lira menyeruput tehnya. "Tawaran itu. Orangnya. Kenapa tiba-tiba ada orang Jakarta di dermaga kita kemarin."

"Mèk lihat kamu tadi." Ibu menatap laut juga — tidak ke Lira. "Waktu kamu keluar dari pintu. Cara kamu berhenti."

Lira tidak menjawab.

"Kamu tidak langsung sapu lagi kayak biasanya," lanjut Ibu, pelan. "Kamu berdiri dulu. Sebentar. Mèk lihat dari dalam."

Masih tidak ada jawaban dari Lira.

Ibu Lira tersenyum kecil — bukan senyum yang menggoda atau mengejek. Senyum orang yang sudah melihat banyak hal dan belajar bahwa tidak semua dari mereka perlu dikomentari.

"Orang Jakarta itu..." Lira mulai, tapi berhenti.

"Apa?"

"Nggak ada apa-apa, Mèk." Ia membuang pandangan ke air. "Cuma aneh aja. Baru ketemu kemarin, tapi rasanya kayak bukan pertama kali ketemu. Aneh banget."

"Itu bukan aneh." Ibu mengambil cangkir teh dari tangan Lira — memindahkannya ke tangannya sendiri, minum satu teguk, lalu mengembalikan. Gerakan yang sudah dilakukan ribuan kali. "Itu artinya dunia sudah kenal mereka duluan sebelum kamu."

Lira mengerutkan kening. "Apa maksudnya, Mèk?"

"Artinya..." Ibu berdiri, merapikan kainnya, "kalau mereka kembali lagi hari ini — itu bukan kebetulan, Nak."

Ia masuk ke dalam.

Lira menatap pintu yang tertutup perlahan. Lalu menatap lautnya lagi.

"Ibu kamu itu impressive banget," suara itu muncul, duduk di tepi teras seperti sesuatu yang tidak punya berat. "Sudah tahu padahal belum di-brief."

"Kalau kamu muncul pagi-pagi begini," kata Lira ke udara, datar, "berarti hari ini tidak akan normal."

"Tidak ada hari yang normal sejak chapter satu, Lira."

"Iya. Itu yang aku khawatirkan."

********

Mereka datang jam sembilan.

Lihat selengkapnya