CEO BUCIN: Cinta Itu Investasi Nekat

Eko Witjaksono
Chapter #6

Chapter 6: Kantor yang Lahir dari Kebohongan (yang Kemudian Jadi Nyata)

Ruko itu tidak istimewa.

Dua lantai. Cat krem yang sudah agak kusam di bagian bawah. Kaca depan yang masih bersih tapi bingkainya butuh cat ulang. Terletak di jalan yang tidak terlalu ramai tapi tidak sepi — tipe lokasi yang orang lewati setiap hari tanpa benar-benar memperhatikannya.

Danu berdiri di depannya dengan ekspresi orang yang sedang menghitung berapa banyak keputusan tidak masuk akal yang harus ia eksekusi dalam satu minggu.

"Ini..." ia memilih kata dengan sangat hati-hati, "...bisa jadi kantor."

"Bisa jadi?" Rani menatapnya dari samping.

"Dengan renovasi. Dan furnitur. Dan koneksi internet yang layak. Dan — " ia menghela napas, "— dan banyak hal lain yang biasanya butuh tiga bulan untuk disiapkan tapi kita punya tiga hari."

Di belakang mereka, Arka sudah masuk ke dalam ruko tanpa menunggu siapa pun selesai berdebat. Langkahnya seperti orang yang sudah memutuskan dan hanya butuh tempatnya menyesuaikan diri.

Danu dan Rani saling memandang. Lalu mengikuti.

********

Di dalam, ruangannya kosong. Lantai keramik yang masih bagus. Tembok putih yang bersih. Jendela di sisi kiri yang memberi cahaya alami cukup. Untuk sebuah ruko yang baru saja ditemukan kemarin lewat agen properti lokal yang dihubungi jam delapan pagi, kondisinya lebih baik dari yang mereka harapkan.

Arka berdiri di tengah ruangan kosong itu. Menatap sekelilingnya dengan cara yang tidak bisa diidentifikasi sebagai inspeksi bisnis biasa — ada sesuatu lain di baliknya, sesuatu yang lebih personal dari sekadar menilai aset properti.

"Lantai dua untuk server room dan workstation," katanya. "Lantai satu untuk area kerja terbuka dan meeting room kecil."

Danu mengetuk dinding. Solid. "Strukturnya bagus. Tapi tiga hari, Bos—"

"Dua hari." Arka menoleh. "Lira akan datang lihat lokasi hari Rabu."

Danu menutup mulutnya. Membuka lagi. Menutup lagi.

"Bos," katanya akhirnya, dengan nada orang yang sedang memilih antara profesionalisme dan kejujuran, "kita baru sewa ruko ini tadi pagi. Lira belum tanda tangan apa-apa. Kenapa kita terburu-buru seolah—"

"Karena kalau ia datang dan tidak ada apa-apa di sini, kita sudah bohong dua kali." Arka menatapnya. "Satu kebohongan sudah cukup merepotkan."

Danu tidak bisa membantah logika itu.

Rani sudah berjalan mengelilingi ruangan — menilai, mengukur dengan langkah, mencatat di tabletnya. Ada bagian dari dirinya yang menikmati ini: fase membangun sesuatu dari nol, mengubah ruang kosong menjadi sesuatu yang berfungsi. Itu yang membuatnya bertahan di bidang PR selama ini — bukan manajemen krisis, tapi konstruksi narasi.

"Untuk dua hari," katanya tanpa menoleh, "kita butuh: furnitur dasar, minimal tiga workstation aktif, koneksi internet, signage luar, dan — yang paling penting — seseorang yang terlihat seperti sudah bekerja di sini."

Danu menoleh. "Maksudnya?"

"Karyawan." Rani akhirnya menoleh. "Kalau Lira datang dan lihat kantor ini kosong, ia akan tahu ini baru. Kita perlu setidaknya dua-tiga orang yang terlihat seperti sedang bekerja."

"Kita mau casting karyawan palsu?!"

Lihat selengkapnya